Meneladani Akhlak Rasulullah: Kunci Keberhasilan Pendidikan di Era Modern
MALANG – Menjelang berakhirnya bulan suci Ramadan, suasana kebatinan umat Islam biasanya terbelah antara sukacita menyambut Idulfitri dan kesedihan melepas bulan penuh berkah. Namun, di balik itu semua, terdapat satu fenomena krusial yang sering luput dari perhatian: ujian kesabaran di detik-detik terakhir. Isu inilah yang diangkat secara mendalam oleh Dr. H. Abdul Jalil, M.Pd.I dalam Kultum Mutiara Hikmah di Masjid Ainul Yaqin, Universitas Islam Malang (UNISMA), Sabtu (14/03/2026).
Dalam tausiyahnya, Dr. Abdul Jalil menyoroti bahwa hari-hari terakhir Ramadan bukanlah waktu untuk melonggarkan ikat pinggang spiritual. Sebaliknya, ini adalah fase “ujian akhir” di mana konsistensi seorang hamba diuji melalui berbagai tekanan, mulai dari kelelahan fisik hingga hiruk-pikuk persiapan duniawi menyambut lebaran. Beliau mengingatkan bahwa hakikat puasa adalah menahan diri, dan ujian menahan diri yang paling berat justru muncul saat garis finis sudah terlihat.
“Banyak dari kita yang berhasil melewati awal Ramadan dengan semangat membara, namun mulai goyah di penghujung jalan. Kesabaran di akhir Ramadan adalah penentu apakah kita lulus sebagai pribadi yang bertakwa atau hanya sekadar menjalankan rutinitas lapar dan dahaga,” papar Dr. Abdul Jalil di hadapan jamaah sivitas akademika UNISMA.
Beliau juga menekankan pentingnya menjaga kejernihan hati di tengah fenomena konsumerisme yang biasanya meningkat menjelang Idulfitri. Menurutnya, kesabaran menghadapi ujian di akhir Ramadan mencakup kemampuan untuk tetap fokus pada ibadah ritual dan sosial, tanpa terdistraksi oleh euforia yang berlebihan. Penutupan Ramadan yang baik (husnul khatimah) ditandai dengan peningkatan kualitas kesabaran, baik sabar dalam menjalankan ketaatan, sabar menjauhi maksiat, maupun sabar dalam menghadapi ketetapan Allah.
Kultum ini diakhiri dengan pesan reflektif bagi seluruh warga kampus untuk menjadikan hari-hari terakhir ini sebagai momentum pembersihan sisa-sisa penyakit hati. Dengan kesabaran yang kokoh, Ramadan diharapkan meninggalkan jejak transformasi karakter yang permanen, sehingga kemenangan di hari Idulfitri benar-benar menjadi kemenangan bagi jiwa yang telah berhasil menundukkan ego dan nafsu.
00AdministratorAdministrator2026-03-14 12:55:522026-03-14 12:55:58Ujian Penutup di Gerbang Kemenangan: Refleksi Akhir Ramadan
Nganjuk – Mahasiswa Universitas Islam Malang yang Ditugaskan untuk mengikuti Program Safari Dakwah Ramadhan Bina Desa Aswaja Lembaga Dakwah PWNU Jawa Timur yang dilaksanakan di Kecamatan Ngluyu Kabupaten Nganjuk tidak hanya menyasar wilayah yang mudah dijangkau. Salah satu lokasi yang menjadi perhatian khusus adalah Dusun Suruh, Desa Lengkonglor, Kecamatan Ngluyu, Kabupaten Nganjuk, sebuah dusun terpencil yang berada di kawasan lembah di antara perbukitan dan masih cukup jarang tersentuh kegiatan dakwah secara intensif.
Sejak awal program ini diumumkan, Dusun Suruh memang menjadi salah satu wilayah yang diusulkan untuk mendapatkan perhatian khusus dari para dai.
Wakil Ketua MWCNU Ngluyu, Mujiadi, menyampaikan bahwa dirinya sejak awal memang berharap ada dai yang bersedia ditempatkan di wilayah tersebut.
“Sejak awal ketika ada pemberitahuan akan ada program Safari Ramadhan, saya langsung meminta agar ada dai yang ditempatkan di Dusun Suruh. Sebab di sana memang sangat jarang tersentuh kegiatan keagamaan dan masyarakatnya masih cukup awam dalam pemahaman agama,” ujarnya.
Dusun Suruh sendiri dikenal sebagai salah satu wilayah yang cukup terpencil di Kecamatan Ngluyu. Akses menuju dusun tersebut terbilang tidak mudah karena kondisi jalan yang rusak parah serta letak geografis yang berada di daerah lembah di antara perbukitan.
(Foto Jalan Desa Lengkong Lor – Dusun Suru)
Ketua Ranting NU Lengkonglor, Purnomo, menjelaskan bahwa kondisi geografis inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa wilayah tersebut jarang dijangkau oleh kegiatan dakwah.
“Memang akses ke sana cukup sulit. Jalan yang rusak dan lokasi dusun yang berada di lembah di antara bukit-bukit membuat Dusun Suruh jarang tersentuh kegiatan dakwah. Membutuhkan Waktu Hampir 1 Jam Ketika Ingin Keluar Dari Dusun Tersebut dan Sampai di Jalan Raya, Oleh Karena itu para dai yang bertugas di sana harus benar-benar kuat dan siap menghadapi kondisi lapangan,” ungkapnya.
Meski demikian, masyarakat setempat dikenal memiliki sikap yang ramah dan terbuka terhadap para pendatang, khususnya terhadap para dai yang datang untuk berdakwah dan mengajar agama.
Ketua Ta’mir Musholla di Dusun Suruh, Lasno, mengatakan bahwa masyarakat setempat pada dasarnya beragama Islam, namun sebagian besar masih membutuhkan bimbingan dalam memahami ajaran agama secara lebih mendalam.
“Di sini itu orangnya ya Islam, tetapi banyak yang belum mengetahui ilmunya secara mendalam, bisa dikatakan masih awam. Namun masyarakat di sini sangat senang apabila ada tamu, apalagi seperti para dai yang mau datang untuk berdakwah dan mengajar agama. Warga di sini sangat terbuka,” tuturnya.
Kondisi geografis yang terpencil juga menjadi tantangan tersendiri bagi para dai yang ditugaskan di wilayah tersebut. Selain akses jalan yang cukup sulit, jaringan komunikasi juga sangat terbatas dan suasana dusun yang jauh dari keramaian membuat aktivitas dakwah membutuhkan kesabaran dan ketekunan yang lebih.
Mayoritas masyarakat Dusun Suruh menggantungkan hidupnya dari sektor pertanian, khususnya sebagai petani jagung. Setiap keluarga di wilayah tersebut rata-rata memiliki lahan pertanian jagung dengan luas minimal antara satu hingga dua hektar, bahkan tidak sedikit yang memiliki lahan hingga puluhan hektar.
Pada masa panen seperti saat ini, para petani biasanya menghabiskan hampir seluruh waktunya di ladang, mulai dari pagi hingga sore hari. Kondisi ini membuat sebagian warga sering kali merasa sangat lelah ketika malam hari sehingga tidak selalu dapat mengikuti kegiatan keagamaan secara rutin di musholla.
Mahasiswa Universitas Islam Malang yang juga termasuk Salah satu dai yang bertugas di Dusun Suruh. Luqman, menjelaskan bahwa kondisi tersebut menjadi pertimbangan dalam menentukan pendekatan dakwah yang dilakukan oleh para dai.
“Mayoritas warga di sini adalah petani jagung, dan saat ini memang sedang memasuki masa panen. Banyak warga yang sejak pagi hingga sore berada di ladang sehingga ketika malam hari mereka sudah sangat lelah. Karena itu kami lebih memfokuskan pembinaan kepada anak-anak, terutama dalam pengajaran dasar-dasar agama seperti fiqih dan bacaan sholat,” ujarnya.
(Foto Bersama Anak-anak Setelah Mengaji)
Selain pembinaan kepada anak-anak melalui kegiatan mengajar Al-Qur’an dan penguatan pemahaman fiqih dasar, para dai juga tetap memberikan kajian keagamaan kepada masyarakat yang hadir di musholla pada malam hari Ketika Setelah Sholat Tarawih.
Kajian tersebut lebih menekankan pada pentingnya menjaga ibadah di tengah kesibukan bekerja serta memberikan pemahaman dasar tentang amaliyah dan tradisi keagamaan dalam lingkungan Nahdlatul Ulama.
(Foto Ketika Kultum Setelah Sholat Tarawih)
Selain melakukan kegiatan dakwah dan pembinaan keagamaan, para dai juga turut melakukan kegiatan sosial berupa perbaikan fasilitas musholla yang sudah lama tidak terawat.
Mahasiswa Universitas Islam Malang yang menjadi Salah satu dai yang bertugas di Dusun Suru. Muflih, menyampaikan bahwa mereka bersama masyarakat setempat melakukan kerja bakti membersihkan dan menata kembali lingkungan musholla agar lebih nyaman digunakan untuk beribadah.
“Kami juga melakukan perbaikan pada kamar mandi musholla yang sebelumnya sudah lama tidak digunakan. Tempat wudhu yang cukup kotor kami bersihkan, begitu juga dengan area dalam musholla yang kami tata ulang agar lebih nyaman dan menenangkan ketika digunakan untuk beribadah,” jelasnya.
(Foto Ketika Membersihkan Tempat Wudhu)
Melalui berbagai kegiatan tersebut, para dai berharap keberadaan mereka di Dusun Suruh dapat memberikan manfaat bagi masyarakat, khususnya dalam meningkatkan pemahaman agama serta menumbuhkan semangat beribadah di tengah kehidupan masyarakat pedesaan.
00AdministratorAdministrator2026-03-11 13:32:392026-03-11 13:34:09Menembus Dusun Terpencil, Mahasiswa UNISMA yang Tergabung dalam Tim Safari Dakwah Bina Desa Aswaja LDNU Jatim Hidupkan Syiar Islam di Dusun Suru
MALANG – Momentum bulan suci Ramadan sejatinya merupakan kawah candradimuka untuk melatih kepekaan spiritual sekaligus tanggung jawab sosial umat Islam. Pesan fundamental ini diuraikan dengan penuh kedalaman dalam sesi Kultum Mutiara Hikmah yang diselenggarakan pada Selasa, 10 Maret 2026, bertempat di Masjid Ainul Yaqin, Universitas Islam Malang (UNISMA).
Mengangkat tema besar mengenai “Pengabdian dan Kepedulian dalam Bulan Ramadan”, Prof. H. Mas’ud Said, MM., Ph.D. hadir sebagai penceramah utama. Beliau mengajak seluruh sivitas akademika untuk meredefinisi makna kepemimpinan dan interaksi sosial di era modern. Dalam paparannya, Prof. Mas’ud Said memberikan penegasan kuat bahwa model kepemimpinan yang ideal dan sejati adalah kepemimpinan yang tidak sekadar menduduki posisi struktural, melainkan kepemimpinan yang mampu membawa berkah serta terbukti memiliki kapasitas untuk menyelesaikan berbagai permasalahan konkret yang menjerat masyarakat. Sejalan dengan hal tersebut, kepedulian tidak boleh hanya berhenti pada retorika, melainkan harus termanifestasi sebagai bentuk kepekaan nurani yang tajam terhadap kesulitan yang tengah dipikul oleh orang lain di sekitar kita.
Lebih jauh, kultum ini secara spesifik menyoroti sebuah fenomena krisis kontemporer yang amat mendesak, yakni dampak destruktif dari disrupsi digital terhadap psikologi anak. Prof. Mas’ud Said menggarisbawahi terjadinya krisis psikologis yang secara masif melanda anak-anak pada rentang usia 10 hingga 15 tahun, sebagai akibat langsung dari paparan teknologi yang tidak terkendali.
Sebagai konklusi sekaligus solusi taktis, beliau mengingatkan para jamaah akan urgensi pembatasan penggunaan gawai (gadget) pada anak-anak. Tindakan preventif dan pembatasan yang tegas ini, menurut beliau, bukanlah bentuk pengekangan, melainkan sebuah kewajiban moral dan wujud pengamalan langsung dari perintah Allah SWT dalam Al-Qur’an: Qu anfusakum wa ahlikum nara—jagalah dirimu dan keluargamu dari siksa api neraka.
00AdministratorAdministrator2026-03-10 13:51:262026-03-10 13:51:49Kepemimpinan, Kepedulian, dan Perlindungan Generasi: Refleksi Ramadan Bersama Prof. Mas’ud Said di UNISMA
MALANG – Memasuki hari ke-19 di bulan suci Ramadan, umat Islam kembali diajak untuk merefleksikan esensi ibadah puasa yang tidak hanya berdimensi spiritual, tetapi juga sangat kental dengan dimensi sosial. Pesan mendalam ini disampaikan oleh Dr. H. Noor Shoodiq Askandar, SE., MM. dalam Kultum Mutiara Hikmah bertajuk “Zakat dan Kepedulian Sosial sebagai Penguat Solidaritas Warga Kampus” yang diselenggarakan di Masjid Ainul Yaqin, Universitas Islam Malang (UNISMA) pada Senin, 9 Maret 2026.
Dalam pemaparannya, Dr. Noor Shoodiq Askandar menyoroti pentingnya menjaga keseimbangan antara mengejar pencapaian ilmu pengetahuan di dunia akademis dan menumbuhkan kepedulian nyata terhadap masyarakat sekitar. Beliau secara spesifik mengutip tiga landasan ayat suci Al-Qur’an yang patut dijadikan pedoman hidup. Pertama, janji Allah untuk mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu pengetahuan. Kedua, sebuah peringatan tegas dalam Surah Adz-Dzariyat ayat 19 bahwa pada setiap harta yang dimiliki seseorang, mutlak terdapat hak bagi orang miskin, baik mereka yang secara terbuka meminta-minta maupun yang menjaga kehormatannya dengan menahan diri dari meminta. Ketiga, teguran keras yang termaktub dalam Surah Al-Ma’un, yang mendefinisikan para pendusta agama sebagai golongan orang yang gemar menghardik anak yatim dan enggan mendorong pemberian makan kepada fakir miskin.
Lebih lanjut, penceramah menjabarkan bahwa ajaran Islam telah menyediakan empat instrumen keuangan sosial yang sangat komprehensif, yakni zakat, infak, sedekah, dan wakaf (ZISWAF). Beliau berargumen bahwa jika instrumen-instrumen filantropi ini diimplementasikan dengan kepatuhan tinggi oleh umat, maka tingkat kesenjangan ekonomi di akar rumput niscaya akan menyusut secara signifikan. Beliau menegaskan bahwa menurunnya tingkat ketimpangan ekonomi ini berbanding lurus dengan peningkatan jaminan keamanan sosial di masyarakat. Sebaliknya, ketika kesenjangan ekonomi dibiarkan semakin melebar, maka tingkat kriminalitas di suatu wilayah akan ikut melonjak tajam. Untuk memperkuat argumennya, beliau memberikan analogi sederhana mengenai kondisi keamanan di masa lampau, di mana kendaraan seperti sepeda motor atau sepeda kayuh yang dibiarkan tidak dikunci di depan rumah akan tetap aman karena rendahnya tingkat kecemburuan sosial saat itu.
Dr. Noor Shoodiq Askandar juga menghadirkan contoh-contoh konkret mengenai implementasi sunnah kepedulian sosial yang secara historis mengakar dalam kehidupan sehari-hari masyarakat agraris dan pesisir Nusantara. Sebagai contoh, para petani padi di zaman dahulu memiliki kearifan lokal untuk tidak pernah membersihkan sisa panennya secara total di lahan sawah. Hal ini sengaja dilakukan agar para tetangga yang tidak memiliki lahan pertanian sendiri bisa ikut mencari sisa-sisa padi (ngasak) dan turut merasakan berkah panen tersebut. Begitu pula dengan kebiasaan peternak ayam yang selalu mengalokasikan sebagian hasil panennya untuk dibagikan kepada tetangga sekitar rumah, serta para nelayan yang dengan penuh kerelaan selalu memberikan tambahan tangkapan ikan kepada para pembeli maupun tetangganya. Praktik-praktik tradisional ini, menurut beliau, adalah wujud nyata dan murni dari bekerjanya instrumen keuangan sosial Islam di ranah budaya masyarakat.
Beranjak ke konteks yang lebih luas, penceramah memaparkan potensi ekonomi yang luar biasa dari kewajiban Zakat Fitrah di Indonesia. Dengan estimasi populasi nasional yang mencapai angka 280 juta jiwa, di mana lebih dari 85 persen di antaranya adalah pemeluk agama Islam, potensi penggalangan dana umat terbilang sangat masif. Beliau membuat simulasi hitungan sederhana: jika diasumsikan ada 200 juta penduduk muslim yang secara patuh menunaikan Zakat Fitrah sebesar Rp50.000 per kepala (setara dengan harga tiga kilogram beras kualitas baik), maka volume sirkulasi kekayaan yang didistribusikan kepada kelompok masyarakat miskin akan mencapai jumlah triliunan rupiah.
Penceramah kemudian menarik gagasan besar mengenai potensi filantropi ini ke dalam lingkup internal institusi UNISMA. Dengan total sumber daya manusia yang mencakup sekitar 800 orang dosen dan karyawan, potensi Zakat Fitrah yang bisa dihimpun dari lingkungan kampus ini saja sudah terbilang signifikan. Namun, beliau memberikan penekanan khusus bahwa potensi dari Zakat Mal (zakat harta kekayaan) para dosen dan karyawan UNISMA sejatinya jauh lebih raksasa lagi. Mengingat standar penghasilan bulanan para pendidik dan tenaga kependidikan di lingkungan UNISMA yang dinilai cukup tinggi, alokasi pemotongan sebesar 2,5 persen dari total penghasilan 800 karyawan tersebut akan bermuara pada dana filantropi yang luar biasa besar, terutama jika dikelola dengan serius sebagai sebuah gerakan institusional yang terpadu.
Kultum siang itu ditutup dengan sebuah penegasan kuat bahwa proses penyaluran dana zakat kepada delapan golongan yang berhak menerimanya (asnaf), khususnya kelompok fakir dan miskin, harus senantiasa dilakukan dengan tata kelola yang profesional. Dr. Noor Shoodiq Askandar mengajak seluruh elemen pimpinan, dosen, karyawan, dan mahasiswa UNISMA untuk bersama-sama menjadikan momentum bulan suci Ramadan ini sebagai titik tolak sebuah gerakan kebaikan kolektif. Secara spesifik, beliau menginisiasi agar kebiasaan mulia untuk saling menyantuni serta bergotong-royong memperbaiki fasilitas ibadah di sekitar lingkungan kampus, seperti musala-musala kampung, dapat terus dihidupkan dan dilestarikan. Beliau memungkas ceramahnya dengan pesan bahwa ibadah paripurna di bulan suci ini semestinya tidak hanya berfokus pada penguatan Habluminallah (hubungan vertikal dan ritual dengan Sang Pencipta), melainkan juga harus mewujud dalam penyempurnaan Habluminannas (hubungan horizontal dengan sesama manusia) melalui berbagai aksi nyata kepedulian sosial di akar rumput.
00AdministratorAdministrator2026-03-09 13:53:172026-03-09 13:53:17Zakat dan Kepedulian Sosial: Membangun Solidaritas dan Mengentaskan Ketimpangan dari Mimbar UNISMA
Pertama-tama kami mengucapkan terima kasih kepada Universitas Islam Malang yang sudah bekerjasama dengan baik selama ini dengan Djarum Foundation dalam Program pemberian Djarum Beasiswa Plus.
Sebagai kelanjutan Program Djarum Beasiswa Plus, maka dengan ini kami beritahukan bahwa Proses Seleksi Djarum Beasiswa Plus Tahun Ajaran 2026/2027 akan dimulai dengan tahapan sebagai berikut:
Organisasi: Aktif dalam organisasi kampus maupun luar kampus.
Larangan: Tidak sedang menerima beasiswa lain.
Mitra: Kuliah di perguruan tinggi yang bekerja sama dengan Djarum Foundation.
Dokumen yang Diperlukan:
Pas foto 4×6 berwarna (memakai jas almamater).
Scan Kartu Tanda Mahasiswa (KTM).
Scan Kartu Tanda Penduduk (KTP).
Scan Transkrip Nilai (semester 3).
Scan sertifikat aktif organisasi/prestasi.
Scan surat keterangan tidak menerima beasiswa lain dari kampus.
https://kemahasiswaan.unisma.ac.id/wp-content/uploads/2026/03/Djarunm.jpeg6301200AdministratorAdministrator2026-03-09 10:16:062026-03-09 13:56:57Djarum Beasiswa Plus Tahun 2026
MALANG – Memasuki hari ke-17 di bulan suci Ramadan, umat Islam kembali diingatkan untuk melakukan introspeksi mendalam terhadap kualitas ibadah yang dijalankan. Pesan reflektif ini menggema dalam Kultum Mutiara Hikmah yang disampaikan oleh Ir. Kh. Taqijuddin Alawy, MT. di Masjid Ainul Yaqin, Universitas Islam Malang (UNISMA) pada Sabtu, 7 Maret 2026. Beliau yang hadir mewakili Prof. Maskuri menyoroti fenomena ibadah yang kerap kali terjebak dalam sekadar rutinitas tanpa pemaknaan spiritual yang esensial.
Dalam ceramahnya, Ir. Kh. Taqijuddin Alawy menekankan pentingnya muhasabah atau evaluasi diri. Beliau mengajak jamaah untuk mempertanyakan apakah ibadah puasa dan salat yang dilakukan sudah mengalami peningkatan kualitas dibandingkan hari-hari sebelumnya, atau sekadar menahan lapar dan dahaga. Sering kali, ibadah dirasakan sebagai beban karena tidak dilandasi dengan ilmu dan pemahaman yang memadai.
Salah satu contoh nyata yang disoroti adalah kecenderungan umat untuk mengabaikan salat sunnah rawatib, seperti ba’diyah Isya, karena terburu-buru mengejar salat Tarawih. Padahal, salat sunnah tersebut berfungsi sebagai penambal atas ketidaksempurnaan salat wajib. Fenomena salat Tarawih yang dilakukan secara tergesa-gesa tanpa tuma’ninah demi mengejar waktu penyelesaian juga menjadi kritik tajam dalam kultum ini. Begitu pula dengan kegiatan tadarus Al-Qur’an yang kerap kali hanya berfokus pada kecepatan membaca tanpa memperhatikan kebenaran tajwid atau pemahaman maknanya.
Lebih lanjut, penceramah mengingatkan jamaah akan keseimbangan pemenuhan kebutuhan jasmani dan rohani. Jika jasmani membutuhkan asupan makanan dan minuman, maka rohani juga membutuhkan “makanan” berupa dzikrullah atau mengingat Allah. Kesibukan memikirkan kebutuhan duniawi sering kali membuat manusia melupakan asupan bagi jiwa mereka.
Sebagai penutup, Ir. Kh. Taqijuddin Alawy memberikan pesan menohok mengenai pengelolaan harta. Beliau mengingatkan bahwa harta yang dikumpulkan dengan susah payah tidak akan dibawa mati. Oleh karena itu, cara terbaik untuk mengamankan harta adalah dengan “mendepositokannya” di jalan Allah melalui sedekah dan infak, yang akan menjadi bekal abadi di akhirat kelak.
00AdministratorAdministrator2026-03-07 13:02:332026-03-07 13:30:36Menyempurnakan Ibadah Ramadan: Evaluasi Rutinitas, Ilmu, dan Amal
Malang- Hiasi bulan suci Ramdhan, Mahasiswa Penerima Beasiswa Cendekia Baznas Universitas Islam Malang (Unisma) mengajak anak-anak panti asuhan mengasah kreativitas dalam acara 1000 cahaya Ramadhan. Kegiatan digelar di Panti Asuhan Akhlakul Karimah Malang pada Rabu, (04/03/26), mulai pukul 15.30 hingga waktu buka puasa.
Kegiatan yang diinisiasi Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) pusat ini bertujuan menumbuhkan social responsibility para penerima beasiswa sebagai bentuk sosial mahasiswa melalui pengabdian kepada masyarakat. Mengusung tema “Pengalaman Ibadah Ramadhan yang Membahagiakan Bersama Panti Asuhan Akhlakul Karimah”, acara ini diikuti oleh 24 anak panti asuhan.
Rangkaian kegiatan meliput ice breaking, menghias kue, presentasi karya, hingga refleksi bersama. Kegiatan berlangsung dengan suasana yang interaktif dan penuh antusiasme. Acara kemudian ditutup dengan buka bersama.
Pengasuh panti, Jamilatul Hasanah atau yang akrab disapa Bu Cici, menyampaikan apresiasinya atas kegiatan tersebut.
“Kami sangat bersyukur dan berterima kasih. Adik-adik terlihat sangat senang. Mereka merasa diperhatikan dan tidak sendirian. Semoga kegiatan seperti ini bisa terus berlanjut dan menjadi motivasi bagi anak-anak,” ujarnya.
Sementara itu, Ahmad Alauddin, salah satu anak panti asuhan, mengaku kegiatan tersebut merupakan pengalam yang sangat menyenangkan.
“Kegiatannya sangat seru dan menarik. Kakak-kakak membantu kami melatih kreativitas,” katanya saat diwawancarai usai kegiatan.
“Terima kasih karena kakak-kakak sudah menghibur adik-adik kami. Saya berharap kegiatan semacam ini ada lagi tahun depan, ” tutupnya.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa penerima Beasiswa Cendekia Baznas Unisma berharap kehadiran mereka tidak hanya menghibur, tetapi juga memperkuat nilai kebersamaan dan kepedulian sosial di bulan Ramadan.
00AdministratorAdministrator2026-03-06 10:26:192026-03-06 10:26:19Awardee BcB Unisma Hidupkan Ramadan Anak Panti Lewat Kreativitas dan Kebersamaan
MALANG – Rangkaian kajian Mutiara Hikmah di Masjid Ainul Yaqin Universitas Islam Malang (UNISMA) pada Kamis (05/03/2026) menghadirkan nuansa reflektif yang mendalam. Dr. H. Muhammad Yunus, S.Pd., M.Pd. yang tampil sebagai penceramah, sukses menyita perhatian jemaah melalui sebuah pendekatan storytelling atau kisah analogi tentang seorang raja dan tiga orang stafnya, untuk menggambarkan esensi pengumpulan amal ibadah di bulan puasa.
Di hadapan para mahasiswa, dosen, dan karyawan yang hadir usai salat Zuhur, Dr. Yunus menceritakan sebuah kisah alegori. Alkisah, seorang Raja memanggil tiga staf kepercayaannya. Raja tersebut memberikan sebuah karung kosong kepada masing-masing staf dan memerintahkan mereka pergi ke hutan kerajaan untuk mengumpulkan buah-buahan terbaik.
“Staf pertama menjalankan perintah ini dengan penuh amanah. Ia memilih buah yang paling segar, matang, dan manis hingga karungnya penuh. Ia berpikir, buah ini untuk rajanya, maka harus yang terbaik,” kisah Dr. Yunus.
Namun, staf kedua memiliki niat yang berbeda. Ia mengira sang Raja yang sibuk tidak akan sempat memeriksa isi karungnya. Maka, ia memasukkan buah-buahan secara asal; ada yang segar, ada yang busuk, bahkan ia mencampurnya dengan dedaunan agar karung cepat penuh.
Lebih parah lagi staf ketiga. Ia sangat meremehkan perintah tersebut dan yakin karung itu hanya formalitas semata. “Staf ketiga ini hanya mengisi karungnya dengan rumput kering, ranting, dan sampah hutan asal karungnya terlihat menggembung dari luar,” lanjutnya.
Kejutan terjadi ketika ketiga staf itu kembali ke istana. Sang Raja sama sekali tidak membuka atau memeriksa isi karung mereka. Raja justru memerintahkan pengawal untuk memenjarakan ketiga staf tersebut di sel yang terpisah selama satu bulan penuh. Syaratnya: mereka tidak diberi jatah makanan dari istana dan hanya boleh memakan apa yang ada di dalam karung yang mereka bawa sendiri.
“Bisa ditebak akhirnya. Staf pertama hidup nyaman dan sehat selama sebulan karena bekal buahnya berkualitas. Staf kedua menderita sakit perut dan tersiksa karena harus memakan buah busuk dan dedaunan. Sedangkan staf ketiga, mati kelaparan di dalam selnya,” tegas Dr. Yunus.
Di penghujung kultum, akademisi UNISMA ini menarik benang merah yang menohok hati jemaah. “Raja itu adalah perumpamaan Allah SWT. Hutan adalah dunia, dan waktu sebulan di sel adalah perumpamaan alam kubur atau barzakh. Sementara karung itu adalah amal ibadah kita, termasuk puasa Ramadan yang sedang kita jalani saat ini,” paparnya.
Beliau mengingatkan bahwa Allah SWT tidak butuh pada amal hamba-Nya. Semua ibadah puasa, salat, dan sedekah yang dikumpulkan manusia di dunia, pada akhirnya akan dikonsumsi oleh diri mereka sendiri kelak di alam barzakh. Kultum ini menjadi tamparan keras bagi siapa saja yang masih menjalankan puasa sekadar formalitas, mencampur aduk amal baik dengan maksiat (seperti staf kedua), atau bahkan tidak beramal sama sekali (seperti staf ketiga).
00AdministratorAdministrator2026-03-05 14:27:452026-03-06 11:00:14Analogi “Tiga Staf Raja” di Mutiara Hikmah UNISMA: Dr. M. Yunus Ingatkan Kualitas Amal Menentukan Nasib di Alam Barzakh
MALANG (4/3/2026) – Diskursus pendidikan tinggi saat ini didominasi oleh istilah Outcome-Based Education (OBE) dan Independent Learner (Pembelajar Mandiri). Namun, jauh sebelum jargon-jargon akademik modern ini dirumuskan, Islam sesungguhnya telah meletakkan cetak biru pendidikan tersebut melalui apa yang disebut sebagai “Kurikulum Allah”.
Paradigma yang menggabungkan pedagogi modern dan teologi ini dikupas tuntas oleh Prof. Drs. H. Junaidi, M.Pd., Ph.D. dalam mimbar kultum Mutiara Hikmah di Masjid Ainul Yaqin, Universitas Islam Malang (UNISMA), Rabu (4/3) siang.
Di hadapan civitas akademika, Prof. Junaidi memaparkan bahwa kehidupan manusia di dunia hakikatnya adalah sebuah institusi pendidikan raksasa. “Allah SWT telah menurunkan Al-Qur’an dan As-Sunnah bukan sekadar sebagai bacaan ritual, melainkan sebagai silabus atau ‘Kurikulum Allah’ yang harus kita pelajari, pahami, dan aplikasikan,” tegas Pakar Pendidikan tersebut.
OBE: Menggeser Orientasi Menuju ‘Taqwa’
Dalam sistem pendidikan konvensional, pendekatan OBE menuntut institusi untuk fokus pada hasil akhir (kompetensi) yang dikuasai mahasiswa, bukan sekadar proses belajar mengajar. Menariknya, Prof. Junaidi mengontekstualisasikan OBE ke dalam ranah spiritual.
Menurutnya, “Kurikulum Allah” juga sangat berorientasi pada hasil (outcome). Jika kampus menargetkan lulusannya siap kerja dan profesional, maka Allah menetapkan Taqwa (ketakwaan) dan Mardhatillah (ridha Allah) sebagai Ultimate Outcome (hasil akhir tertinggi) dari seorang hamba.
“Segala ibadah kita, puasa, salat, hingga proses kita menuntut ilmu di kampus ini, outcome-nya harus jelas: menjadi Muttaqin (orang yang bertakwa). Jika kita belajar keras namun outcome spiritualnya nol, maka pendidikan kita gagal di mata Sang Pencipta,” urai Prof. Junaidi.
Karakter Independent Learner dalam Islam
Lebih lanjut, Prof. Junaidi menyoroti konsep Independent Learner yang belakangan digalakkan melalui kebijakan Merdeka Belajar. Ia menjelaskan bahwa Islam sejak awal menuntut umatnya untuk menjadi pembelajar mandiri. Perintah pertama yang turun kepada Nabi Muhammad SAW adalah Iqra’ (Bacalah)—sebuah instruksi aktif yang menuntut kemandirian dalam menggali ilmu, baik dari ayat Qauliyah (teks suci) maupun Kauniyah (fenomena alam).
“Seorang muslim yang sejati adalah independent learner. Ia tidak menunggu disuapi ilmu. Ia proaktif mencari kebenaran, memikirkan penciptaan langit dan bumi, dan mengambil hikmah dari setiap kejadian. Konsep Mukallaf (individu yang terbebani kewajiban syariat) adalah bukti bahwa kita dituntut untuk mandiri dan bertanggung jawab penuh atas kapasitas intelektual dan spiritual kita sendiri,” tambahnya.
Mengakhiri paparannya, Prof. Junaidi mengajak seluruh warga UNISMA untuk tidak mendikotomikan urusan duniawi dan ukhrawi. Mengadopsi sistem OBE dan menjadi independent learner di kampus haruslah berjalan beriringan dengan ketaatan menjalankan “Kurikulum Allah” demi meraih kesuksesan yang paripurna.
00AdministratorAdministrator2026-03-04 13:39:572026-03-04 13:39:57Membedah ‘Kurikulum Allah’: Prof. Junaidi Integrasikan Konsep OBE dan Pembelajar Mandiri dalam Bingkai Teologi
MALANG – Di tengah keberkahan bulan suci, Universitas Islam Malang (UNISMA) kembali menyelenggarakan kajian Mutiara Hikmah di Masjid Ainul Yaqin pada Selasa (03/03/2026). Tampil sebagai penceramah, Dr. Ir. H. Masyhuri Machfudz, M.S.I, menyajikan perspektif unik yang mengupas tuntas amaliah mustajab di bulan puasa melalui pendekatan sejarah nabi dan analisis filologis kata “Ramadhan” itu sendiri.
Di hadapan para sivitas akademika, Dr. Masyhuri membuka kajiannya dengan sebuah hipotesis yang tegas: “Tiada Ramadhan tanpa puasa.” Menurut beliau, puasa bukanlah sekadar kewajiban ritual menahan lapar, melainkan sebuah medium atau instrumen ilahiah yang sengaja diciptakan Allah SWT untuk mengeliminasi berbagai problematika kehidupan manusia.
Sebagai landasan argumennya, Dr. Masyhuri menceritakan akar sejarah puasa yang bermula dari masa Nabi Adam AS. Ketika Nabi Adam dikeluarkan dari surga akibat melanggar kesepakatan dengan Allah, ia menghadapi problematika hidup yang besar di bumi. Allah kemudian mengutus Malaikat Jibril bukan untuk menolong secara fisik, melainkan memberikan “resep” solusi, yakni dengan berpuasa pada Ayyamul Bidh (puasa tiga hari di pertengahan bulan: tanggal 13, 14, dan 15).
“Puasa itu merupakan suatu makhluk media yang diciptakan oleh Allah untuk mengeliminasi problem-problem yang dihadapi oleh manusia,” jelas Dr. Masyhuri menegaskan fungsinya sebagai pemecah masalah.
Lebih lanjut, penceramah menguraikan makna filosofis yang terkandung di balik susunan huruf Arab pembentuk kata Ramadhan (رمضان), yang terdiri dari Ra, Mim, Dhad, Alif, dan Nun:
Ra (Ridhallahi Ta’ala): Menyimbolkan rida Allah. Rida ini dicapai melalui dua hal: sabar (seperti menahan makan meski lapar) dan ikhlas (tidak mengeluh).
Mim (Mahabbatullahi Ta’ala): Menyimbolkan cinta kasih Allah. Indikator cinta adalah memberi tanpa batas dan tanpa syarat, sebagaimana Allah melimpahkan rezeki di bulan ini.
Dhad (Dhamanullahi Ta’ala): Menyimbolkan jaminan Allah. Semua kebutuhan umat yang berpuasa ditanggung oleh-Nya, terlihat dari fenomena melimpahnya rezeki (seperti Tunjangan Hari Raya) di bulan puasa.
Alif (Ulfatullah): Menyimbolkan kedekatan dan welas asih Allah. Kasih sayang ini dimanifestasikan salah satunya dengan anugerah Lailatul Qadar, yang hanya bisa diraih dengan upaya konsisten sejak awal bulan.
Nun (Nurullahi Ta’ala): Menyimbolkan cahaya Allah. Cahaya ini sangat agung dan hanya diberikan kepada hati yang siap, bukan hati yang sombong, mengacu pada kisah hancurnya Gunung Sinai saat Nabi Musa meminta melihat wujud Allah.
Menutup kajiannya, Dr. Masyhuri mengingatkan jemaah untuk memaksimalkan dua waktu paling mustajab untuk berdoa selama berpuasa, yakni pada sepertiga malam terakhir (waktu sahur) dan saat berbuka puasa (iftar).
00AdministratorAdministrator2026-03-03 13:28:492026-03-03 13:28:49Membedah Filosofi Kata “Ramadhan”, Dr. Masyhuri Machfudz Sebut Puasa Sebagai Solusi Problematika Hidup Manusia