MERANCANG KARIER DAN PERSONAL BRANDING DI ERA DIGITAL

MALANG — Menjadi mahasiswa sejatinya bukan sekadar tentang rutinitas menghadiri perkuliahan dan mengejar gelar sarjana. Masa studi di perguruan tinggi adalah momentum krusial untuk mempersiapkan diri menghadapi dinamika dunia profesional. Prinsip inilah yang dipegang teguh oleh Wilda Lailatul Afifah, mahasiswa Program Studi S1 Pendidikan Bahasa Arab, Universitas Islam Malang (UNISMA).

Sebagai penerima beasiswa BCB Angkatan 7, Wilda meyakini bahwa setiap pengalaman di bangku kuliah adalah proses pembentukan karakter. Di tengah padatnya jadwal akademik, ia secara proaktif mengembangkan keterampilan mengajar, kepemimpinan, komunikasi, hingga literasi digital untuk beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Mengabdi Sejak Dini Melalui Jalur Pendidikan

Tidak menunggu lulus untuk berkontribusi, Wilda saat ini telah mengabdikan dirinya sebagai guru badal di RA dan MI Al Marhamah. Selain itu, ia juga aktif mengajar di Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) dan Madrasah Diniyah di lingkungan tempat tinggalnya.

Bagi Wilda, kesempatan mengajar sejak berstatus mahasiswa adalah laboratorium nyata. Di sana, ia belajar memahami keberagaman karakter peserta didik, melatih cara penyampaian materi yang efektif, dan menumbuhkan dedikasi serta tanggung jawab sebagai seorang pendidik sejati.

Keseimbangan Akademik dan Organisasi

Kekuatan Wilda tidak hanya berpusat pada ranah akademik, khususnya dalam kemahiran membaca, menulis, berbicara, dan menerjemahkan bahasa Arab. Ia juga mematangkan diri melalui berbagai pengalaman keorganisasian.

Selama menjadi mahasiswa, ia kerap dipercaya mengemban berbagai amanah penting, mulai dari koordinator, sekretaris, hingga anggota aktif dalam berbagai organisasi kemahasiswaan dan kepanitiaan. Pengalaman lintas sektor ini sukses membentuknya menjadi figur yang disiplin, teliti, piawai dalam manajemen waktu, dan tangguh bekerja di bawah target.

Sinergi Pendidikan Bahasa Arab dan Media Multimedia

Menariknya, Wilda tidak membatasi diri pada metode pembelajaran konvensional. Ia memiliki ketertarikan mendalam pada dunia multimedia dan media digital. Ia terbiasa membuat desain publikasi, mengelola media sosial, menyusun dokumentasi kegiatan, hingga merancang konten-konten edukatif.

Kemampuan digital ini menjadi senjata utamanya sebagai calon pendidik. Wilda memandang kemajuan teknologi sebagai peluang emas untuk menciptakan ekosistem pembelajaran bahasa Arab yang lebih kreatif, interaktif, dan relevan dengan karakter generasi digital native.

Visi Karier: Dari Ruang Kelas hingga ke Tanah Suci

Bagi mahasiswa NPM 22301015005 ini, karier adalah tentang menemukan wadah terbaik untuk menebar manfaat. Dalam jangka pendek, ia menargetkan kelulusan dengan hasil maksimal. Namun, visi jangka panjangnya jauh lebih melampaui ruang kelas.

Wilda bercita-cita menjadi guru Bahasa Arab yang inspiratif; pendidik yang mampu menyadarkan peserta didiknya bahwa bahasa Arab bukan sekadar bahasa Al-Qur’an, melainkan juga instrumen komunikasi global.

Lebih dari itu, ia memiliki impian mulia untuk berkiprah di sektor pelayanan haji dan umrah. Ia menargetkan diri untuk menjadi seorang mutarjim (penerjemah) atau muthawwif (pembimbing ibadah). Profesi ini dinilainya sebagai perpaduan sempurna antara kecintaannya pada bahasa Arab dan dedikasinya dalam melayani umat, khususnya mendampingi jemaah Indonesia di Tanah Suci.

Makna Personal Branding yang Sesungguhnya

Dalam era di mana banyak pemuda berlomba-lomba memoles citra di dunia maya, Wilda memiliki pandangan yang substansial terkait personal branding.

“Personal branding bukan sekadar membangun citra diri di media sosial, melainkan membangun kepercayaan melalui sikap, karakter, dan kualitas yang ditunjukkan dalam kehidupan sehari-hari,” tegasnya. Ia berkomitmen untuk selalu dikenal sebagai pribadi yang amanah, komunikatif, dan memiliki etos belajar yang tinggi melalui tindakan nyata dan konsisten.

Melalui bekal pendidikan di Pendidikan Bahasa Arab UNISMA, pengalaman lapangan, dan integrasi teknologi digital, Wilda Lailatul Afifah membuktikan bahwa dengan kesungguhan dan kesabaran, mahasiswa dapat merancang masa depan yang berdampak luas bagi agama, bangsa, dan dunia pendidikan.

Identitas Penulis / Mahasiswa:

  • Nama: Wilda Lailatul Afifah
  • Program Studi: S1 Pendidikan Bahasa Arab, Universitas Islam Malang
  • Keterangan: Penerima BCB Angkatan 7

KISAH MUHAMMAD IMANNUDIN MENUJU PANGGUNG DIPLOMASI GLOBAL

MALANG — Di tengah pusaran dunia yang semakin kompetitif, setiap pemuda dituntut untuk tidak sekadar bermodalkan ijazah, tetapi juga memiliki identitas diri yang kuat serta rekam jejak kontribusi di masyarakat. Membangun personal branding bukan sekadar memoles citra di media sosial, melainkan proses panjang mengenali jati diri, menemukan nilai-nilai luhur, dan membuktikannya melalui tindakan nyata.

Kesadaran inilah yang dipegang teguh oleh Muhammad Imannudin, mahasiswa Program Studi Administrasi Publik, Universitas Islam Malang (UNISMA). Tumbuh dalam kesederhanaan di Sumatera Barat tidak menyurutkan langkahnya. Sebaliknya, hal tersebut memantapkan keyakinannya bahwa pendidikan adalah senjata paling ampuh untuk mengubah garis masa depan.

Sebagai salah satu penerima Beasiswa Cendekia BAZNAS, Imannudin membuktikan diri dengan aktif di berbagai kancah akademik maupun non-akademik. Melalui berbagai pengalaman organisasinya, ia berhasil memetakan tiga kekuatan utama yang menjadi fondasi personal branding-nya:

  • Komunikasi dan Public Speaking: Kemampuan memandu acara, menjadi moderator, dan menjembatani interaksi antarindividu dari berbagai latar belakang budaya.
  • Adaptasi dan Jaringan Relasi: Kecakapan dalam bekerja sama tim, beradaptasi di lingkungan baru, dan membangun jejaring profesional secara luwes.
  • Kreativitas Media Digital: Ketertarikan mendalam pada content creation dan desain komunikasi visual (DKV) untuk mengemas pesan-pesan edukatif yang berdampak bagi masyarakat luas.

“Personal branding yang kuat lahir dari kesesuaian antara karakter, kemampuan, pengalaman, dan tujuan hidup. Saya ingin dikenal bukan sekadar dari rentetan trofi, melainkan dari kebermanfaatan yang bisa saya berikan untuk lingkungan sekitar,” ungkap mahasiswa yang dikenal komunikatif, adaptif, dan kreatif ini.

Rekam Jejak Nyata dari Nasional hingga Internasional

Integritas Imannudin dalam membangun nilai diri tidak hanya sebatas konsep. Ia terus membekali dirinya dengan terjun langsung ke dunia profesional dan lintas budaya. Di tingkat nasional, ia telah berhasil menuntaskan program magang bergengsi di Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), yang memberinya pemahaman tajam mengenai kebijakan publik, tata kelola kelembagaan, serta dinamika ekonomi nasional.

Di kancah internasional, kapasitas lintas budayanya diuji dan ditempa. Ia terjun sebagai Liaison Officer (LO) dalam ajang ASEAN University Games 2024 dan kembali dipercaya memegang peran serupa di ajang UM iCamp 2026. Berhadapan langsung dengan delegasi dari berbagai negara mengasah kemampuannya dalam memberikan pelayanan standar internasional, problem solving yang cepat, dan ketahanan beradaptasi di lingkungan multikultural.

Merajut Mimpi di Jalur Diplomasi Antarnegara

Seluruh portofolio cemerlang yang dibangun Imannudin bermuara pada satu rencana karir masa depan yang ambisius: bidang diplomasi internasional dan kerja sama global.

Ia memiliki visi yang jauh ke depan mengenai bagaimana sebuah negara dapat membangun jembatan komunikasi melalui diplomasi pembangunan, pertukaran budaya, hingga kolaborasi ekonomi. Baginya, diplomasi bukan sekadar lobi politik eksklusif, melainkan ikhtiar membangun jembatan yang membawa kemaslahatan bagi masyarakat dunia.

Ke depannya, Imannudin berharap dapat bergabung dengan institusi strategis yang bergerak di bidang hubungan internasional. Dengan bekal pendidikan, penguasaan bahasa asing, dan deretan pengalaman globalnya di UNISMA, ia bersiap menjadi representasi generasi muda Indonesia yang membawa harum nama bangsa dan merajut kolaborasi konstruktif antarnegara.

MENGENAL POTENSI DAN STRATEGI PERSONAL BRANDING ALA PRAMUDITA, MAHASISWA AKUNTANSI FEB

KAMPUS — Menghadapi dunia kerja yang semakin kompetitif, persiapan akademik saja tidak lagi cukup. Kesadaran inilah yang dipegang teguh oleh Pramudita Dwi Septyorini, mahasiswa semester enam Program Studi Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) sekaligus penerima beasiswa (Awardee) BCB 7. Melalui sebuah esai karir yang menggugah, Pramudita membagikan pandangannya mengenai pentingnya mengenali potensi diri, membangun personal branding, dan merancang peta jalan karir di bidang akuntansi dan keuangan.

Keseimbangan Akademik dan Pengalaman Praktis Dalam perjalanannya sebagai mahasiswa, Pramudita tidak hanya berfokus pada ruang kelas. Ia aktif terjun ke dalam berbagai organisasi, seperti Himpunan Mahasiswa Akuntansi dan Tax Center. Keterlibatan ini memberikannya wadah untuk mengasah kemampuan kerja sama tim, manajemen program kerja, dan komunikasi lintas pihak.

Tidak berhenti di lingkup kampus, ia juga mengantongi pengalaman magang di Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Kota Malang pada bagian Kesekretariatan dan PPM. Pengalaman nyata ini menguji kemampuannya dalam hal administrasi perkantoran, tata kelola dokumen yang sistematis, hingga koordinasi antarinstansi.

Empat Pilar Kekuatan Diri Melalui proses refleksi dan pengembangan diri, Pramudita mengidentifikasi empat kekuatan utama yang menjadi modal esensialnya menembus dunia profesional:

  • Administrasi dan Ketelitian Tinggi: Terbiasa berhadapan dengan data dan dokumen membantunya bekerja secara terorganisir, sebuah keterampilan mutlak bagi seorang akuntan.
  • Kepemimpinan dan Keorganisasian: Pengalaman memimpin program kerja kampus melatihnya untuk berani mengambil tanggung jawab dan memecahkan masalah.
  • Adaptabilitas dan Semangat Belajar: Ia memiliki keterbukaan terhadap hal baru dan kemauan untuk terus meningkatkan pengetahuan melalui pelatihan maupun seminar.
  • Komunikasi dan Manajemen Waktu: Keterlibatannya dalam banyak aktivitas menuntutnya untuk mahir berinteraksi sekaligus menetapkan skala prioritas.

Peta Jalan Karir yang Terukur Sebuah karir yang brilian membutuhkan perencanaan yang matang. Pramudita telah merumuskan target karirnya ke dalam tiga tahapan strategis:

  1. Jangka Pendek: Fokus utamanya saat ini adalah menyelesaikan pendidikan sarjana dengan hasil maksimal. Ia juga membekali diri dengan berbagai sertifikasi keahlian, peningkatan kemampuan bahasa Inggris, dan literasi teknologi informasi.
  2. Jangka Menengah (1–5 Tahun): Pasca-kelulusan, targetnya adalah terjun langsung secara profesional di perusahaan bidang akuntansi, keuangan, atau perpajakan untuk memperdalam hard skill teknis dan memperluas jaringan profesional (networking).
  3. Jangka Panjang (>5 Tahun): Mengemban posisi dengan tanggung jawab strategis yang berkontribusi langsung pada pengambilan keputusan bisnis, serta menjadi profesional berintegritas yang bermanfaat bagi masyarakat luas.

Personal Branding: Lebih dari Sekadar Pencitraan Bagi Pramudita, personal branding adalah kunci untuk dikenal melalui kompetensi, karakter, dan nilai positif. Ia menegaskan bahwa reputasi yang baik tidak dibangun dari sekadar pencitraan yang semu, melainkan dari konsistensi, etika, dan kualitas kerja sehari-hari.

“Karir yang sukses tidak tercipta secara instan, melainkan melalui proses panjang yang melibatkan pembelajaran dan pengembangan diri berkelanjutan,” ungkapnya optimis.

Langkah konkret dan visi matang yang ditunjukkan oleh Pramudita ini diharapkan dapat menjadi pemicu semangat bagi seluruh mahasiswa, khususnya di lingkungan FEB, untuk mulai mengenali potensi diri dan merancang masa depan sedini mungkin.

POTRET MAHASISWA PENDIDIKAN BAHASA ARAB UNISMA DALAM MERANCANG KARIR DAN PERSONAL BRANDING

MALANG — Masa perkuliahan bukan sekadar ajang untuk menimba ilmu di dalam kelas, melainkan masa keemasan untuk mengenali potensi diri dan membangun rekam jejak (personal branding). Kesadaran inilah yang ditunjukkan oleh Qonitah (NPM: 22301015016), salah satu mahasiswa berprestasi dari Program Studi Pendidikan Bahasa Arab, Universitas Islam Malang (UNISMA).

Bagi Qonitah, setiap individu dianugerahi kelebihan yang unik. Melalui minat besarnya di bidang pendidikan, bahasa, dan komunikasi, ia secara aktif memoles potensinya melalui berbagai kegiatan ekstrakurikuler kampus.

Aktif Berorganisasi dan Berwirausaha Di sela-sela kesibukan akademiknya, Qonitah aktif tergabung dalam organisasi kemahasiswaan Unit Kreativitas Mahasiswa (UKM) Global Language Community (GLC) UNISMA. Di organisasi ini, ia mengemban amanah sebagai tutor bahasa Arab, bertugas mendampingi dan mengajar mahasiswa lain untuk meningkatkan kemampuan linguistik mereka.

Tidak hanya pandai di bidang akademik, Qonitah juga memiliki jiwa kewirausahaan. Pengalamannya merintis usaha kecil-kecilan dengan menjual buket bunga telah memberikan banyak pelajaran berharga. Dari sini, ia mengasah keterampilan komunikasi dengan pelanggan, manajemen waktu, hingga tanggung jawab manajerial. Beragam pengalaman lintas bidang ini mengukuhkan kekuatannya dalam hal mengajar, kepemimpinan, kreativitas, dan adaptabilitas.

Membangun Personal Branding Pendidik Profesional Bagi seorang mahasiswa calon guru, personal branding adalah aset masa depan. Qonitah merancang citra dirinya sebagai pendidik yang profesional, kreatif, komunikatif, dan mumpuni dalam berbahasa Arab. Ia ingin dikenal luas sebagai sosok yang disiplin, kooperatif, dan membawa manfaat nyata bagi lingkungan sekitar.

Untuk mewujudkan branding tersebut, langkah nyata terus ia lakukan. Mulai dari meningkatkan kompetensi akademik, memperluas relasi lintas fakultas, mengasah kemampuan public speaking, hingga yang paling esensial: menjaga adab dan etika dalam keseharian sebagai cerminan karakter sejati seorang pendidik.

Peta Jalan Karir: Dari Tutor Menuju Akademisi Qonitah memiliki peta jalan karir (career path) yang sangat terstruktur. Cita-cita tertingginya adalah menjadi akademisi dan dosen di bidang bahasa Arab yang mampu menghadirkan metode pembelajaran yang inovatif dan berkualitas.

Dalam jangka pendek, fokus utamanya adalah menyelesaikan studi S1 dengan predikat memuaskan, sembari terus memanfaatkan perannya di UKM GLC untuk mematangkan jiwa kepemimpinan. Setelah meraih gelar Sarjana, ia telah memproyeksikan diri untuk menempuh pendidikan Magister (S2) linear di bidang Pendidikan Bahasa Arab atau Pendidikan Islam guna memperdalam keilmuannya.

Sementara itu, untuk target jangka menengah dan panjang, Qonitah bertekad terjun langsung sebagai pendidik, aktif mempublikasikan karya ilmiah pendidikan, serta mengikuti berbagai seminar pengembangan kompetensi. Menariknya, ia juga berkomitmen untuk tidak melepaskan jiwa kewirausahaannya demi menciptakan peluang usaha yang mendukung kemandirian ekonomi.

Sebuah Pesan Kesuksesan Kisah Qonitah menegaskan bahwa karir yang sukses tidak pernah lahir dari proses yang instan. Dibutuhkan perencanaan yang matang, usaha keras, dan pengembangan diri yang berkelanjutan. Melalui pemahaman mendalam terhadap potensi diri dan personal branding yang terarah, Qonitah membuktikan bahwa mahasiswa UNISMA siap menatap masa depan cerah, menebar manfaat, dan menjadi kebanggaan almamater.

KIPRAH AFIFI LUTFI, MAHASISWA BIOLOGI UNISMA BANGUN PERSONAL BRANDING MENUJU CITA-CITA SAINTIS

MALANG — Pendidikan di perguruan tinggi hakikatnya bukan sekadar ruang untuk mengasah kecerdasan kognitif di dalam kelas, melainkan kawah candradimuka untuk membentuk karakter dan pengabdian. Prinsip inilah yang dipegang teguh oleh Afifi Lutfi, mahasiswa Program Studi Biologi, Universitas Islam Malang (UNISMA), yang juga merupakan salah satu penerima Beasiswa Cendekia BAZNAS (BCB) Angkatan 7.

Bagi Afifi, masa perkuliahan adalah momentum emas untuk mengembangkan potensi diri dan merancang peta karier (career path) yang terarah. Ketertarikannya yang mendalam pada dunia sains dan fenomena kehidupan mendorongnya untuk selalu haus akan ilmu dan tidak pernah berhenti mengeksplorasi kapasitas dirinya.

Harmoni antara Spiritual, Sosial, dan Organisasi

Di luar kesibukan akademiknya di laboratorium dan ruang kuliah, mahasiswa Biologi ini dikenal dengan rekam jejak pengabdian yang inspiratif. Afifi mendedikasikan kesehariannya sebagai seorang marbot masjid. Baginya, amanah mengurus rumah ibadah adalah wadah nyata untuk memupuk kedisiplinan, kepedulian sosial, serta belajar melayani masyarakat dengan penuh keikhlasan.

Tidak berhenti pada ranah spiritual dan sosial, ia juga turut mengambil peran strategis di Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) tingkat Fakultas. Keterlibatannya di organisasi kemahasiswaan menjadi ruang inkubasi bagi kemampuan kepemimpinannya, di mana ia banyak belajar mengenai kerja sama tim, komunikasi publik, resolusi konflik, serta tata kelola berbagai kegiatan kampus.

Fokus Riset dan Cita-Cita Menjadi Saintis

Saat ini, Afifi tengah memfokuskan dirinya untuk mendampingi dosen dalam berbagai proyek penelitian. Kesempatan akademik ini tidak disia-siakannya. Melalui bimbingan langsung dari pakar kampus, ia menajamkan pemahamannya tentang metode ilmiah, teknik pengumpulan dan analisis data, hingga melatih daya pikir yang kritis dan sistematis.

“Melalui kegiatan penelitian tersebut, saya semakin yakin bahwa dunia penelitian merupakan bidang yang ingin saya tekuni di masa depan,” ungkap Afifi dalam catatan refleksinya.

Berbekal pengalaman dan minat yang kuat, ia menargetkan diri untuk menjadi seorang saintis yang andal. Ia bertekad agar hasil risetnya kelak, khususnya di bidang keilmuan Biologi, mampu memberikan kontribusi nyata dan kebermanfaatan bagi masyarakat luas serta kelestarian lingkungan. Untuk mewujudkan mimpi tersebut, Afifi berencana untuk terus memperbanyak jam terbang riset, aktif mengikuti seminar dan pelatihan ilmiah, hingga melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi.

Membangun Personal Branding Islami dan Berprestasi

Sebagai mahasiswa, Afifi sukses membangun personal branding yang kuat dan selaras dengan nilai-nilai luhur almamater: religius, bertanggung jawab, disiplin, dan memiliki etos belajar yang tinggi. Ia membuktikan bahwa seorang mahasiswa ideal mampu menyeimbangkan tiga pilar sekaligus, yakni pencapaian akademik, kiprah organisasi kemahasiswaan, dan pengabdian murni kepada masyarakat.

Menurutnya, personal branding yang baik tidak lahir dari klaim semata, melainkan dibangun melalui tindakan nyata dan konsistensi dalam menjalankan prinsip hidup.

“Sebagai penerima Beasiswa Cendekia BAZNAS, saya menyadari bahwa setiap kesempatan yang diberikan merupakan amanah yang harus dijaga dengan sebaik-baiknya. Saya berkomitmen untuk terus belajar, berkarya, dan memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar,” pungkasnya.

Kisah perjalan Afifi Lutfi ini menjadi cerminan bahwa dengan perencanaan karier yang matang, dedikasi, serta pengembangan karakter yang positif, mahasiswa mampu melangkah mantap mewujudkan cita-citanya menjadi generasi cendekia yang bermanfaat bagi agama, nusa, dan bangsa.

Mengukur Kemuliaan Sejati: Tiga Pilar Peningkatan Kualitas Diri di Era Modern

MALANG — Standar kesuksesan dan kemuliaan di era modern kerap kali direduksi menjadi sekadar pencapaian material, pangkat, dan jabatan struktural. Akibatnya, banyak manusia terjebak dalam perlombaan duniawi yang melelahkan dan kehilangan orientasi spiritual. Menepis paradigma sempit tersebut, Dr. Dian Mohammad Hakim, M.Pd.I., tampil memberikan oase pencerahan dalam mimbar “Mutiara Hikmah” di Masjid Kampus Ainul Yaqin Universitas Islam Malang (UNISMA) pada Selasa (28/4/2026).

Di hadapan para civitas akademika, Dr. Dian menegaskan kembali konstitusi ilahiah yang tertuang dalam Surah Al-Hujurat ayat 13: “Inna akramakum ‘indallahi atqakum” (Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa). Ayat ini mendobrak sekat-sekat hierarki sosial, menegaskan bahwa parameter kemuliaan di mata Sang Pencipta bersifat mutlak dan sangat demokratis, yakni ketakwaan.

Lantas, bagaimana memanifestasikan ketakwaan tersebut menjadi sebuah peningkatan kualitas diri yang nyata? Dr. Dian merumuskan tiga pilar fundamental yang harus diseimbangkan oleh setiap insan muslim.

Pilar pertama adalah Tazkiyatun Nafs atau penyucian jiwa. Menurutnya, kualitas diri sangat hierarkis dengan kualitas hati. Amal ibadah secara fisik—sehebat apa pun bentuknya—akan hancur lebur di hadapan Allah apabila di dalamnya bersarang penyakit batin seperti iri, dengki, sombong, dan riya’. Hati yang bersih adalah pintu gerbang diterimanya seluruh amal perbuatan.

Pilar kedua adalah Thalabul Ilmi (mencari ilmu). Pilar ini memiliki relevansi yang sangat kuat bagi lingkungan kampus. Ilmu diposisikan sebagai cahaya yang menjadi kompas bagi ibadah. “Ibadah tanpa ilmu akan buta, sedangkan ilmu tanpa ibadah akan sia-sia,” tegas Dr. Dian. Orang yang terus memperkaya keilmuannya tidak hanya akan mampu membedakan haq dan bathil, tetapi juga dijanjikan elevasi derajat oleh Allah SWT.

Pilar ketiga sekaligus muara dari seluruh proses di atas adalah Amal Shalih (implementasi ilmu). Kualitas diri seseorang akan teruji saat ilmu dan keimanannya mampu memberikan dampak sosial. Sejalan dengan prinsip propetik “Khairunnas anfa’uhum linnas” (sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya), ilmu yang berkah adalah ilmu yang ditransformasikan menjadi solusi bagi permasalahan masyarakat.

Di akhir paparannya, Dr. Dian mengajak seluruh jamaah untuk menjadikan sisa usia sebagai momentum berbenah. Integrasi antara hati yang suci, akal yang berilmu, dan raga yang beramal shalih adalah racikan paripurna untuk menjemput akhir kehidupan yang husnul khatimah.

Zakat dan Kepedulian Sosial: Membangun Solidaritas dan Mengentaskan Ketimpangan dari Mimbar UNISMA

MALANG – Memasuki hari ke-19 di bulan suci Ramadan, umat Islam kembali diajak untuk merefleksikan esensi ibadah puasa yang tidak hanya berdimensi spiritual, tetapi juga sangat kental dengan dimensi sosial. Pesan mendalam ini disampaikan oleh Dr. H. Noor Shoodiq Askandar, SE., MM. dalam Kultum Mutiara Hikmah bertajuk “Zakat dan Kepedulian Sosial sebagai Penguat Solidaritas Warga Kampus” yang diselenggarakan di Masjid Ainul Yaqin, Universitas Islam Malang (UNISMA) pada Senin, 9 Maret 2026.

Dalam pemaparannya, Dr. Noor Shoodiq Askandar menyoroti pentingnya menjaga keseimbangan antara mengejar pencapaian ilmu pengetahuan di dunia akademis dan menumbuhkan kepedulian nyata terhadap masyarakat sekitar. Beliau secara spesifik mengutip tiga landasan ayat suci Al-Qur’an yang patut dijadikan pedoman hidup. Pertama, janji Allah untuk mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu pengetahuan. Kedua, sebuah peringatan tegas dalam Surah Adz-Dzariyat ayat 19 bahwa pada setiap harta yang dimiliki seseorang, mutlak terdapat hak bagi orang miskin, baik mereka yang secara terbuka meminta-minta maupun yang menjaga kehormatannya dengan menahan diri dari meminta. Ketiga, teguran keras yang termaktub dalam Surah Al-Ma’un, yang mendefinisikan para pendusta agama sebagai golongan orang yang gemar menghardik anak yatim dan enggan mendorong pemberian makan kepada fakir miskin.

Lebih lanjut, penceramah menjabarkan bahwa ajaran Islam telah menyediakan empat instrumen keuangan sosial yang sangat komprehensif, yakni zakat, infak, sedekah, dan wakaf (ZISWAF). Beliau berargumen bahwa jika instrumen-instrumen filantropi ini diimplementasikan dengan kepatuhan tinggi oleh umat, maka tingkat kesenjangan ekonomi di akar rumput niscaya akan menyusut secara signifikan. Beliau menegaskan bahwa menurunnya tingkat ketimpangan ekonomi ini berbanding lurus dengan peningkatan jaminan keamanan sosial di masyarakat. Sebaliknya, ketika kesenjangan ekonomi dibiarkan semakin melebar, maka tingkat kriminalitas di suatu wilayah akan ikut melonjak tajam. Untuk memperkuat argumennya, beliau memberikan analogi sederhana mengenai kondisi keamanan di masa lampau, di mana kendaraan seperti sepeda motor atau sepeda kayuh yang dibiarkan tidak dikunci di depan rumah akan tetap aman karena rendahnya tingkat kecemburuan sosial saat itu.

Dr. Noor Shoodiq Askandar juga menghadirkan contoh-contoh konkret mengenai implementasi sunnah kepedulian sosial yang secara historis mengakar dalam kehidupan sehari-hari masyarakat agraris dan pesisir Nusantara. Sebagai contoh, para petani padi di zaman dahulu memiliki kearifan lokal untuk tidak pernah membersihkan sisa panennya secara total di lahan sawah. Hal ini sengaja dilakukan agar para tetangga yang tidak memiliki lahan pertanian sendiri bisa ikut mencari sisa-sisa padi (ngasak) dan turut merasakan berkah panen tersebut. Begitu pula dengan kebiasaan peternak ayam yang selalu mengalokasikan sebagian hasil panennya untuk dibagikan kepada tetangga sekitar rumah, serta para nelayan yang dengan penuh kerelaan selalu memberikan tambahan tangkapan ikan kepada para pembeli maupun tetangganya. Praktik-praktik tradisional ini, menurut beliau, adalah wujud nyata dan murni dari bekerjanya instrumen keuangan sosial Islam di ranah budaya masyarakat.

Beranjak ke konteks yang lebih luas, penceramah memaparkan potensi ekonomi yang luar biasa dari kewajiban Zakat Fitrah di Indonesia. Dengan estimasi populasi nasional yang mencapai angka 280 juta jiwa, di mana lebih dari 85 persen di antaranya adalah pemeluk agama Islam, potensi penggalangan dana umat terbilang sangat masif. Beliau membuat simulasi hitungan sederhana: jika diasumsikan ada 200 juta penduduk muslim yang secara patuh menunaikan Zakat Fitrah sebesar Rp50.000 per kepala (setara dengan harga tiga kilogram beras kualitas baik), maka volume sirkulasi kekayaan yang didistribusikan kepada kelompok masyarakat miskin akan mencapai jumlah triliunan rupiah.

Penceramah kemudian menarik gagasan besar mengenai potensi filantropi ini ke dalam lingkup internal institusi UNISMA. Dengan total sumber daya manusia yang mencakup sekitar 800 orang dosen dan karyawan, potensi Zakat Fitrah yang bisa dihimpun dari lingkungan kampus ini saja sudah terbilang signifikan. Namun, beliau memberikan penekanan khusus bahwa potensi dari Zakat Mal (zakat harta kekayaan) para dosen dan karyawan UNISMA sejatinya jauh lebih raksasa lagi. Mengingat standar penghasilan bulanan para pendidik dan tenaga kependidikan di lingkungan UNISMA yang dinilai cukup tinggi, alokasi pemotongan sebesar 2,5 persen dari total penghasilan 800 karyawan tersebut akan bermuara pada dana filantropi yang luar biasa besar, terutama jika dikelola dengan serius sebagai sebuah gerakan institusional yang terpadu.

Kultum siang itu ditutup dengan sebuah penegasan kuat bahwa proses penyaluran dana zakat kepada delapan golongan yang berhak menerimanya (asnaf), khususnya kelompok fakir dan miskin, harus senantiasa dilakukan dengan tata kelola yang profesional. Dr. Noor Shoodiq Askandar mengajak seluruh elemen pimpinan, dosen, karyawan, dan mahasiswa UNISMA untuk bersama-sama menjadikan momentum bulan suci Ramadan ini sebagai titik tolak sebuah gerakan kebaikan kolektif. Secara spesifik, beliau menginisiasi agar kebiasaan mulia untuk saling menyantuni serta bergotong-royong memperbaiki fasilitas ibadah di sekitar lingkungan kampus, seperti musala-musala kampung, dapat terus dihidupkan dan dilestarikan. Beliau memungkas ceramahnya dengan pesan bahwa ibadah paripurna di bulan suci ini semestinya tidak hanya berfokus pada penguatan Habluminallah (hubungan vertikal dan ritual dengan Sang Pencipta), melainkan juga harus mewujud dalam penyempurnaan Habluminannas (hubungan horizontal dengan sesama manusia) melalui berbagai aksi nyata kepedulian sosial di akar rumput.

Menyempurnakan Ibadah Ramadan: Evaluasi Rutinitas, Ilmu, dan Amal

MALANG – Memasuki hari ke-17 di bulan suci Ramadan, umat Islam kembali diingatkan untuk melakukan introspeksi mendalam terhadap kualitas ibadah yang dijalankan. Pesan reflektif ini menggema dalam Kultum Mutiara Hikmah yang disampaikan oleh Ir. Kh. Taqijuddin Alawy, MT. di Masjid Ainul Yaqin, Universitas Islam Malang (UNISMA) pada Sabtu, 7 Maret 2026. Beliau yang hadir mewakili Prof. Maskuri menyoroti fenomena ibadah yang kerap kali terjebak dalam sekadar rutinitas tanpa pemaknaan spiritual yang esensial.

Dalam ceramahnya, Ir. Kh. Taqijuddin Alawy menekankan pentingnya muhasabah atau evaluasi diri. Beliau mengajak jamaah untuk mempertanyakan apakah ibadah puasa dan salat yang dilakukan sudah mengalami peningkatan kualitas dibandingkan hari-hari sebelumnya, atau sekadar menahan lapar dan dahaga. Sering kali, ibadah dirasakan sebagai beban karena tidak dilandasi dengan ilmu dan pemahaman yang memadai.

Salah satu contoh nyata yang disoroti adalah kecenderungan umat untuk mengabaikan salat sunnah rawatib, seperti ba’diyah Isya, karena terburu-buru mengejar salat Tarawih. Padahal, salat sunnah tersebut berfungsi sebagai penambal atas ketidaksempurnaan salat wajib. Fenomena salat Tarawih yang dilakukan secara tergesa-gesa tanpa tuma’ninah demi mengejar waktu penyelesaian juga menjadi kritik tajam dalam kultum ini. Begitu pula dengan kegiatan tadarus Al-Qur’an yang kerap kali hanya berfokus pada kecepatan membaca tanpa memperhatikan kebenaran tajwid atau pemahaman maknanya.

Lebih lanjut, penceramah mengingatkan jamaah akan keseimbangan pemenuhan kebutuhan jasmani dan rohani. Jika jasmani membutuhkan asupan makanan dan minuman, maka rohani juga membutuhkan “makanan” berupa dzikrullah atau mengingat Allah. Kesibukan memikirkan kebutuhan duniawi sering kali membuat manusia melupakan asupan bagi jiwa mereka.

Sebagai penutup, Ir. Kh. Taqijuddin Alawy memberikan pesan menohok mengenai pengelolaan harta. Beliau mengingatkan bahwa harta yang dikumpulkan dengan susah payah tidak akan dibawa mati. Oleh karena itu, cara terbaik untuk mengamankan harta adalah dengan “mendepositokannya” di jalan Allah melalui sedekah dan infak, yang akan menjadi bekal abadi di akhirat kelak.

Analogi “Tiga Staf Raja” di Mutiara Hikmah UNISMA: Dr. M. Yunus Ingatkan Kualitas Amal Menentukan Nasib di Alam Barzakh

MALANG – Rangkaian kajian Mutiara Hikmah di Masjid Ainul Yaqin Universitas Islam Malang (UNISMA) pada Kamis (05/03/2026) menghadirkan nuansa reflektif yang mendalam. Dr. H. Muhammad Yunus, S.Pd., M.Pd. yang tampil sebagai penceramah, sukses menyita perhatian jemaah melalui sebuah pendekatan storytelling atau kisah analogi tentang seorang raja dan tiga orang stafnya, untuk menggambarkan esensi pengumpulan amal ibadah di bulan puasa.

Di hadapan para mahasiswa, dosen, dan karyawan yang hadir usai salat Zuhur, Dr. Yunus menceritakan sebuah kisah alegori. Alkisah, seorang Raja memanggil tiga staf kepercayaannya. Raja tersebut memberikan sebuah karung kosong kepada masing-masing staf dan memerintahkan mereka pergi ke hutan kerajaan untuk mengumpulkan buah-buahan terbaik.

“Staf pertama menjalankan perintah ini dengan penuh amanah. Ia memilih buah yang paling segar, matang, dan manis hingga karungnya penuh. Ia berpikir, buah ini untuk rajanya, maka harus yang terbaik,” kisah Dr. Yunus.

Namun, staf kedua memiliki niat yang berbeda. Ia mengira sang Raja yang sibuk tidak akan sempat memeriksa isi karungnya. Maka, ia memasukkan buah-buahan secara asal; ada yang segar, ada yang busuk, bahkan ia mencampurnya dengan dedaunan agar karung cepat penuh.

Lebih parah lagi staf ketiga. Ia sangat meremehkan perintah tersebut dan yakin karung itu hanya formalitas semata. “Staf ketiga ini hanya mengisi karungnya dengan rumput kering, ranting, dan sampah hutan asal karungnya terlihat menggembung dari luar,” lanjutnya.

Kejutan terjadi ketika ketiga staf itu kembali ke istana. Sang Raja sama sekali tidak membuka atau memeriksa isi karung mereka. Raja justru memerintahkan pengawal untuk memenjarakan ketiga staf tersebut di sel yang terpisah selama satu bulan penuh. Syaratnya: mereka tidak diberi jatah makanan dari istana dan hanya boleh memakan apa yang ada di dalam karung yang mereka bawa sendiri.

“Bisa ditebak akhirnya. Staf pertama hidup nyaman dan sehat selama sebulan karena bekal buahnya berkualitas. Staf kedua menderita sakit perut dan tersiksa karena harus memakan buah busuk dan dedaunan. Sedangkan staf ketiga, mati kelaparan di dalam selnya,” tegas Dr. Yunus.

Di penghujung kultum, akademisi UNISMA ini menarik benang merah yang menohok hati jemaah. “Raja itu adalah perumpamaan Allah SWT. Hutan adalah dunia, dan waktu sebulan di sel adalah perumpamaan alam kubur atau barzakh. Sementara karung itu adalah amal ibadah kita, termasuk puasa Ramadan yang sedang kita jalani saat ini,” paparnya.

Beliau mengingatkan bahwa Allah SWT tidak butuh pada amal hamba-Nya. Semua ibadah puasa, salat, dan sedekah yang dikumpulkan manusia di dunia, pada akhirnya akan dikonsumsi oleh diri mereka sendiri kelak di alam barzakh. Kultum ini menjadi tamparan keras bagi siapa saja yang masih menjalankan puasa sekadar formalitas, mencampur aduk amal baik dengan maksiat (seperti staf kedua), atau bahkan tidak beramal sama sekali (seperti staf ketiga).

Membedah ‘Kurikulum Allah’: Prof. Junaidi Integrasikan Konsep OBE dan Pembelajar Mandiri dalam Bingkai Teologi

MALANG (4/3/2026) – Diskursus pendidikan tinggi saat ini didominasi oleh istilah Outcome-Based Education (OBE) dan Independent Learner (Pembelajar Mandiri). Namun, jauh sebelum jargon-jargon akademik modern ini dirumuskan, Islam sesungguhnya telah meletakkan cetak biru pendidikan tersebut melalui apa yang disebut sebagai “Kurikulum Allah”.

Paradigma yang menggabungkan pedagogi modern dan teologi ini dikupas tuntas oleh Prof. Drs. H. Junaidi, M.Pd., Ph.D. dalam mimbar kultum Mutiara Hikmah di Masjid Ainul Yaqin, Universitas Islam Malang (UNISMA), Rabu (4/3) siang.

Di hadapan civitas akademika, Prof. Junaidi memaparkan bahwa kehidupan manusia di dunia hakikatnya adalah sebuah institusi pendidikan raksasa. “Allah SWT telah menurunkan Al-Qur’an dan As-Sunnah bukan sekadar sebagai bacaan ritual, melainkan sebagai silabus atau ‘Kurikulum Allah’ yang harus kita pelajari, pahami, dan aplikasikan,” tegas Pakar Pendidikan tersebut.

OBE: Menggeser Orientasi Menuju ‘Taqwa’

Dalam sistem pendidikan konvensional, pendekatan OBE menuntut institusi untuk fokus pada hasil akhir (kompetensi) yang dikuasai mahasiswa, bukan sekadar proses belajar mengajar. Menariknya, Prof. Junaidi mengontekstualisasikan OBE ke dalam ranah spiritual.

Menurutnya, “Kurikulum Allah” juga sangat berorientasi pada hasil (outcome). Jika kampus menargetkan lulusannya siap kerja dan profesional, maka Allah menetapkan Taqwa (ketakwaan) dan Mardhatillah (ridha Allah) sebagai Ultimate Outcome (hasil akhir tertinggi) dari seorang hamba.

“Segala ibadah kita, puasa, salat, hingga proses kita menuntut ilmu di kampus ini, outcome-nya harus jelas: menjadi Muttaqin (orang yang bertakwa). Jika kita belajar keras namun outcome spiritualnya nol, maka pendidikan kita gagal di mata Sang Pencipta,” urai Prof. Junaidi.

Karakter Independent Learner dalam Islam

Lebih lanjut, Prof. Junaidi menyoroti konsep Independent Learner yang belakangan digalakkan melalui kebijakan Merdeka Belajar. Ia menjelaskan bahwa Islam sejak awal menuntut umatnya untuk menjadi pembelajar mandiri. Perintah pertama yang turun kepada Nabi Muhammad SAW adalah Iqra’ (Bacalah)—sebuah instruksi aktif yang menuntut kemandirian dalam menggali ilmu, baik dari ayat Qauliyah (teks suci) maupun Kauniyah (fenomena alam).

“Seorang muslim yang sejati adalah independent learner. Ia tidak menunggu disuapi ilmu. Ia proaktif mencari kebenaran, memikirkan penciptaan langit dan bumi, dan mengambil hikmah dari setiap kejadian. Konsep Mukallaf (individu yang terbebani kewajiban syariat) adalah bukti bahwa kita dituntut untuk mandiri dan bertanggung jawab penuh atas kapasitas intelektual dan spiritual kita sendiri,” tambahnya.

Mengakhiri paparannya, Prof. Junaidi mengajak seluruh warga UNISMA untuk tidak mendikotomikan urusan duniawi dan ukhrawi. Mengadopsi sistem OBE dan menjadi independent learner di kampus haruslah berjalan beriringan dengan ketaatan menjalankan “Kurikulum Allah” demi meraih kesuksesan yang paripurna.