Membedah ‘Kurikulum Allah’: Prof. Junaidi Integrasikan Konsep OBE dan Pembelajar Mandiri dalam Bingkai Teologi

MALANG (4/3/2026) – Diskursus pendidikan tinggi saat ini didominasi oleh istilah Outcome-Based Education (OBE) dan Independent Learner (Pembelajar Mandiri). Namun, jauh sebelum jargon-jargon akademik modern ini dirumuskan, Islam sesungguhnya telah meletakkan cetak biru pendidikan tersebut melalui apa yang disebut sebagai “Kurikulum Allah”.

Paradigma yang menggabungkan pedagogi modern dan teologi ini dikupas tuntas oleh Prof. Drs. H. Junaidi, M.Pd., Ph.D. dalam mimbar kultum Mutiara Hikmah di Masjid Ainul Yaqin, Universitas Islam Malang (UNISMA), Rabu (4/3) siang.

Di hadapan civitas akademika, Prof. Junaidi memaparkan bahwa kehidupan manusia di dunia hakikatnya adalah sebuah institusi pendidikan raksasa. “Allah SWT telah menurunkan Al-Qur’an dan As-Sunnah bukan sekadar sebagai bacaan ritual, melainkan sebagai silabus atau ‘Kurikulum Allah’ yang harus kita pelajari, pahami, dan aplikasikan,” tegas Pakar Pendidikan tersebut.

OBE: Menggeser Orientasi Menuju ‘Taqwa’

Dalam sistem pendidikan konvensional, pendekatan OBE menuntut institusi untuk fokus pada hasil akhir (kompetensi) yang dikuasai mahasiswa, bukan sekadar proses belajar mengajar. Menariknya, Prof. Junaidi mengontekstualisasikan OBE ke dalam ranah spiritual.

Menurutnya, “Kurikulum Allah” juga sangat berorientasi pada hasil (outcome). Jika kampus menargetkan lulusannya siap kerja dan profesional, maka Allah menetapkan Taqwa (ketakwaan) dan Mardhatillah (ridha Allah) sebagai Ultimate Outcome (hasil akhir tertinggi) dari seorang hamba.

“Segala ibadah kita, puasa, salat, hingga proses kita menuntut ilmu di kampus ini, outcome-nya harus jelas: menjadi Muttaqin (orang yang bertakwa). Jika kita belajar keras namun outcome spiritualnya nol, maka pendidikan kita gagal di mata Sang Pencipta,” urai Prof. Junaidi.

Karakter Independent Learner dalam Islam

Lebih lanjut, Prof. Junaidi menyoroti konsep Independent Learner yang belakangan digalakkan melalui kebijakan Merdeka Belajar. Ia menjelaskan bahwa Islam sejak awal menuntut umatnya untuk menjadi pembelajar mandiri. Perintah pertama yang turun kepada Nabi Muhammad SAW adalah Iqra’ (Bacalah)—sebuah instruksi aktif yang menuntut kemandirian dalam menggali ilmu, baik dari ayat Qauliyah (teks suci) maupun Kauniyah (fenomena alam).

“Seorang muslim yang sejati adalah independent learner. Ia tidak menunggu disuapi ilmu. Ia proaktif mencari kebenaran, memikirkan penciptaan langit dan bumi, dan mengambil hikmah dari setiap kejadian. Konsep Mukallaf (individu yang terbebani kewajiban syariat) adalah bukti bahwa kita dituntut untuk mandiri dan bertanggung jawab penuh atas kapasitas intelektual dan spiritual kita sendiri,” tambahnya.

Mengakhiri paparannya, Prof. Junaidi mengajak seluruh warga UNISMA untuk tidak mendikotomikan urusan duniawi dan ukhrawi. Mengadopsi sistem OBE dan menjadi independent learner di kampus haruslah berjalan beriringan dengan ketaatan menjalankan “Kurikulum Allah” demi meraih kesuksesan yang paripurna.