Membedah Puasa Lewat Biologi Molekuler, Prof. Agus Sugianto Sebut Ramadan sebagai “Teknologi Ilahiah”
MALANG – Universitas Islam Malang (UNISMA) kembali menghadirkan pencerahan akademik berbalut spiritualitas dalam kajian rutin Mutiara Hikmah di Masjid Ainul Yaqin, Rabu (25/02/2026). Tampil sebagai penceramah, Prof. Dr. Ir. H. Agus Sugianto, ST., MP., membedah hikmah ibadah puasa tidak hanya dari kacamata filsafat Islam, melainkan melalu lensa presisi sains, yakni biologi molekuler.
Kajian diawali dengan tinjauan filsafat Islam yang menyebutkan bahwa manusia digerakkan oleh tiga entitas: nafsu, akal, dan hati. Prof. Agus mengutip pandangan Imam Al-Ghazali bahwa rasa lapar saat berpuasa berfungsi melemahkan dimensi syahwat atau nafsu. Ketika nafsu melemah, tampuk kepemimpinan diri bergeser kepada akal dan hati, menjadikan pikiran lebih jernih dan siap menerima cahaya Ilahi.
Lebih lanjut, ia mengaitkan konsep Insan Kamil (manusia paripurna) dari Ibnu Sina dan Al-Farabi dengan kemerdekaan manusia dari belenggu perut dan syahwat. “Puasa itu adalah latihan dari asketisme yang identik dengan zuhud, sehingga kalau orang sudah bisa melakukan hal seperti itu maka dia akan menjadi manusia yang merdeka,” paparnya di hadapan sivitas akademika UNISMA.
Namun, daya tarik utama kultum ini terletak pada penjelasan Prof. Agus mengenai keajaiban seluler selama 30 hari berpuasa. Ia memaparkan bahwa tubuh manusia terdiri dari 30 hingga 40 triliun sel, jumlah yang sepadan dengan mikrobiota di lambung dan usus. Puasa dianalogikan sebagai mekanisme reset massal bagi triliunan sel tersebut. Angka 30 hari puasa, menurutnya, bertepatan dengan siklus regenerasi berbagai sel tubuh, seperti sel kulit yang berganti per 28 hari dan sel darah merah per 120 hari.
Proses metabolisme puasa dibagi menjadi tiga fase berdurasi masing-masing 10 hari. Pada 10 hari pertama, tubuh beralih dari penggunaan karbohidrat menjadi lemak sebagai bahan bakar utama (keton). “Tubuh berganti bahan bakar, dari bensin ganti pertamax turbo,” kelakarnya, menjelaskan fase adaptasi yang sering disertai pusing dan rasa lapar ekstrem.
Fase 10 hari kedua adalah fase autofagi (bersih-bersih sel), sebuah mekanisme biologi yang memenangkan Hadiah Nobel Kedokteran pada tahun 2016 oleh ilmuwan Jepang, Yoshinori Ohsumi. Pada fase ini, protein rusak dihancurkan, enzim anti-penuaan (Sirtuin/SIRT1) diaktifkan, dan enzim pemicu sel kanker (mTOR) ditekan.
Puncaknya pada 10 hari terakhir, otak memproduksi BDNF (Brain-Derived Neurotrophic Factor) yang membuat pikiran menjadi sangat tenang dan fokus, bertepatan dengan momen pencarian Lailatul Qadar. Menutup kultum, Prof. Agus menyimpulkan bahwa puasa pada hakikatnya adalah “Teknologi Ilahiah” untuk merestorasi manusia secara total, baik secara fisik maupun ruhani.


