Membedah Filosofi Kata “Ramadhan”, Dr. Masyhuri Machfudz Sebut Puasa Sebagai Solusi Problematika Hidup Manusia

MALANG – Di tengah keberkahan bulan suci, Universitas Islam Malang (UNISMA) kembali menyelenggarakan kajian Mutiara Hikmah di Masjid Ainul Yaqin pada Selasa (03/03/2026). Tampil sebagai penceramah, Dr. Ir. H. Masyhuri Machfudz, M.S.I, menyajikan perspektif unik yang mengupas tuntas amaliah mustajab di bulan puasa melalui pendekatan sejarah nabi dan analisis filologis kata “Ramadhan” itu sendiri.

Di hadapan para sivitas akademika, Dr. Masyhuri membuka kajiannya dengan sebuah hipotesis yang tegas: “Tiada Ramadhan tanpa puasa.” Menurut beliau, puasa bukanlah sekadar kewajiban ritual menahan lapar, melainkan sebuah medium atau instrumen ilahiah yang sengaja diciptakan Allah SWT untuk mengeliminasi berbagai problematika kehidupan manusia.

Sebagai landasan argumennya, Dr. Masyhuri menceritakan akar sejarah puasa yang bermula dari masa Nabi Adam AS. Ketika Nabi Adam dikeluarkan dari surga akibat melanggar kesepakatan dengan Allah, ia menghadapi problematika hidup yang besar di bumi. Allah kemudian mengutus Malaikat Jibril bukan untuk menolong secara fisik, melainkan memberikan “resep” solusi, yakni dengan berpuasa pada Ayyamul Bidh (puasa tiga hari di pertengahan bulan: tanggal 13, 14, dan 15).

“Puasa itu merupakan suatu makhluk media yang diciptakan oleh Allah untuk mengeliminasi problem-problem yang dihadapi oleh manusia,” jelas Dr. Masyhuri menegaskan fungsinya sebagai pemecah masalah.

Lebih lanjut, penceramah menguraikan makna filosofis yang terkandung di balik susunan huruf Arab pembentuk kata Ramadhan (رمضان), yang terdiri dari Ra, Mim, Dhad, Alif, dan Nun:

  1. Ra (Ridhallahi Ta’ala): Menyimbolkan rida Allah. Rida ini dicapai melalui dua hal: sabar (seperti menahan makan meski lapar) dan ikhlas (tidak mengeluh).

  2. Mim (Mahabbatullahi Ta’ala): Menyimbolkan cinta kasih Allah. Indikator cinta adalah memberi tanpa batas dan tanpa syarat, sebagaimana Allah melimpahkan rezeki di bulan ini.

  3. Dhad (Dhamanullahi Ta’ala): Menyimbolkan jaminan Allah. Semua kebutuhan umat yang berpuasa ditanggung oleh-Nya, terlihat dari fenomena melimpahnya rezeki (seperti Tunjangan Hari Raya) di bulan puasa.

  4. Alif (Ulfatullah): Menyimbolkan kedekatan dan welas asih Allah. Kasih sayang ini dimanifestasikan salah satunya dengan anugerah Lailatul Qadar, yang hanya bisa diraih dengan upaya konsisten sejak awal bulan.

  5. Nun (Nurullahi Ta’ala): Menyimbolkan cahaya Allah. Cahaya ini sangat agung dan hanya diberikan kepada hati yang siap, bukan hati yang sombong, mengacu pada kisah hancurnya Gunung Sinai saat Nabi Musa meminta melihat wujud Allah.

Menutup kajiannya, Dr. Masyhuri mengingatkan jemaah untuk memaksimalkan dua waktu paling mustajab untuk berdoa selama berpuasa, yakni pada sepertiga malam terakhir (waktu sahur) dan saat berbuka puasa (iftar).

Puasa “Ulat” vs Puasa “Ular”: Drh. Zainul Fadli Bedah Transformasi Biologis dan Spiritual di Mutiara Hikmah UNISMA

MALANG – Bulan suci Ramadan senantiasa membawa ruang refleksi yang luas, tak terkecuali dari kacamata ilmu kedokteran hewan dan biologi. Dalam kajian Mutiara Hikmah yang digelar di Masjid Ainul Yaqin Universitas Islam Malang (UNISMA) pada Senin (02/03/2026), drh. M. Zainul Fadli, M.Kes., mengajak jamaah untuk merenungkan kualitas ibadah puasa melalui analogi dunia satwa, yakni membandingkan “puasa ulat” dan “puasa ular”.

Sebagai seorang akademisi berlatar belakang medik veteriner, drh. Zainul memulai kultumnya dengan menjelaskan bahwa fenomena menahan makan dan minum (puasa) sejatinya juga dilakukan oleh berbagai jenis hewan dengan tujuan survival (bertahan hidup) atau fase metamorfosis biologis. Namun, ada perbedaan mencolok dari hasil akhir proses tersebut yang bisa menjadi ibrah (pelajaran) bagi umat Islam.

“Dalam dunia hewan, kita mengenal dua jenis puasa yang paling ikonik: puasanya ular dan puasanya ulat. Keduanya sama-sama menahan lapar dalam waktu yang lama, tetapi membuahkan output yang sangat jauh berbeda,” papar drh. Zainul di hadapan sivitas akademika UNISMA yang memadati masjid usai salat Zuhur.

Beliau membedah fenomena pertama, yakni puasa ular. Ular berpuasa ketika hendak melakukan pergantian kulit (moulting). Namun, drh. Zainul menggarisbawahi bahwa setelah ular selesai berpuasa dan berganti kulit baru, tidak ada yang berubah dari sifat aslinya. “Namanya tetap ular. Makanannya tetap sama, cara berjalannya tetap melata, dan racun atau bisanya tetap mematikan. Puasa ular hanya merubah penampilan fisik luar, tapi karakter dan tabiatnya tidak berubah sama sekali,” tegasnya.

Sebaliknya, drh. Zainul mengajak jamaah untuk meneladani “puasa ulat”. Ulat berpuasa saat ia membungkus dirinya menjadi kepompong (pupa). Transformasi luar biasa terjadi selama fase puasa ini. “Ulat yang awalnya menjijikkan bagi sebagian orang, rakus memakan daun dan merusak tanaman, ketika selesai berpuasa, ia keluar menjadi makhluk yang baru. Namanya berubah menjadi kupu-kupu. Makanannya berubah dari daun menjadi nektar bunga, gerakannya dari merayap menjadi terbang indah, dan kehadirannya justru membantu penyerbukan tanaman,” jelas drh. Zainul memukau jamaah.

Lebih lanjut, drh. Zainul menarik benang merah analogi ini dengan kewajiban puasa manusia di bulan Ramadan yang bertujuan mencapai predikat takwa (la’allakum tattaqun). Beliau memberikan otokritik bahwa banyak umat Islam yang puasanya masih di level “puasa ular”. Hanya menahan lapar dan haus dari terbit fajar hingga terbenam matahari, bahkan memakai “kulit baru” (baju baru) saat Idul Fitri, namun tabiat buruknya tidak berubah. Selesai Ramadan, lisan masih suka menyakiti, ibadah kembali lalai, dan tidak ada peningkatan empati sosial.

“Puasa Ramadan yang sejati haruslah seperti puasa ulat. Ada transformasi spiritual dan sosial. Setelah sebulan ditempa dalam ‘kepompong’ Ramadan, kita keluar di bulan Syawal menjadi pribadi yang indah akhlaknya, bermanfaat bagi orang lain, dan meninggalkan kebiasaan-kebiasaan buruk yang merusak,” pesannya menohok.

Di akhir kajian, drh. Zainul mengingatkan bahwa predikat takwa tidak didapat secara otomatis hanya dengan menggugurkan kewajiban menahan lapar, melainkan membutuhkan komitmen metamorfosis jiwa secara menyeluruh.

Membangun Harmoni Kehidupan Lewat Ibadah, Dr. Hasan Busri Ingatkan Empati Sosial dan Kesalahan Berburu Lailatul Qadar

MALANG – Memasuki hari kesepuluh bulan suci Ramadan 1447 H, Universitas Islam Malang (UNISMA) kembali menyelenggarakan kajian rutin Mutiara Hikmah di Masjid Ainul Yaqin, Sabtu (28/02/2026). Dalam kesempatan tersebut, Dr. Hasan Busri, M.Pd., menyampaikan ceramah komprehensif mengenai bagaimana ibadah-ibadah mahdhah dalam Islam sejatinya dirancang untuk membangun harmoni kehidupan yang berdampak nyata pada perilaku sosial.

Dr. Hasan membuka kajian dengan sebuah premis kuat bahwa seluruh perintah ibadah dari Allah SWT—mulai dari salat, puasa, zakat, hingga haji—bertujuan untuk menyeimbangkan dan mengharmoniskan kehidupan manusia. Menurutnya, jika sebuah ibadah dilakukan secara sukses dan selamat, maka perilaku kehidupan pelakunya juga dipastikan akan baik.

“Salat itu merupakan barometer, ukuran baik tidaknya seseorang. Kalau salat itu sukses, insya Allah semua perilaku kehidupannya akan baik-baik saja,” ujar Dr. Hasan, mengutip ayat bahwa salat mencegah perbuatan keji dan mungkar. Hal senada juga berlaku pada ibadah haji. Haji yang mabrur diindikasikan dengan berhentinya perilaku rafats (berkata kotor), fusuq (berbuat fasik), dan jidal (berdebat kusir) selama sisa hidupnya.

Membedah esensi puasa Ramadan, Dr. Hasan menyoroti fenomena kesalehan yang meningkat drastis. Ia mengapresiasi pemandangan di masjid-masjid di mana masyarakat berlomba-lomba menghatamkan Al-Qur’an, mendirikan salat malam, dan bersedekah. Namun, ia menekankan bahwa hasil akhir puasa (la’allakum tattaqun) harus melahirkan empati.

“Orang puasa itu pasti lapar dan pasti haus. Ternyata orang lapar itu tidak enak… Sehingga nanti kalau ada saudara-saudara yang masih kelaparan, kita punya rasa empati, solidaritas,” tegasnya. Beliau mengingatkan jamaah agar tidak tertipu oleh harta benda yang melalaikan dari mengingat Allah. Mengutip Surah Al-Munafiqun ayat 10, beliau memperingatkan penyesalan orang yang sedang menghadapi sakaratul maut (nazak), yang memohon agar umurnya ditangguhkan walau sejenak hanya untuk bisa bersedekah.

Di akhir kultumnya, Dr. Hasan memberikan kritik konstruktif terhadap tradisi sebagian masyarakat dalam memburu Lailatul Qadar. Beliau menyoroti kebiasaan beribadah secara acak dan pilih-pilih hari. “Mencari Lailatul Qadar itu jangan dicari di akhir atau di ganjilnya saja… 21 digenjot, 22 tidur. 23 digenjot, 24 tidur. Kita ini yang bagus adalah istiqomah (konsisten),” pesannya. Kajian ditutup dengan doa agar jamaah meraih kemenangan sejati yang ditandai dengan peningkatan ketakwaan, bukan sekadar baju baru di hari raya.

Membedah Fikih Puasa Tanpa Basa-basi: Dr. Ali Ashari Ingatkan Batasan Syariat di Mutiara Hikmah UNISMA

MALANG – Di tengah rutinitas akademik pada bulan suci, kajian Mutiara Hikmah di Masjid Ainul Yaqin Universitas Islam Malang (UNISMA) kembali digelar pada Kamis (26/02/2026). Tampil dengan gaya bahasa lugas dan diselingi humor khas “santri murni”, Dr. H. Ali Ashari Alhadi, M.Pd. membedah secara gamblang persoalan fikih mengenai hal-hal yang membatalkan puasa dan kesunahan-kesunahannya.

Mengawali kajiannya, Dr. Ali Ashari menjelaskan definisi puasa secara syariat, yakni menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa disertai niat khusus, dari terbit fajar hingga terbenam matahari, bagi mereka yang memenuhi syarat. Ia kemudian merinci sepuluh perkara krusial yang dapat membatalkan puasa, yang seringkali disepelekan atau kurang dipahami oleh masyarakat umum.

“Ada sepuluh perkara yang membatalkan puasa. Pertama dan kedua adalah memasukkan sesuatu secara sengaja ke dalam rongga tubuh, baik rongga atas seperti kepala maupun rongga bawah perut,” jelas Dr. Ali Ashari di hadapan para sivitas akademika. Ia mencontohkan pengobatan yang mengharuskan memasukkan cairan atau obat ke dalam telinga, hidung, maupun jalur pembuangan (seperti obat suppositoria untuk penurun panas) sebagai hal yang membatalkan puasa.

Lebih lanjut, beliau menjabarkan pembatal puasa lainnya dengan lugas. Perkara tersebut meliputi muntah secara sengaja, bersetubuh di siang hari, dan keluarnya air mani akibat sentuhan atau aktivitas sengaja (kecuali karena mimpi basah yang tidak membatalkan). Selain itu, haid, nifas, gila (hilang akal), dan murtad (keluar dari agama Islam) juga secara otomatis membatalkan puasa seseorang.

Selain membahas larangan, Dr. Ali Ashari juga mengingatkan jamaah tentang tiga kesunahan utama dalam berpuasa. Kesunahan pertama adalah menyegerakan berbuka puasa jika sudah yakin matahari terbenam (Ta’jilul Fitri). Ia sempat menceritakan pengalaman pribadinya saat tersesat di wilayah pegunungan Papua pada tahun 2016, di mana ketiadaan penunjuk waktu azan memaksanya mengandalkan keyakinan alam untuk berbuka.

“Kesunahan kedua adalah mengakhirkan sahur, selama belum masuk waktu yang diragukan (mendekati Subuh),” tambahnya. Sedangkan kesunahan ketiga yang ditekankan adalah menjaga lisan dari perkataan kotor, dusta, dan makian (Tarkul Hajri minal Kalami). Beliau berpesan, jika seseorang dipancing emosinya oleh orang lain, cukup katakan “Inni shoimun” (Sesungguhnya saya sedang berpuasa) baik secara lisan maupun di dalam hati, agar pahala puasa tidak gugur.

Kajian ditutup dengan doa agar ibadah puasa yang dijalankan oleh seluruh jamaah tidak sekadar menahan lapar, tetapi juga menjaga kedisiplinan syariat dan etika komunikasi dalam kehidupan sehari-hari.

Membedah Puasa Lewat Biologi Molekuler, Prof. Agus Sugianto Sebut Ramadan sebagai “Teknologi Ilahiah”

MALANG – Universitas Islam Malang (UNISMA) kembali menghadirkan pencerahan akademik berbalut spiritualitas dalam kajian rutin Mutiara Hikmah di Masjid Ainul Yaqin, Rabu (25/02/2026). Tampil sebagai penceramah, Prof. Dr. Ir. H. Agus Sugianto, ST., MP., membedah hikmah ibadah puasa tidak hanya dari kacamata filsafat Islam, melainkan melalu lensa presisi sains, yakni biologi molekuler.

Kajian diawali dengan tinjauan filsafat Islam yang menyebutkan bahwa manusia digerakkan oleh tiga entitas: nafsu, akal, dan hati. Prof. Agus mengutip pandangan Imam Al-Ghazali bahwa rasa lapar saat berpuasa berfungsi melemahkan dimensi syahwat atau nafsu. Ketika nafsu melemah, tampuk kepemimpinan diri bergeser kepada akal dan hati, menjadikan pikiran lebih jernih dan siap menerima cahaya Ilahi.

Lebih lanjut, ia mengaitkan konsep Insan Kamil (manusia paripurna) dari Ibnu Sina dan Al-Farabi dengan kemerdekaan manusia dari belenggu perut dan syahwat. “Puasa itu adalah latihan dari asketisme yang identik dengan zuhud, sehingga kalau orang sudah bisa melakukan hal seperti itu maka dia akan menjadi manusia yang merdeka,” paparnya di hadapan sivitas akademika UNISMA.

Namun, daya tarik utama kultum ini terletak pada penjelasan Prof. Agus mengenai keajaiban seluler selama 30 hari berpuasa. Ia memaparkan bahwa tubuh manusia terdiri dari 30 hingga 40 triliun sel, jumlah yang sepadan dengan mikrobiota di lambung dan usus. Puasa dianalogikan sebagai mekanisme reset massal bagi triliunan sel tersebut. Angka 30 hari puasa, menurutnya, bertepatan dengan siklus regenerasi berbagai sel tubuh, seperti sel kulit yang berganti per 28 hari dan sel darah merah per 120 hari.

Proses metabolisme puasa dibagi menjadi tiga fase berdurasi masing-masing 10 hari. Pada 10 hari pertama, tubuh beralih dari penggunaan karbohidrat menjadi lemak sebagai bahan bakar utama (keton). “Tubuh berganti bahan bakar, dari bensin ganti pertamax turbo,” kelakarnya, menjelaskan fase adaptasi yang sering disertai pusing dan rasa lapar ekstrem.

Fase 10 hari kedua adalah fase autofagi (bersih-bersih sel), sebuah mekanisme biologi yang memenangkan Hadiah Nobel Kedokteran pada tahun 2016 oleh ilmuwan Jepang, Yoshinori Ohsumi. Pada fase ini, protein rusak dihancurkan, enzim anti-penuaan (Sirtuin/SIRT1) diaktifkan, dan enzim pemicu sel kanker (mTOR) ditekan.

Puncaknya pada 10 hari terakhir, otak memproduksi BDNF (Brain-Derived Neurotrophic Factor) yang membuat pikiran menjadi sangat tenang dan fokus, bertepatan dengan momen pencarian Lailatul Qadar. Menutup kultum, Prof. Agus menyimpulkan bahwa puasa pada hakikatnya adalah “Teknologi Ilahiah” untuk merestorasi manusia secara total, baik secara fisik maupun ruhani.

Serukan Transformasi Ibadah dari Sekadar “Output” Menjadi “Berdampak”

MALANG – Di tengah khusyuknya suasana bulan suci Ramadan, Universitas Islam Malang (UNISMA) kembali menyelenggarakan kajian Mutiara Hikmah di Masjid Ainul Yaqin, Selasa (24/02/2026). Dalam kesempatan ini, Prof. Dr. Ir. H. Badat Muwakhid, MP., IPM., menyampaikan pemikiran yang menggugah mengenai esensi ibadah dalam Islam yang harus sejalan dengan visi “pembangunan berdampak” (outcome-oriented).

Prof. Badat membuka kajiannya dengan mengapresiasi orientasi pemerintah saat ini yang memfokuskan program pada pembangunan berdampak. Menurutnya, filosofi ini sebenarnya sudah lama tertanam dalam inti ajaran Islam. Ia menegaskan bahwa setiap langkah dan amalan ibadah seorang Muslim belum dianggap berprestasi jika belum memberikan dampak positif (outcome) bagi diri sendiri maupun orang lain.

“Semua ibadah-ibadah kita itu tidak cukup kita laksanakan dengan ada perintah dikerjakan, tetapi harus… sampai ke outcome. Ada dampak, ada perubahan dari yang melaksanakannya,” ujar Prof. Badat di hadapan para sivitas akademika.

Beliau kemudian menguraikan empat pilar ibadah utama sebagai contoh konkret. Pertama, salat. Perintah salat akan dievaluasi pada hari kiamat, namun standar kelulusannya di dunia adalah kemampuannya mencegah perbuatan keji dan mungkar (tanha ‘anil fahsya’i wal munkar). Jika seseorang rajin salat namun masih melakukan perbuatan tercela, maka salatnya baru sebatas “output”, belum menjadi “outcome”.

Kedua, zakat. Membersihkan harta melalui zakat harus berdampak pada kebersihan jiwa, memastikan tidak ada hak orang miskin yang termakan atau dicuri dari harta tersebut. Ketiga, haji. Prof. Badat mengingatkan bahwa indikator haji yang mabrur bukanlah sekadar selesai menunaikan rukun di Tanah Suci, melainkan tercermin sekembalinya ke Tanah Air melalui sikap gemar memberi makan (ath’imut tha’am) dan menebarkan kedamaian (ifsyau salam).

Keempat, puasa Ramadan. Tujuan akhir puasa adalah mencapai predikat takwa (la’allakum tattaqun). Tanda-tanda ketakwaan ini, menurut Prof. Badat, sangat nyata dampaknya secara sosial, yakni gemar berinfak di kala lapang maupun sempit, mampu menahan amarah, dan mudah memaafkan kesalahan orang lain.

Secara brilian, Prof. Badat menarik benang merah antara ibadah berstandar tinggi di bulan Ramadan—seperti menghidupkan malam dengan Tarawih (Qiyamul Lail) secara konsisten—dengan etos kerja di dunia akademik.

“Di kampus kita sudah terkenal begini, kalau kita mau unggul, kita harus melampaui standar nasional,” tegasnya. Ia menganalogikan puasa Ramadan sebagai momentum bagi umat Islam untuk melampaui standar ibadah biasa, demi meraih predikat “unggul” di mata Allah SWT, yang pada gilirannya akan membawa keberkahan dan kemajuan bagi institusi.

Tasawuf Modern Bukan Menjauhi Dunia, Tapi Profesionalisme Berbasis Hati

MALANG – Universitas Islam Malang (UNISMA) kembali menggelar kajian rutin “Mutiara Hikmah” di Masjid Ainul Yaqin, Rabu (11/02/2026). Dalam kesempatan tersebut, Dr. Afifudin, S.Ag., M.Si. menyampaikan pandangan yang meluruskan miskonsepsi umum mengenai tasawuf dan relevansinya dengan etos kerja profesional di lingkungan akademik.

Dr. Afifudin membuka ceramahnya dengan menekankan bahwa tasawuf sejati tidak mengharuskan seseorang untuk mengisolasi diri dari kehidupan duniawi. “Tasawuf itu intinya ada di hati, manajemen qolbu. Bagaimana kita manusia tidak tergantung kepada selain Allah,” ujarnya di hadapan jamaah salat Zuhur.

Menurutnya, kehidupan di dunia adalah anugerah yang harus dimaksimalkan sebagai ladang amal, bukan ditinggalkan. Ia menggarisbawahi pentingnya bekerja sebagai sebuah kewajiban syariat, bukan sekadar rutinitas mencari nafkah.

“Jangan sampai kita melupakan hidup di dunia ini. Bekerja itu adalah kewajiban. Dosen dan karyawan wajib bekerja di UNISMA, harus nomor satu, jangan dinomorduakan dengan yang sunnah,” tegas Dr. Afifudin, mengingatkan agar sivitas akademika menempatkan prioritas yang tepat antara kewajiban profesi dan ibadah sunnah.

Dalam analisisnya terhadap Al-Qur’an, Dr. Afifudin memaparkan data menarik mengenai frekuensi kata ‘ibadah’ (104 kali) berbanding dengan kata ‘amila’ atau bekerja (284 kali). Hal ini, menurut beliau, adalah isyarat ilahiah agar umat Islam rajin bekerja dan berkarya secara nyata.

“Kita harus adil. Menempatkan yang wajib jadi wajib, yang sunnah jadi sunnah. Bekerja itu punya nilai ibadah,” tambahnya. Ia juga menyinggung tanggung jawab orang tua terhadap anak yang sudah baligh, mengutip Kitab Kasyifatus Saja, bahwa kewajiban menafkahi gugur kecuali jika anak tersebut sedang menuntut ilmu.

Kajian ditutup dengan ajakan untuk memadukan ilmu kauniyah (alam semesta) dan qauliyah (wahyu) dalam rangka memuliakan institusi pendidikan. Dr. Afifudin berharap seluruh elemen UNISMA, mulai dari mahasiswa hingga dosen, dapat menjalankan perannya dengan profesional sebagai bentuk pengabdian kepada Allah SWT.

Dari Pendewasaan Akademik hingga Persiapan Skripsi: Refleksi Mahasiswa Penerima Beasiswa Cendekia BAZNAS

Nama: Erlyn Wahyu Safitri
NPM: 22201021067
Prodi: Hukum

Tahun 2025 menjadi tahun yang penuh makna dalam perjalanan akademik dan pengembangan diri saya sebagai mahasiswa sekaligus penerima Beasiswa Cendekia BAZNAS. Jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, saya merasakan adanya perubahan dan perkembangan yang cukup signifikan, baik dari segi pola pikir, kedisiplinan, maupun semangat dalam menjalani proses perkuliahan. Tahun ini menjadi fase pendewasaan, terutama karena saya telah memasuki semester 7 dan berada pada tahap awal penyusunan skripsi.

Selama tahun 2025, saya menjalani proses perkuliahan dengan kesadaran yang lebih tinggi akan tanggung jawab sebagai mahasiswa tingkat akhir. Beban akademik yang semakin menantang menuntut saya untuk lebih teratur dalam mengelola waktu, lebih teliti dalam memahami materi, serta lebih konsisten dalam menyelesaikan tugas-tugas perkuliahan. Memasuki tahap skripsi menjadi momen penting yang mendorong saya untuk meningkatkan kualitas belajar, memperdalam pemahaman keilmuan, serta membangun komitmen untuk menyelesaikan studi tepat waktu. Dari segi pencapaian, saya menilai bahwa tahun 2025 memberikan banyak kemajuan dibandingkan tahun sebelumnya. Saya menjadi lebih fokus terhadap tujuan akademik, lebih bersemangat dalam mengikuti perkuliahan, serta mulai terbiasa dengan pola belajar mandiri yang dibutuhkan dalam tahap penyusunan skripsi. Selain itu, saya juga mengalami peningkatan dalam kemampuan berpikir kritis dan analitis, khususnya dalam mengkaji permasalahan akademik yang berkaitan dengan bidang studi yang saya tekuni. Pencapaian ini menjadi modal penting dalam menghadapi tahap akhir perkuliahan.

Namun demikian, perjalanan selama tahun 2025 juga tidak lepas dari berbagai tantangan. Tantangan terbesar yang saya hadapi adalah menjaga konsistensi di tengah tuntutan akademik yang semakin tinggi. Tekanan dalam menentukan arah skripsi, mengelola waktu antara perkuliahan dan aktivitas lainnya, serta menjaga motivasi agar tetap stabil menjadi hal yang perlu saya hadapi dengan bijak. Tantangan tersebut sempat menimbulkan rasa lelah secara mental, namun justru mengajarkan saya pentingnya kesabaran, manajemen diri, dan ketekunan dalam menjalani proses.

Sebagai penerima Beasiswa Cendekia BAZNAS, saya menyadari bahwa posisi ini bukan hanya sebagai penerima bantuan pendidikan, tetapi juga sebagai individu yang memikul amanah dan tanggung jawab moral. Beasiswa ini menjadi sumber motivasi besar bagi saya untuk terus meningkatkan kualitas diri, baik secara akademik maupun karakter. Evaluasi terhadap peran tersebut menunjukkan bahwa saya telah berusaha menjaga komitmen belajar dengan baik, namun masih perlu meningkatkan kontribusi dan prestasi agar sejalan dengan nilai-nilai kebermanfaatan yang diusung oleh BAZNAS.

Memasuki tahun 2026, saya menyusun rencana dan target pengembangan diri yang lebih terarah dan terukur. Salah satu target utama yang ingin saya capai adalah menyelesaikan studi dalam waktu 3,5 tahun sebagai bentuk tanggung jawab akademik dan pemanfaatan kesempatan pendidikan secara optimal. Target tersebut mendorong saya untuk lebih disiplin dalam menyusun jadwal bimbingan skripsi, menjaga konsistensi penulisan, serta meningkatkan kualitas riset dan analisis ilmiah.
Selain fokus pada penyelesaian skripsi, saya juga berkomitmen untuk tetap menjaga kualitas akademik hingga akhir masa studi. Saya menyadari bahwa kelulusan tepat waktu tidak hanya membutuhkan kecerdasan intelektual, tetapi juga kedisiplinan, manajemen waktu yang baik, dan ketahanan mental. Oleh karena itu, pada tahun 2026 saya menargetkan peningkatan kemampuan riset, penulisan ilmiah, serta penguatan soft skills seperti tanggung jawab, komunikasi akademik, dan etos kerja yang profesional.

Menumbuhkan Prestasi dan Kepedulian Sosial: Refleksi Mahasiswa Pendidikan Bahasa Arab UNISMA

Tahun 2025 menjadi periode yang sangat bermakna dalam perjalanan akademik dan pengembangan diri saya sebagai mahasiswa Pendidikan Bahasa Arab sekaligus penerima Beasiswa Cendekia BAZNAS. Tahun ini bukan hanya tentang menyelesaikan kewajiban perkuliahan, tetapi juga tentang proses pendewasaan diri melalui berbagai pengalaman, tantangan, serta keterlibatan aktif dalam kegiatan akademik dan non-akademik. Melalui refleksi akhir tahun ini, saya berupaya mengevaluasi perjalanan yang telah dilalui serta merumuskan langkah pengembangan diri yang lebih terarah untuk tahun 2026.
Selama tahun 2025, proses perkuliahan memberikan banyak pembelajaran, baik dari segi akademik maupun pembentukan karakter. Materi perkuliahan menuntut konsistensi belajar, pemahaman mendalam, serta kemampuan berpikir kritis. Dalam perjalanannya, saya menghadapi tantangan berupa pengelolaan waktu antara kuliah dan kegiatan di luar kelas. Namun, dari proses tersebut saya belajar pentingnya disiplin, tanggung jawab, serta kemampuan mengatur prioritas agar seluruh kewajiban dapat dijalani secara seimbang. Selain kegiatan akademik, saya juga aktif mengikuti berbagai kegiatan di luar perkuliahan. Saya tergabung dalam organisasi Himpunan Mahasiswa Pendidikan Bahasa Arab yang menjadi wadah untuk melatih kepemimpinan, kerja sama tim, serta tanggung jawab organisasi. Melalui organisasi ini, saya belajar bagaimana berkomunikasi secara efektif, menyampaikan gagasan, serta mengambil peran dalam kegiatan kemahasiswaan. Selain itu, saya juga aktif di Unit Kreativitas Mahasiswa Global Language Community yang membantu saya mengembangkan minat dan keterampilan berbahasa asing serta memperluas wawasan kebahasaan dalam konteks global. Untuk menunjang kemampuan bahasa Arab, saya rutin mengikuti kelas bahasa Arab yang dilaksanakan dua kali dalam sebulan bersama alumni pondok pesantren. Kegiatan ini sangat membantu dalam meningkatkan keterampilan berbahasa Arab, baik dari segi pemahaman maupun praktik. Di sisi lain, saya juga berusaha mengimplementasikan ilmu yang dimiliki melalui kegiatan mengajar, seperti mengajar ngaji setiap akhir pekan serta memberikan les privat dua kali dalam seminggu. Kegiatan mengajar tersebut melatih kesabaran, tanggung jawab, serta kemampuan menyampaikan materi dengan baik dan sistematis. Dari berbagai aktivitas yang dijalani, saya memperoleh sejumlah pencapaian, khususnya dalam peningkatan kepercayaan diri, kemampuan komunikasi, dan penguatan nilai kepedulian sosial. Namun demikian, tantangan tetap ada, terutama dalam menjaga konsistensi, manajemen waktu, serta keseimbangan antara akademik dan non-akademik. Hal ini menjadi bahan evaluasi penting agar ke depan saya dapat menjalani seluruh aktivitas dengan lebih terencana dan efektif.

Sebagai penerima Beasiswa Cendekia BAZNAS, saya menyadari bahwa beasiswa ini merupakan amanah yang harus dijaga dengan sebaik-baiknya. Tidak hanya dituntut untuk berprestasi secara akademik, tetapi juga memiliki kontribusi nyata bagi masyarakat. Sepanjang  tahun 2025, saya berupaya menjalankan peran tersebut melalui sikap disiplin, keterlibatan dalam kegiatan positif, serta pengabdian sederhana melalui kegiatan mengajar. Meski demikian, saya menyadari bahwa kontribusi tersebut masih perlu ditingkatkan agar dampaknya dapat dirasakan lebih luas.
Memasuki tahun 2026, saya menargetkan pengembangan diri yang lebih terarah dan berkelanjutan. Saya berencana meningkatkan prestasi akademik melalui manajemen waktu yang lebih baik dan pola belajar yang konsisten. Selain itu, saya ingin lebih aktif dan produktif dalam organisasi serta kegiatan pengabdian masyarakat yang selaras dengan nilai-nilai Beasiswa Cendekia BAZNAS. Pengembangan soft skills seperti kepemimpinan, komunikasi, dan problem solving juga menjadi fokus utama agar saya dapat menjadi pribadi yang lebih siap menghadapi tantangan di masa depan.

Sebagai penutup, refleksi akhir tahun ini menjadi momentum evaluasi sekaligus motivasi untuk terus bertumbuh. Dengan perencanaan yang matang, niat yang kuat, serta
komitmen untuk menjaga amanah, saya berharap tahun 2026 dapat menjadi tahun yang lebih produktif, bermanfaat, dan bermakna bagi diri saya serta lingkungan sekitar.

Nama: Qonitah
NPM: 22301015016

Prodi: Pendidikan Bahasa Arab

Menapaki Peran Akademik dan Sosial: Refleksi Mahasiswa Pendidikan Bahasa Arab UNISMA

Tahun 2025 menjadi fase yang sangat bermakna dalam perjalanan akademik dan pengabdian sosial saya sebagai mahasiswa akhir semester tujuh Program Studi Pendidikan Bahasa Arab, Fakultas Agama Islam, Universitas Islam Malang, sekaligus sebagai penerima Beasiswa Cendekia BAZNAS. Pada tahun ini, saya tidak hanya dihadapkan pada tuntutan akademik dan proses penyusunan skripsi, tetapi juga kesempatan untuk mengimplementasikan ilmu dan nilai kebermanfaatan melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Selama tahun 2025, proses pembelajaran yang saya jalani semakin menuntut kemandirian, kedewasaan berpikir, serta tanggung jawab yang lebih besar. Fokus akademik saya mulai diarahkan pada pendalaman keilmuan dan penyusunan skripsi sebagai puncak proses pembelajaran di perguruan tinggi. Proses ini melatih saya untuk berpikir kritis, sistematis, dan konsisten dalam mengelola waktu serta emosi. Saya menyadari bahwa skripsi bukan sekadar kewajiban akademik, melainkan sarana pembentukan karakter ilmiah dan profesionalisme sebagai calon pendidik Bahasa Arab.

Salah satu pengalaman paling berkesan pada tahun ini adalah pelaksanaan PPLK (Praktik Pengalaman Lapangan Kependidikan) yang saya jalani pada masa liburan semester enam menuju semester tujuh. Melalui PPLK, saya memperoleh kesempatan langsung untuk terlibat dalam proses pembelajaran di lingkungan pendidikan. Pengalaman tersebut membuka wawasan saya tentang realitas dunia pendidikan, tantangan pengajaran Bahasa Arab di lapangan, serta pentingnya peran guru sebagai pendidik, pembimbing, dan teladan. Saya belajar bahwa penguasaan materi harus diiringi dengan empati, kesabaran, dan kemampuan memahami karakter peserta didik.
Di tengah pelaksanaan PPLK, saya juga melaksanakan KSM (Kandidat Sarjana Mengabdi) ekuivalen. Kegiatan ini menjadi ruang aktualisasi nilai kebermanfaatan sosial yang sangat sejalan dengan semangat Beasiswa Cendekia BAZNAS. Melalui KSM, saya berkesempatan berinteraksi langsung dengan masyarakat dan berkontribusi sesuai kapasitas keilmuan yang saya miliki. Pengalaman tersebut menanamkan kesadaran bahwa ilmu yang dipelajari di bangku kuliah seharusnya tidak berhenti pada capaian akademik semata, tetapi harus berdampak nyata bagi masyarakat. Dari sinilah saya semakin memahami bahwa peran mahasiswa adalah sebagai agen perubahan yang hadir memberi solusi, sekecil apa pun kontribusinya.

Sebagai penerima Beasiswa Cendekia BAZNAS, saya memandang seluruh proses akademik dan pengabdian yang saya jalani sebagai amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Beasiswa ini tidak hanya mendorong saya untuk berprestasi secara akademik, tetapi juga menanamkan nilai kepedulian sosial, integritas, dan kebermanfaatan. Saya berupaya menjaga kepercayaan tersebut dengan kesungguhan dalam studi, keterlibatan aktif dalam kegiatan pengabdian, serta komitmen untuk menyelesaikan studi tepat waktu. Memasuki tahun 2026, saya menetapkan beberapa rencana dan target pengembangan diri yang berorientasi pada keberlanjutan akademik dan sosial. Prioritas utama saya adalah menyelesaikan skripsi dengan baik sebagai bentuk tanggung jawab akademik dan amanah beasiswa. Selain itu, saya menargetkan peningkatan kemampuan Bahasa Arab aktif, khususnya maharah kalam dan kitabah, agar dapat menjadi pendidik yang kompeten dan komunikatif.

Saya juga berencana untuk terus mengembangkan diri dalam kegiatan yang berdampak sosial, baik melalui pendidikan, pendampingan, maupun pengabdian masyarakat berbasis keilmuan Bahasa Arab. Melalui refleksi akhir tahun ini, saya menyadari bahwa perjalanan sebagai mahasiswa akhir bukan hanya tentang menyelesaikan studi, tetapi juga tentang menyiapkan diri menjadi insan yang bermanfaat. Dengan bekal pengalaman akademik, PPLK, dan KSM, serta nilai-nilai yang saya peroleh sebagai penerima Beasiswa Cendekia BAZNAS, saya optimis dapat menjalani tahun 2026 dengan lebih matang, berdaya guna, dan berkontribusi nyata bagi pendidikan dan masyarakat.

Nama: Ibana Farikha Khoiriyah
NPM: 22201015007
Prodi: Pendidikan Bahasa Arab