Analogi “Tiga Staf Raja” di Mutiara Hikmah UNISMA: Dr. M. Yunus Ingatkan Kualitas Amal Menentukan Nasib di Alam Barzakh

MALANG – Rangkaian kajian Mutiara Hikmah di Masjid Ainul Yaqin Universitas Islam Malang (UNISMA) pada Kamis (05/03/2026) menghadirkan nuansa reflektif yang mendalam. Dr. H. Muhammad Yunus, S.Pd., M.Pd. yang tampil sebagai penceramah, sukses menyita perhatian jemaah melalui sebuah pendekatan storytelling atau kisah analogi tentang seorang raja dan tiga orang stafnya, untuk menggambarkan esensi pengumpulan amal ibadah di bulan puasa.

Di hadapan para mahasiswa, dosen, dan karyawan yang hadir usai salat Zuhur, Dr. Yunus menceritakan sebuah kisah alegori. Alkisah, seorang Raja memanggil tiga staf kepercayaannya. Raja tersebut memberikan sebuah karung kosong kepada masing-masing staf dan memerintahkan mereka pergi ke hutan kerajaan untuk mengumpulkan buah-buahan terbaik.

“Staf pertama menjalankan perintah ini dengan penuh amanah. Ia memilih buah yang paling segar, matang, dan manis hingga karungnya penuh. Ia berpikir, buah ini untuk rajanya, maka harus yang terbaik,” kisah Dr. Yunus.

Namun, staf kedua memiliki niat yang berbeda. Ia mengira sang Raja yang sibuk tidak akan sempat memeriksa isi karungnya. Maka, ia memasukkan buah-buahan secara asal; ada yang segar, ada yang busuk, bahkan ia mencampurnya dengan dedaunan agar karung cepat penuh.

Lebih parah lagi staf ketiga. Ia sangat meremehkan perintah tersebut dan yakin karung itu hanya formalitas semata. “Staf ketiga ini hanya mengisi karungnya dengan rumput kering, ranting, dan sampah hutan asal karungnya terlihat menggembung dari luar,” lanjutnya.

Kejutan terjadi ketika ketiga staf itu kembali ke istana. Sang Raja sama sekali tidak membuka atau memeriksa isi karung mereka. Raja justru memerintahkan pengawal untuk memenjarakan ketiga staf tersebut di sel yang terpisah selama satu bulan penuh. Syaratnya: mereka tidak diberi jatah makanan dari istana dan hanya boleh memakan apa yang ada di dalam karung yang mereka bawa sendiri.

“Bisa ditebak akhirnya. Staf pertama hidup nyaman dan sehat selama sebulan karena bekal buahnya berkualitas. Staf kedua menderita sakit perut dan tersiksa karena harus memakan buah busuk dan dedaunan. Sedangkan staf ketiga, mati kelaparan di dalam selnya,” tegas Dr. Yunus.

Di penghujung kultum, akademisi UNISMA ini menarik benang merah yang menohok hati jemaah. “Raja itu adalah perumpamaan Allah SWT. Hutan adalah dunia, dan waktu sebulan di sel adalah perumpamaan alam kubur atau barzakh. Sementara karung itu adalah amal ibadah kita, termasuk puasa Ramadan yang sedang kita jalani saat ini,” paparnya.

Beliau mengingatkan bahwa Allah SWT tidak butuh pada amal hamba-Nya. Semua ibadah puasa, salat, dan sedekah yang dikumpulkan manusia di dunia, pada akhirnya akan dikonsumsi oleh diri mereka sendiri kelak di alam barzakh. Kultum ini menjadi tamparan keras bagi siapa saja yang masih menjalankan puasa sekadar formalitas, mencampur aduk amal baik dengan maksiat (seperti staf kedua), atau bahkan tidak beramal sama sekali (seperti staf ketiga).