Dari Pendewasaan Akademik hingga Persiapan Skripsi: Refleksi Mahasiswa Penerima Beasiswa Cendekia BAZNAS
Nama: Erlyn Wahyu Safitri
NPM: 22201021067
Prodi: Hukum
Tahun 2025 menjadi tahun yang penuh makna dalam perjalanan akademik dan pengembangan diri saya sebagai mahasiswa sekaligus penerima Beasiswa Cendekia BAZNAS. Jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, saya merasakan adanya perubahan dan perkembangan yang cukup signifikan, baik dari segi pola pikir, kedisiplinan, maupun semangat dalam menjalani proses perkuliahan. Tahun ini menjadi fase pendewasaan, terutama karena saya telah memasuki semester 7 dan berada pada tahap awal penyusunan skripsi.
Selama tahun 2025, saya menjalani proses perkuliahan dengan kesadaran yang lebih tinggi akan tanggung jawab sebagai mahasiswa tingkat akhir. Beban akademik yang semakin menantang menuntut saya untuk lebih teratur dalam mengelola waktu, lebih teliti dalam memahami materi, serta lebih konsisten dalam menyelesaikan tugas-tugas perkuliahan. Memasuki tahap skripsi menjadi momen penting yang mendorong saya untuk meningkatkan kualitas belajar, memperdalam pemahaman keilmuan, serta membangun komitmen untuk menyelesaikan studi tepat waktu. Dari segi pencapaian, saya menilai bahwa tahun 2025 memberikan banyak kemajuan dibandingkan tahun sebelumnya. Saya menjadi lebih fokus terhadap tujuan akademik, lebih bersemangat dalam mengikuti perkuliahan, serta mulai terbiasa dengan pola belajar mandiri yang dibutuhkan dalam tahap penyusunan skripsi. Selain itu, saya juga mengalami peningkatan dalam kemampuan berpikir kritis dan analitis, khususnya dalam mengkaji permasalahan akademik yang berkaitan dengan bidang studi yang saya tekuni. Pencapaian ini menjadi modal penting dalam menghadapi tahap akhir perkuliahan.
Namun demikian, perjalanan selama tahun 2025 juga tidak lepas dari berbagai tantangan. Tantangan terbesar yang saya hadapi adalah menjaga konsistensi di tengah tuntutan akademik yang semakin tinggi. Tekanan dalam menentukan arah skripsi, mengelola waktu antara perkuliahan dan aktivitas lainnya, serta menjaga motivasi agar tetap stabil menjadi hal yang perlu saya hadapi dengan bijak. Tantangan tersebut sempat menimbulkan rasa lelah secara mental, namun justru mengajarkan saya pentingnya kesabaran, manajemen diri, dan ketekunan dalam menjalani proses.
Sebagai penerima Beasiswa Cendekia BAZNAS, saya menyadari bahwa posisi ini bukan hanya sebagai penerima bantuan pendidikan, tetapi juga sebagai individu yang memikul amanah dan tanggung jawab moral. Beasiswa ini menjadi sumber motivasi besar bagi saya untuk terus meningkatkan kualitas diri, baik secara akademik maupun karakter. Evaluasi terhadap peran tersebut menunjukkan bahwa saya telah berusaha menjaga komitmen belajar dengan baik, namun masih perlu meningkatkan kontribusi dan prestasi agar sejalan dengan nilai-nilai kebermanfaatan yang diusung oleh BAZNAS.
Memasuki tahun 2026, saya menyusun rencana dan target pengembangan diri yang lebih terarah dan terukur. Salah satu target utama yang ingin saya capai adalah menyelesaikan studi dalam waktu 3,5 tahun sebagai bentuk tanggung jawab akademik dan pemanfaatan kesempatan pendidikan secara optimal. Target tersebut mendorong saya untuk lebih disiplin dalam menyusun jadwal bimbingan skripsi, menjaga konsistensi penulisan, serta meningkatkan kualitas riset dan analisis ilmiah.
Selain fokus pada penyelesaian skripsi, saya juga berkomitmen untuk tetap menjaga kualitas akademik hingga akhir masa studi. Saya menyadari bahwa kelulusan tepat waktu tidak hanya membutuhkan kecerdasan intelektual, tetapi juga kedisiplinan, manajemen waktu yang baik, dan ketahanan mental. Oleh karena itu, pada tahun 2026 saya menargetkan peningkatan kemampuan riset, penulisan ilmiah, serta penguatan soft skills seperti tanggung jawab, komunikasi akademik, dan etos kerja yang profesional.




