Membedah Filosofi Kata “Ramadhan”, Dr. Masyhuri Machfudz Sebut Puasa Sebagai Solusi Problematika Hidup Manusia
MALANG – Di tengah keberkahan bulan suci, Universitas Islam Malang (UNISMA) kembali menyelenggarakan kajian Mutiara Hikmah di Masjid Ainul Yaqin pada Selasa (03/03/2026). Tampil sebagai penceramah, Dr. Ir. H. Masyhuri Machfudz, M.S.I, menyajikan perspektif unik yang mengupas tuntas amaliah mustajab di bulan puasa melalui pendekatan sejarah nabi dan analisis filologis kata “Ramadhan” itu sendiri.
Di hadapan para sivitas akademika, Dr. Masyhuri membuka kajiannya dengan sebuah hipotesis yang tegas: “Tiada Ramadhan tanpa puasa.” Menurut beliau, puasa bukanlah sekadar kewajiban ritual menahan lapar, melainkan sebuah medium atau instrumen ilahiah yang sengaja diciptakan Allah SWT untuk mengeliminasi berbagai problematika kehidupan manusia.
Sebagai landasan argumennya, Dr. Masyhuri menceritakan akar sejarah puasa yang bermula dari masa Nabi Adam AS. Ketika Nabi Adam dikeluarkan dari surga akibat melanggar kesepakatan dengan Allah, ia menghadapi problematika hidup yang besar di bumi. Allah kemudian mengutus Malaikat Jibril bukan untuk menolong secara fisik, melainkan memberikan “resep” solusi, yakni dengan berpuasa pada Ayyamul Bidh (puasa tiga hari di pertengahan bulan: tanggal 13, 14, dan 15).
“Puasa itu merupakan suatu makhluk media yang diciptakan oleh Allah untuk mengeliminasi problem-problem yang dihadapi oleh manusia,” jelas Dr. Masyhuri menegaskan fungsinya sebagai pemecah masalah.
Lebih lanjut, penceramah menguraikan makna filosofis yang terkandung di balik susunan huruf Arab pembentuk kata Ramadhan (رمضان), yang terdiri dari Ra, Mim, Dhad, Alif, dan Nun:
-
Ra (Ridhallahi Ta’ala): Menyimbolkan rida Allah. Rida ini dicapai melalui dua hal: sabar (seperti menahan makan meski lapar) dan ikhlas (tidak mengeluh).
-
Mim (Mahabbatullahi Ta’ala): Menyimbolkan cinta kasih Allah. Indikator cinta adalah memberi tanpa batas dan tanpa syarat, sebagaimana Allah melimpahkan rezeki di bulan ini.
-
Dhad (Dhamanullahi Ta’ala): Menyimbolkan jaminan Allah. Semua kebutuhan umat yang berpuasa ditanggung oleh-Nya, terlihat dari fenomena melimpahnya rezeki (seperti Tunjangan Hari Raya) di bulan puasa.
-
Alif (Ulfatullah): Menyimbolkan kedekatan dan welas asih Allah. Kasih sayang ini dimanifestasikan salah satunya dengan anugerah Lailatul Qadar, yang hanya bisa diraih dengan upaya konsisten sejak awal bulan.
-
Nun (Nurullahi Ta’ala): Menyimbolkan cahaya Allah. Cahaya ini sangat agung dan hanya diberikan kepada hati yang siap, bukan hati yang sombong, mengacu pada kisah hancurnya Gunung Sinai saat Nabi Musa meminta melihat wujud Allah.
Menutup kajiannya, Dr. Masyhuri mengingatkan jemaah untuk memaksimalkan dua waktu paling mustajab untuk berdoa selama berpuasa, yakni pada sepertiga malam terakhir (waktu sahur) dan saat berbuka puasa (iftar).





