Puasa “Ulat” vs Puasa “Ular”: Drh. Zainul Fadli Bedah Transformasi Biologis dan Spiritual di Mutiara Hikmah UNISMA

MALANG – Bulan suci Ramadan senantiasa membawa ruang refleksi yang luas, tak terkecuali dari kacamata ilmu kedokteran hewan dan biologi. Dalam kajian Mutiara Hikmah yang digelar di Masjid Ainul Yaqin Universitas Islam Malang (UNISMA) pada Senin (02/03/2026), drh. M. Zainul Fadli, M.Kes., mengajak jamaah untuk merenungkan kualitas ibadah puasa melalui analogi dunia satwa, yakni membandingkan “puasa ulat” dan “puasa ular”.

Sebagai seorang akademisi berlatar belakang medik veteriner, drh. Zainul memulai kultumnya dengan menjelaskan bahwa fenomena menahan makan dan minum (puasa) sejatinya juga dilakukan oleh berbagai jenis hewan dengan tujuan survival (bertahan hidup) atau fase metamorfosis biologis. Namun, ada perbedaan mencolok dari hasil akhir proses tersebut yang bisa menjadi ibrah (pelajaran) bagi umat Islam.

“Dalam dunia hewan, kita mengenal dua jenis puasa yang paling ikonik: puasanya ular dan puasanya ulat. Keduanya sama-sama menahan lapar dalam waktu yang lama, tetapi membuahkan output yang sangat jauh berbeda,” papar drh. Zainul di hadapan sivitas akademika UNISMA yang memadati masjid usai salat Zuhur.

Beliau membedah fenomena pertama, yakni puasa ular. Ular berpuasa ketika hendak melakukan pergantian kulit (moulting). Namun, drh. Zainul menggarisbawahi bahwa setelah ular selesai berpuasa dan berganti kulit baru, tidak ada yang berubah dari sifat aslinya. “Namanya tetap ular. Makanannya tetap sama, cara berjalannya tetap melata, dan racun atau bisanya tetap mematikan. Puasa ular hanya merubah penampilan fisik luar, tapi karakter dan tabiatnya tidak berubah sama sekali,” tegasnya.

Sebaliknya, drh. Zainul mengajak jamaah untuk meneladani “puasa ulat”. Ulat berpuasa saat ia membungkus dirinya menjadi kepompong (pupa). Transformasi luar biasa terjadi selama fase puasa ini. “Ulat yang awalnya menjijikkan bagi sebagian orang, rakus memakan daun dan merusak tanaman, ketika selesai berpuasa, ia keluar menjadi makhluk yang baru. Namanya berubah menjadi kupu-kupu. Makanannya berubah dari daun menjadi nektar bunga, gerakannya dari merayap menjadi terbang indah, dan kehadirannya justru membantu penyerbukan tanaman,” jelas drh. Zainul memukau jamaah.

Lebih lanjut, drh. Zainul menarik benang merah analogi ini dengan kewajiban puasa manusia di bulan Ramadan yang bertujuan mencapai predikat takwa (la’allakum tattaqun). Beliau memberikan otokritik bahwa banyak umat Islam yang puasanya masih di level “puasa ular”. Hanya menahan lapar dan haus dari terbit fajar hingga terbenam matahari, bahkan memakai “kulit baru” (baju baru) saat Idul Fitri, namun tabiat buruknya tidak berubah. Selesai Ramadan, lisan masih suka menyakiti, ibadah kembali lalai, dan tidak ada peningkatan empati sosial.

“Puasa Ramadan yang sejati haruslah seperti puasa ulat. Ada transformasi spiritual dan sosial. Setelah sebulan ditempa dalam ‘kepompong’ Ramadan, kita keluar di bulan Syawal menjadi pribadi yang indah akhlaknya, bermanfaat bagi orang lain, dan meninggalkan kebiasaan-kebiasaan buruk yang merusak,” pesannya menohok.

Di akhir kajian, drh. Zainul mengingatkan bahwa predikat takwa tidak didapat secara otomatis hanya dengan menggugurkan kewajiban menahan lapar, melainkan membutuhkan komitmen metamorfosis jiwa secara menyeluruh.