Serukan Transformasi Ibadah dari Sekadar “Output” Menjadi “Berdampak”
MALANG – Di tengah khusyuknya suasana bulan suci Ramadan, Universitas Islam Malang (UNISMA) kembali menyelenggarakan kajian Mutiara Hikmah di Masjid Ainul Yaqin, Selasa (24/02/2026). Dalam kesempatan ini, Prof. Dr. Ir. H. Badat Muwakhid, MP., IPM., menyampaikan pemikiran yang menggugah mengenai esensi ibadah dalam Islam yang harus sejalan dengan visi “pembangunan berdampak” (outcome-oriented).
Prof. Badat membuka kajiannya dengan mengapresiasi orientasi pemerintah saat ini yang memfokuskan program pada pembangunan berdampak. Menurutnya, filosofi ini sebenarnya sudah lama tertanam dalam inti ajaran Islam. Ia menegaskan bahwa setiap langkah dan amalan ibadah seorang Muslim belum dianggap berprestasi jika belum memberikan dampak positif (outcome) bagi diri sendiri maupun orang lain.
“Semua ibadah-ibadah kita itu tidak cukup kita laksanakan dengan ada perintah dikerjakan, tetapi harus… sampai ke outcome. Ada dampak, ada perubahan dari yang melaksanakannya,” ujar Prof. Badat di hadapan para sivitas akademika.
Beliau kemudian menguraikan empat pilar ibadah utama sebagai contoh konkret. Pertama, salat. Perintah salat akan dievaluasi pada hari kiamat, namun standar kelulusannya di dunia adalah kemampuannya mencegah perbuatan keji dan mungkar (tanha ‘anil fahsya’i wal munkar). Jika seseorang rajin salat namun masih melakukan perbuatan tercela, maka salatnya baru sebatas “output”, belum menjadi “outcome”.
Kedua, zakat. Membersihkan harta melalui zakat harus berdampak pada kebersihan jiwa, memastikan tidak ada hak orang miskin yang termakan atau dicuri dari harta tersebut. Ketiga, haji. Prof. Badat mengingatkan bahwa indikator haji yang mabrur bukanlah sekadar selesai menunaikan rukun di Tanah Suci, melainkan tercermin sekembalinya ke Tanah Air melalui sikap gemar memberi makan (ath’imut tha’am) dan menebarkan kedamaian (ifsyau salam).
Keempat, puasa Ramadan. Tujuan akhir puasa adalah mencapai predikat takwa (la’allakum tattaqun). Tanda-tanda ketakwaan ini, menurut Prof. Badat, sangat nyata dampaknya secara sosial, yakni gemar berinfak di kala lapang maupun sempit, mampu menahan amarah, dan mudah memaafkan kesalahan orang lain.
Secara brilian, Prof. Badat menarik benang merah antara ibadah berstandar tinggi di bulan Ramadan—seperti menghidupkan malam dengan Tarawih (Qiyamul Lail) secara konsisten—dengan etos kerja di dunia akademik.
“Di kampus kita sudah terkenal begini, kalau kita mau unggul, kita harus melampaui standar nasional,” tegasnya. Ia menganalogikan puasa Ramadan sebagai momentum bagi umat Islam untuk melampaui standar ibadah biasa, demi meraih predikat “unggul” di mata Allah SWT, yang pada gilirannya akan membawa keberkahan dan kemajuan bagi institusi.


