Mengurai Benang Kusut Era Modern: Menjadikan Hadis Sosial sebagai Instrumen Manajemen Konflik

MALANG — Arus deras modernisasi dan digitalisasi sering kali membawa efek samping yang tak terhindarkan: tingginya friksi dan konflik sosial. Mulai dari perdebatan nirujung di media sosial, persaingan tidak sehat di lingkungan kerja, hingga keretakan dalam rumah tangga. Menjawab problematika sosiologis ini, mimbar “Mutiara Hikmah” Universitas Islam Malang (UNISMA) menghadirkan kajian bernas dari Ir. H. Zainul Arifin, MP., yang menawarkan paradigma penyelesaian konflik berbasis sunnah.

Dalam paparannya di Masjid Ainul Yaqin, Ir. Zainul Arifin menegaskan bahwa literatur hadis—khususnya yang bertema sosial (muamalah)—bukanlah sekadar artefak sejarah yang dibaca untuk menggugurkan kewajiban. Lebih dari itu, hadis sosial adalah instrumen “manajemen konflik” paripurna yang daya relevansinya justru semakin kuat di era kiwari.

“Agama Islam bukan hanya tentang sujud di atas sajadah, tapi tentang bagaimana kehadiran kita mampu menjadi solusi dan membawa rasa damai bagi masyarakat di sekitar kita,” tegas Ir. Zainul Arifin, menggeser fokus jamaah dari kesalehan ritual menuju kesalehan sosial.

Beliau membedah salah satu hadis populer mengenai anjuran menebarkan salam (“Sebarkanlah salam di antara kalian”). Dalam konteks manajemen konflik, “salam” bermakna filosofis yang jauh lebih dalam dari sekadar sapaan verbal. Salam adalah garansi keamanan. Konflik di era modern nyaris selalu bermula dari rasa terancam—baik ancaman terhadap hak, eksistensi, maupun perasaan. Apabila setiap muslim berkomitmen memberikan garansi keselamatan (dari tajamnya lisan, jemari di media sosial, dan tindakan), eskalasi konflik akan mereda dengan sendirinya.

Di samping garansi keamanan, Ir. Zainul Arifin juga menyoroti ironi era digital: manusia secara sinyal “terkoneksi” kuat, namun secara emosional dan batiniah “terputus”. Solusi Islam untuk krisis ini adalah mengembalikan muruah silaturahmi sebagai forum tabayyun (klarifikasi) dan pelebur ketegangan.

Terakhir, gesekan kepentingan di tempat kerja maupun institusi akademis dapat diredam melalui prinsip itsaar (altruisme/mendahulukan kepentingan orang lain) dan tasamuh (toleransi). Nilai-nilai profetik inilah yang harus menjadi kompas bagi civitas akademika. Mengejar target-target duniawi dan indikator kinerja adalah keniscayaan profesional, namun hal tersebut tidak boleh dibayar dengan hancurnya kualitas hubungan sosial antar-kolega.

Titik Balik Integritas: Menyelaraskan Niat, Keikhlasan, dan Etos Kerja Melalui Kisah Habib Al-Ajami

MALANG — Dinamika kehidupan profesional sering kali membawa manusia pada persimpangan antara ambisi duniawi dan panggilan nurani. Di tengah hiruk-pikuk aktivitas akademik dan administratif, kemurnian niat menjadi fondasi yang paling rentan terkikis. Merespons tantangan moral tersebut, mimbar “Mutiara Hikmah” di Masjid Ainul Yaqin Universitas Islam Malang (UNISMA) pada Senin (13/4/2026), menghadirkan refleksi spiritual yang menggugah dari Bahroin Budiya, M.Pd.

Mengawali paparannya, Bahroin mengingatkan kembali kaidah dasar ushul fikih, mahalluha fil qalbi—bahwa niat itu tempatnya bersemayam di dalam hati. Niat bukan sekadar formalitas lisan, melainkan motor penggerak bagi kualitas ibadah maupun pengajaran. Untuk memberikan gambaran konkret mengenai kekuatan niat dan keikhlasan, beliau menukil sebuah riwayat masyhur dari kitab Tadzkiratul Auliya’ tentang perjalanan spiritual Habib Al-Ajami.

Kisah Habib Al-Ajami adalah potret nyata tentang transformasi integritas moral. Di masa lalunya, ia dikenal sebagai sosok lintah darat (rentenir) yang kejam. Hidupnya bergelimang harta dari hasil riba, sementara lisan dan perilakunya sarat dengan cacian terhadap kaum fakir miskin. Reputasinya begitu kelam hingga anak-anak kecil pun mencemooh dan menjauhinya.

Titik balik kehidupan Habib Al-Ajami justru datang dari arah yang tak terduga: teguran sang istri. “Siapa tahu teguran dari keluarga, sahabat, atau istri kita sebetulnya bukan dari mereka, melainkan teguran langsung dari Allah SWT,” papar Bahroin memberikan penekanan.

Habib Al-Ajami tidak merespons teguran itu dengan arogansi, melainkan dengan perenungan mendalam. Momentum tersebut memicu ikrar tobat yang monumental. Ia mengumumkan tobatnya kepada khalayak, menyedekahkan seluruh hartanya, dan mengembalikan uang-uang hasil praktik riba kepada yang berhak hingga ia tak menyisakan apa pun untuk dirinya sendiri.

Transformasi ini menghasilkan feedback sosial yang luar biasa. Anak-anak kecil yang dahulu menghinanya, berbalik memberikan penghormatan dan menyebutnya sebagai kekasih Allah.

Kisah ini merupakan teguran keras sekaligus motivasi bagi ekosistem profesional modern. Pemulihan nama baik dan martabat sosial tidak diraih lewat pencitraan, melainkan melalui pembersihan niat dan pertobatan yang tuntas. Dalam konteks institusi pendidikan, hal ini menegaskan bahwa kebiasaan buruk yang merugikan pihak lain—baik berupa korupsi waktu, ketidakjujuran, maupun manipulasi—hanya bisa dihentikan jika ada kesadaran internal untuk kembali pada nilai-nilai keikhlasan. Ketika integritas moral telah memandu langkah, niscaya penghormatan dan keberkahan akan mengikuti secara otomatis.

Menyoal Etos Kerja Akademisi: Ketika Korupsi Waktu Menggerus Keberkahan dan Muruah Institusi

MALANG — Momentum bulan Syawal yang secara etimologis bermakna irtafa’a (peningkatan) kerap kali hanya direduksi menjadi selebrasi spiritualitas vertikal belaka. Padahal, manifestasi paling nyata dari peningkatan iman pasca-Ramadan adalah transformasi etos kerja di ruang-ruang publik. Mengurai benang merah antara ketakwaan dan profesionalisme, Yoyok Amirudin, M.Pd.I., Ph.D., dalam mimbar “Mutiara Hikmah” di Universitas Islam Malang (UNISMA), melontarkan otokritik tajam bagi para pendidik, dosen, dan tenaga kependidikan mengenai hakikat rezeki yang halal.

Dalam lanskap pendidikan tinggi, pencarian rezeki yang halal (thalabul halal) tidak sebatas menjauhi praktik suap atau pungutan liar. Berlandaskan pada Surah Al-Baqarah ayat 172, Yoyok Amirudin memperluas definisi “halal” pada dimensi integritas waktu dan pemenuhan hak-hak mahasiswa. Realitas birokrasi kampus terkadang masih diwarnai oleh anomali pendidik yang abai pada disiplin: memotong jam perkuliahan secara sepihak, menunda bimbingan skripsi dengan dalih kesibukan fiktif, hingga fenomena “menghilang” (ghosting) saat mahasiswa sangat membutuhkan arahan akademik.

Untuk memberikan tamparan moral, Yoyok menganalogikan fenomena ini melalui sebuah riwayat klasik dari kitab Al-Isabah fi Tamyiz al-Sahabah karya Ibnu Hajar Al-Asqalani. Dikisahkan seekor unta yang menuntut keadilan langsung kepada Nabi Muhammad SAW lantaran majikannya lalai memberikan hak makan dan minum. Kisah eksistensial ini diangkat sebagai cermin satir bagi dunia akademik. Jika seekor hewan saja memiliki hak konstitusional untuk “komplain” atas kelalaian pemeliharanya di hadapan hukum kenabian, lantas bagaimana dengan ribuan mahasiswa yang hak-hak akademiknya ditelantarkan oleh ego sektoral seorang pendidik?

“Andai kata para mahasiswa itu bisa komplain (seperti unta tersebut), kita semua akan terkena imbasnya. Sudahkah kita mengevaluasi diri? Sudah benarkah cara kita mengajar dan membimbing?” gugat Yoyok Amirudin di hadapan civitas akademika UNISMA.

Konsekuensi dari pengabaian tanggung jawab ini jauh lebih destruktif daripada sekadar teguran administratif. Mengutip wasiat bijak Luqman al-Hakim kepada putranya, Yoyok memaparkan bahwa kegagalan mencari rezeki dengan cara yang profesional dan halal akan bermuara pada tiga dekonstruksi fatal dalam diri manusia. Pertama, riqqatun fi dinihi (melemahnya fondasi agama). Kedua, dho’fun fi ‘aqlihi (tumpulnya ketajaman akal). Ketiga, dzahaabun fi muru’atihi (hilangnya muruah atau martabat harga diri).

Puncak dari ketiga bencana moral tersebut adalah istikhfafun-nasu bihi—jatuhnya derajat seseorang hingga direndahkan oleh masyarakat. Seorang pendidik yang kehilangan integritas waktu dan empatinya perlahan akan kehilangan kehormatan esensial di mata mahasiswanya sendiri, terlepas dari seberapa panjang gelar akademik yang disandangnya.

Sebagai antitesis dari kemunduran tersebut, Yoyok Amirudin menawarkan solusi humanis yang mengakar pada nilai Ahlussunnah wal Jamaah: jadilah pendidik yang memposisikan diri sebagai orang tua akademis (in loco parentis). Pendidik berkelas dunia tidak membangun tembok birokrasi untuk mempersulit peserta didik, melainkan membentangkan jalan kemudahan. Di titik inilah, keunggulan sebuah institusi pendidikan tinggi tidak lagi sekadar diukur dari deretan publikasi jurnal, melainkan dari seberapa kuat setiap individunya memadukan integritas moral dengan etos kerja profesional secara paripurna.

Menggugat Hegemoni Akademik Barat: Menempatkan Tauhid dan Pembiasaan Akhlak sebagai Fondasi Universitas Berkelas Dunia

MALANG — Ambisi membangun institusi pendidikan tinggi berkaliber internasional (World Class University) acap kali menjebak akademisi negara berkembang pada satu kekeliruan fatal: mengekor secara buta pada epistemologi dan filsafat pendidikan Barat. Padahal, kemajuan peradaban tidak diukur semata-mata dari supremasi rasionalitas, melainkan dari kukuhnya fondasi tauhid dan keluhuran akhlak.

Kritik tajam dan bernas ini disampaikan oleh Prof. Drs. H. Junaidi, M.Pd., Ph.D. dalam mimbar kajian “Mutiara Hikmah” di Masjid Ainul Yaqin, Universitas Islam Malang (UNISMA). Di hadapan civitas akademika, beliau membongkar konstruksi teori pendidikan Barat yang menempatkan aspek kognitif (knowing) di puncak hierarki, dan menawarkan antitesis yang berakar kuat pada tradisi Islam Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) serta kearifan lokal Nusantara.

Mengambil keteladanan dari firman Allah SWT dalam Surah Luqman, Prof. Junaidi menegaskan bahwa hakikat pendidikan paling mendasar adalah keimanan. “Ya bunayya la tusyrik billah” (Wahai anakku, janganlah memperserikatkan Allah) adalah manifesto bahwa sebelum manusia diajarkan tentang sains dan teknologi, mereka harus dipenuhi dengan pengenalan terhadap Sang Pencipta. Dari tauhid inilah lahir akhlak, baik kepada Allah maupun sesama manusia.

“Akhlak itu di atas ilmu. Ilmu itu posisinya di bawah akhlak. Namun yang sering terjadi, kita lebih banyak berkiblat pada teori Barat yang menempatkan rasionalitas di atas segalanya,” tegas Prof. Junaidi.

Beliau mencontohkan teori pendidikan moral Barat yang mensyaratkan tiga tahapan kaku: moral knowing (mengetahui), moral feeling (merasakan), lalu moral acting (melakukan). Perspektif Islam justru membalik hierarki ini. Pembiasaan amal (aksi) harus didahulukan. Anak-anak diajarkan bersedekah atau salat melalui tindakan langsung, tanpa harus dipaksa memahami rumitnya dalil filosofis di baliknya. Pemahaman rasional akan menyusul seiring kematangan usia.

Paradoks Kearifan Lokal yang “Dicuri” Barat

Lebih jauh, Guru Besar UNISMA ini menyoroti sebuah ironi akademik. Banyak teori Barat yang diadopsi di ruang-ruang kelas saat ini sejatinya adalah modifikasi dari filosofi lokal yang sudah mendarah daging di masyarakat Indonesia.

Teori Behaviorism (pembentukan kebiasaan) yang didengungkan oleh Pavlov dan Skinner melalui eksperimen stimulus-respons, sejatinya telah lama dipraktikkan oleh leluhur kita melalui pepatah Jawa “Bisa jalaran soko kulino” (Bisa karena terbiasa). Demikian pula dengan metode Cooperative Learning (pembelajaran kooperatif) yang diagungkan sebagai temuan pedagogi modern. Padahal, masyarakat Barat berakar pada kultur individualistik, sementara bangsa Indonesia telah lama hidup dengan filosofi “ringan sama dijinjing, berat sama dipikul” atau asas gotong royong.

Lantas, mengapa hegemoni Barat seolah tak terbantahkan? “Karena kita kalah duluan dalam menuliskannya. Kita kedahuluan dalam memberikan penalaran secara ilmiah,” papar Prof. Junaidi memberikan diagnosis yang presisi.

Di sinilah letak urgensi etos kerja profesional bagi para pendidik dan peneliti. Menuju World Class University, civitas akademika UNISMA tidak boleh sekadar menjadi konsumen teori. Terdapat kewajiban moral dan akademis untuk merumuskan ulang gagasan orisinal, praktik baik, dan kearifan lokal ke dalam bahasa sains universal, untuk kemudian dipublikasikan di jurnal-jurnal ilmiah bertaraf internasional.

Pesan ini bukan sekadar imbauan administratif demi mengejar akreditasi, melainkan sebuah gerakan pembebasan epistemologis. Jika akademisi muslim enggan menulis dan mendokumentasikan tradisi keilmuannya, maka jangan salahkan jika kelak filosofi luhur bangsa ini diklaim dan dipatenkan oleh peradaban lain yang lebih rajin merawat literasinya.

Kala Iblis Terjebak “Prank” Manusia: Refleksi Etos Kerja dan Bahaya Meremehkan Sumpah Profesi

MALANG — Terdapat sebuah anekdot klasik nan sarat makna dalam literatur Islam mengenai Iblis yang berhasil ditipu oleh kelincahan akal manusia. Kisah ini bukan sekadar humor teologis, melainkan sebuah teguran keras bagi manusia modern—khususnya kaum profesional—yang kerap menggadaikan integritasnya. Pemaparan ini menjadi sorotan tajam dalam kajian “Mutiara Hikmah” yang disampaikan oleh drh. H. M. Zainul Fadli, M.Kes. di hadapan jamaah Universitas Islam Malang (UNISMA).

Mengutip literatur dari Syeikh Nasharuddin Muhammad, drh. Zainul Fadli menceritakan sebuah peristiwa di masa lampau ketika Iblis masih kerap menampakkan wujudnya. Suatu ketika, seorang pria mendatangi Iblis dan melontarkan pertanyaan tak lazim: “Bagaimana caranya agar aku bisa menjadi sepertimu?”

Iblis yang terkejut lantaran belum pernah ada manusia yang bercita-cita menirunya, akhirnya membeberkan dua rahasia utama. Pertama, fatahawan bish-sholah (remehkanlah salat). Kedua, la tubali minal khalf (jangan pedulikan sumpah-sumpahmu alias mudah berbohong dan ingkar janji). Mendengar bocoran strategi tersebut, pria itu justru membalikkan keadaan. Ia bersumpah kepada Allah untuk tidak akan pernah meninggalkan salat dan tidak akan sembarangan mengobral sumpah. Iblis pun tersadar bahwa dirinya telah dijebak.

Ujian Integritas di Dunia Profesional

Kisah “prank” Iblis ini ditarik oleh drh. Zainul Fadli ke dalam realitas dunia kerja modern. Menurutnya, dua godaan utama Iblis tersebut adalah akar dari hancurnya etos kerja dan profesionalisme. Mengabaikan sumpah, dalam konteks kekinian, adalah pengkhianatan terhadap “Sumpah Profesi” dan pakta integritas yang diikrarkan oleh para pekerja, pejabat, maupun tenaga kesehatan.

“Hati-hati dengan profesimu. Kamu diawasi dalam melaksanakan sumpah profesi. Jangan sekali-kali dilanggar,” tegas drh. Zainul Fadli.

Lebih lanjut, godaan meremehkan salat dikontekstualisasikan dengan jebakan kesibukan duniawi. Iblis merancang sistem interupsi yang sistematis bagi kaum pekerja. Menjelang waktu azan, Iblis akan mendatangkan berbagai kesibukan instan: tumpukan berkas dari pimpinan, jadwal rapat mendadak, hingga kedatangan pelanggan di toko.

Jika manusia berhasil lolos dan tetap mendatangi masjid, Iblis beralih ke strategi kedua: memunculkan rasa terburu-buru agar salat cepat selesai. Jika manusia tetap berusaha tuma’ninah (tenang), Iblis meluncurkan strategi pamungkas berupa taswis (bisikan), yakni mengingatkan urusan-urusan duniawi—seperti pekerjaan yang belum tuntas atau barang belanjaan—tepat saat seseorang sedang takbiratul ihram.

Untuk menangkal serangan psikologis dan spiritual tersebut, drh. Zainul Fadli mengingatkan jamaah untuk mengamalkan sunah Nabi Muhammad SAW, yakni membaca Surah An-Nas sebelum memulai salat, demi melindungi hati dari bisikan yang merusak fokus ibadah dan integritas batin.

Syawal sebagai Titik Tolak: Mengkalibrasi Ulang Profesionalisme Melalui Tiga Parameter Takwa

MALANG — Gegap gempita perayaan Idulfitri kerap kali menyisakan euforia sesaat yang mengaburkan esensi sesungguhnya dari bulan Syawal. Secara etimologis, Syawal bermakna al-irtifa’ atau az-ziyadah, yang bermuara pada satu kata kunci: peningkatan. Dalam konteks ini, usainya tempaan spiritual di “Madrasah Ramadan” seharusnya melahirkan lompatan kualitas, baik dalam ranah ibadah vertikal maupun etos kerja horizontal.

Hal ini menjadi sorotan utama dalam kajian “Mutiara Hikmah” yang disampaikan oleh Dr. Kukuh Santoso, M.Pd.I. untuk keluarga besar Universitas Islam Malang (UNISMA). Melalui mimbarnya, Dr. Kukuh mengajak civitas akademika untuk melakukan refleksi kritis terhadap muara dari ibadah puasa, yakni pencapaian derajat takwa (la’allakum tattaquun).

Untuk mengukur keberhasilan tersebut, Dr. Kukuh merujuk pada rumusan cemerlang dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah mengenai tiga parameter utama orang yang bertakwa. Parameter ini tidak hanya relevan sebagai ukuran teologis, tetapi juga sangat aplikatif sebagai pedoman profesionalitas di lingkungan kerja.

Parameter pertama adalah Al-Khaufu minal Jalil, yakni rasa takut kepada Allah Yang Maha Agung. “Rasa takut di sini bukan berarti menjauh, melainkan merasa muraqabah (selalu diawasi oleh Allah),” terang Dr. Kukuh. Dalam dunia profesional, kesadaran ini adalah fondasi tertinggi dari integritas. Ketika seorang pekerja merasa diawasi oleh Sang Pencipta, kedisiplinan dan kejujuran akan tetap terjaga tanpa memerlukan pengawasan ketat dari atasan.

Parameter kedua, Al-Amalu bit-Tanzil, menuntut implementasi nilai-nilai Al-Qur’an dalam praktik nyata. Jika selama Ramadan umat Islam berlomba-lomba mengkhatamkan bacaan, tantangan di bulan Syawal adalah mengejawantahkan ayat-ayat tersebut ke dalam profesi dan interaksi sosial. Integritas moral yang diajarkan Al-Qur’an harus mewarnai setiap keputusan dan kebijakan di tempat kerja.

Parameter ketiga sekaligus pamungkas adalah Al-Istidadu li Yaumir-Rahil, yakni mempersiapkan bekal untuk hari kepulangan. Kesadaran eskatologis bahwa dunia bersifat fana akan mencegah seseorang dari praktik koruptif atau menghalalkan segala cara demi ambisi duniawi. Sebaliknya, kesadaran ini memacu semangat untuk mengonversi setiap jam kerja menjadi amal saleh dan pengabdian yang berdampak luas bagi masyarakat.

Bulan Syawal bukanlah garis akhir, melainkan garis awal bagi sebuah pembuktian. Momen ini menjadi krusial untuk memastikan bahwa ketakwaan yang diraih tidak hanya berdimensi ritual, tetapi juga mampu mencetak individu-individu berintegritas yang siap membawa keunggulan bagi institusinya.

Mengembalikan Marwah Pendidik: Ketika Integritas Moral Menjadi Fondasi Keunggulan Institusi

MALANG — Di tengah disrupsi teknologi dan melesatnya kecerdasan buatan (AI), dunia pendidikan menghadapi tantangan eksistensial. Apakah peran guru dan dosen sekadar sebagai mesin penyalur informasi? Menjawab kegelisahan tersebut, mimbar “Mutiara Hikmah” di Masjid Kampus Universitas Islam Malang (UNISMA) menghadirkan refleksi tajam dari akademisi Hirshi Anadza, S.Hub. Int., M.Hub. Int., yang menegaskan kembali muruah profesi pendidik.

Merujuk pada firman Allah dalam Al-Qur’an tentang misi kenabian, Hirshi membedah tiga tugas utama seorang utusan: membacakan ayat (kebenaran), menyucikan jiwa umat, dan mengajarkan Al-Kitab serta Al-Hikmah. “Al-Hikmah di sini adalah as-sunnah, baik secara perbuatan (af’aliyah), perkataan (qauliyah), maupun kesepakatan (taqririyah),” paparnya di hadapan para jamaah dan civitas akademika.

Paradigma ini memberikan beban tanggung jawab yang luar biasa bagi siapa pun yang menyandang gelar mu’allim (pendidik). Di era di mana mahasiswa dapat mengakses ribuan jurnal ilmiah dalam hitungan detik melalui gawai, peran transfer of knowledge perlahan mulai tergantikan. Namun, ada satu dimensi yang mustahil diambil alih oleh teknologi: transfer of hikmah atau keteladanan moral.

“Dulu ada pepatah, guru kencing berdiri, murid kencing berlari. Mahasiswa pasti akan meniru apa yang dilakukan gurunya. Oleh karena itu, di tengah gempuran media sosial dan AI, kita harus menjadi role model,” tegas Hirshi. Ia bahkan mengingatkan sebuah peringatan eskatologis yang kerap dikaji dalam kitab-kitab klasik: para pengajar akan dihisab (diadili) lebih dulu pada hari kiamat lantaran beratnya amanah yang mereka pikul.

Untuk menjaga komitmen tersebut, Hirshi mengajak seluruh civitas akademika untuk terus memperbarui niat. Mengutip Imam Syafi’i, ia menekankan bahwa niat adalah separuh dari amal. Niat yang lurus akan menuntun pada etos kerja yang profesional, di mana interaksi antara dosen dan mahasiswa tidak berhenti pada urusan nilai akademik, melainkan menjadi ladang amal jariah dan transformasi karakter.

Pesan ini menggarisbawahi sebuah prinsip fundamental dalam manajemen pendidikan tinggi Islam: keunggulan sebuah institusi tidak hanya diukur dari akreditasi atau kemegahan infrastruktur. Institusi akan mencapai puncak peradabannya manakala setiap individu di dalamnya mampu memadukan etos kerja yang profesional dengan integritas moral yang berakar kuat pada nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah. Pendidik sejati adalah mereka yang mewarisi semangat para nabi—unggul secara saintifik, tangguh secara etik.

Menggugat Kemurnian Niat: Ketika Ibadah Suci Tereduksi Menjadi Rekreasi dan Gengsi Sosial

MALANG — Ibadah haji, sebagai rukun Islam kelima, merupakan puncak penyerahan diri seorang hamba kepada Sang Pencipta. Namun, di tengah pusaran modernitas dan kemudahan akses material, esensi sakral ibadah ini menghadapi tantangan serius berupa pergeseran niat. Menyoroti fenomena krisis integritas spiritual tersebut, Dr. H. Ali Ashari, M.Pd. menyampaikan otokritik tajam dalam mimbar “Mutiara Hikmah” di Masjid Ainul Yaqin, Universitas Islam Malang (UNISMA).

Mengutip landasan Al-Qur’an Surah Ali ‘Imran ayat 97 dan merujuk pada penafsiran KH Abdul Jalil Al-Kharomain, Dr. Ali Ashari menegaskan bahwa parameter mutlak diterimanya ibadah haji adalah Lillah—semata-mata karena Allah. “Jika orang berhaji karena Allah, la lighoiri wajhillah, dialah yang berhak mendapatkan surga-Nya. Haji mabrur balasannya tiada lain adalah surga,” paparnya.

Sayangnya, realitas di lapangan kerap bertolak belakang. Dr. Ali mengonfirmasi sebuah peringatan profetik bahwa akan tiba masa di mana motivasi manusia menuju Tanah Suci tak lagi murni. Pertama, munculnya fenomena Linnuzhah atau haji untuk rekreasi. Penyakit ini kerap menjangkiti kelompok umara (pejabat) dan kaum elite. Dalam sebuah kesaksiannya saat membimbing jamaah haji pada 2006, Dr. Ali menceritakan sosok mantan pejabat yang lebih sibuk memburu destinasi wisata seperti Jabal Magnet dan berbelanja oleh-oleh, alih-alih menyempurnakan rukun dan ibadah Arba’in di Masjid Nabawi.

Kedua, fenomena Lissum’ah atau ibadah demi reputasi dan kebanggaan (riya). Ironisnya, krisis moral ini justru kerap menimpa golongan ulama (pemuka agama) atau tokoh masyarakat. Gelar ‘Haji’ bertransformasi menjadi komoditas sosial yang mendongkrak prestise. “Terkadang menjadi dambaan gelar yang bisa melupakan esensi haji. Ada yang diundang (acara) lalu gelarnya tidak disebut, dia langsung marah,” kritik Dr. Ali, menggambarkan betapa tipisnya batas antara kesalehan dan kesombongan spiritual.

Apa yang dipaparkan dalam kultum ini sejatinya melampaui konteks ibadah fisik semata. Pesan esensialnya adalah tentang integritas moral dan kelurusan niat yang menjadi napas Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja). Baik dalam beribadah di Tanah Suci maupun dalam membangun keunggulan di institusi profesional, segala sesuatu yang dibangun di atas fondasi motif duniawi (pamer, jabatan, rekreasi) tidak akan menghasilkan legacy yang berkah dan abadi. Integritas sejati—di mana niat batin selaras dengan amal lahiriah—adalah kunci keunggulan hakiki seorang muslim.

Menjadikan Kampus Sebagai ‘Sajadah’ Pengabdian: Membumikan Visi Global Melalui Integritas Aswaja

MALANG — Sebuah visi institusi, sebesar apa pun skala dan ambisinya, akan lumpuh tanpa adanya mesin penggerak bertenaga dedikasi dari sumber daya manusianya. Menghadapi era kompetisi pendidikan tinggi global, Universitas Islam Malang (UNISMA) menajamkan kembali orientasi geraknya. Mimbar Mutiara Hikmah di Masjid Kampus UNISMA pada Kamis (2/4/2026), menjadi ruang refleksi strategis bagi civitas akademika untuk merekonstruksi makna bekerja, dari sekadar rutinitas administratif menjadi sebuah orkestrasi ibadah yang profesional.

Prof. Dr. Ir. H. Badat Muwakhit, MP., IPM., yang bertindak sebagai penceramah, mengurai peta jalan menuju World Class University. Beliau memberikan penekanan bahwa cita-cita menjadi universitas bertaraf internasional tidak boleh menggerus akar identitas kampus. Sebaliknya, keunggulan di tingkat global justru harus ditopang oleh fondasi moral Islam Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja).

Untuk menerjemahkan visi makro pimpinan universitas ke dalam operasional sehari-hari, Prof. Badat membedahnya ke dalam dua variabel utama: niat dan etos kerja. Beliau menyoroti bahaya jebakan rutinitas, di mana bekerja kerap direduksi hanya sebatas presensi dan menunggu hak finansial di akhir bulan. Melalui pendekatan spiritual, civitas akademika didorong untuk menjadikan ruang kuliah, meja kantor, dan biro layanan administrasi sebagai “sajadah” pelengkap ibadah. Jika mindset melayani umat dan menyebarkan ilmu (nasyrul ilmi) telah tertanam kokoh, beban operasional seberat apa pun akan bertransformasi menjadi ladang amal jariyah.

Lebih dari sekadar niat, etos kerja harus diwujudkan secara konkret melalui trisula profesionalisme: kerja keras (ikhtiar maksimal), kerja cerdas (inovasi dan optimalisasi teknologi), dan kerja ikhlas (dedikasi bernilai ibadah). Dalam tataran institusional, Prof. Badat juga mengingatkan penyakit kronis birokrasi, yakni ego sektoral. Ia mendesak seluruh elemen—antar-fakultas, biro, maupun unit—untuk membongkar sekat-sekat pembatas dan membangun sinergi yang solid.

POIN PENTING PEMBAHASAN

Sinergi dan Kolaborasi: Kemajuan universitas tidak bisa dicapai secara individual. Diperlukan sinergi, hilangkan ego sektoral antar fakultas atau unit, dan bangun kerja sama yang solid demi tujuan bersama membesarkan UNISMA.

Pelurusan Niat (Kerja sebagai Ibadah): Setiap civitas akademika UNISMA, baik dosen maupun tenaga kependidikan, harus menanamkan niat bahwa bekerja di institusi pendidikan Islam bukan sekadar mencari nafkah duniawi, melainkan bentuk amal saleh dan ibadah.

Penyelarasan Sikap dengan Visi Misi: Visi UNISMA untuk menjadi World Class University (Universitas Bertaraf Internasional) yang berlandaskan Islam Ahlussunnah wal Jamaah harus didukung dengan sikap mental yang tangguh, disiplin, dan profesional dari seluruh komponen kampus.

Implementasi Etos Kerja (Kerja Keras, Cerdas, dan Ikhlas): Penceramah menekankan pentingnya tiga pilar etos kerja. Kerja keras sebagai bentuk ikhtiar maksimal, kerja cerdas melalui inovasi dan pemanfaatan teknologi, serta kerja ikhlas agar setiap dedikasi bernilai pahala.

Kemajuan UNISMA adalah akumulasi dari langkah-langkah progresif dan terpadu seluruh karyawannya. Pada akhirnya, kualitas pelayanan mahasiswa, target publikasi riset, dan pencapaian akreditasi tidak bisa dipandang sebatas indikator kinerja semata, melainkan amanah moral dan jalan dakwah yang harus dieksekusi dengan standar tertinggi.

Menyemai Etos Kerja AITI: Mentransformasi Rutinitas Menjadi Ibadah di Dunia Profesional

MALANG — Dinamika dunia kerja modern kerap kali memisahkan antara pencapaian profesional dan nilai-nilai spiritualitas. Padahal, integrasi keduanya merupakan kunci utama dalam membangun ekosistem kerja yang berintegritas dan tangguh. Merespons tantangan tersebut, Masjid Ainul Yaqin Universitas Islam Malang (UNISMA) menggelar kajian “Mutiara Hikmah” pasca-libur Ramadan pada Rabu (1/4/2026), yang menyoroti pentingnya etos kerja profesional dalam kacamata Islam Ahlussunnah Wal Jamaah.

Tokoh pendidikan yang juga menjabat sebagai Mustasyar PCNU, Dr. H. Mochtar Data, M.Pd., hadir membedah paradoks etos kerja dewasa ini. Menurutnya, fondasi dasar seorang profesional muslim harus dikembalikan pada niat utama, yakni menjadikan pekerjaan sebagai manifestasi ibadah.

“Kita bekerja di institusi ini dalam rangka apa? Niatnya apa? Marilah kita berniat bekerja sebagai sarana ibadah. Ini adalah komitmen yang harganya sangat mahal,” tegas Dr. Mochtar Data di hadapan jajaran dosen dan karyawan UNISMA.

Beliau mengingatkan bahwa tanggung jawab pekerjaan tidak bersifat hierarkis semata. Merujuk pada hadis riwayat Bukhari-Muslim, setiap individu sejatinya adalah pemimpin bagi dirinya sendiri. Oleh sebab itu, pertanggungjawaban atas sebuah pekerjaan, sekecil apa pun perannya, tidak hanya dilaporkan kepada atasan di dunia, melainkan langsung kepada Allah SWT.

Pendekatan Konsep AITI

Untuk memudahkan implementasi etos Ahlussunnah Wal Jamaah di lingkungan kerja, Dr. Mochtar merumuskan sebuah kerangka praktis yang disebut dengan akronim AITI (Amanah, Ikhlas, Ta’awun, Ihsan).

Pilar pertama adalah Amanah (integritas). Hal ini menuntut kedisiplinan tingkat tinggi dari seorang pekerja, seperti ketepatan waktu hadir dan kapabilitas menjaga data rahasia institusi dengan ketat. Pilar kedua, Ikhlas, menjadi jangkar bagi stabilitas mental pekerja saat menghadapi dinamika kantor, seperti perubahan regulasi atau pemotongan tunjangan. Keikhlasan mendorong pekerja untuk tetap fokus pada kualitas hasil, bukan sekadar imbalan materi.

Pilar ketiga, Ta’awun (kerja sama), merupakan penolakan terhadap ego sektoral. Kesuksesan institusi hanya bisa diraih jika para pekerja bersedia saling tolong-menolong dalam koridor kebaikan. Terakhir, Ihsan menuntut setiap pekerja untuk mengeksekusi tugas dengan standar terbaik, terus memperbaiki proses, dan berempati pada rekan kerja yang mengalami kesulitan.

Gagasan ini tidak berhenti pada keempat pilar tersebut. Dr. Mochtar menutup kerangka kerjanya dengan konsep Itqan, sebuah terminologi Islam yang berarti ketuntasan dan kesempurnaan dalam bekerja. “Allah menyukai apabila salah seorang di antara kamu melakukan suatu pekerjaan, dia menyempurnakannya,” pungkasnya merujuk pada sebuah hadis.

Konsep AITI dan Itqan yang ditawarkan dalam forum ini memberikan perspektif segar bagi dunia profesional. Di tengah tuntutan industri yang serba cepat, nilai-nilai spiritual ini justru menjadi modalitas paling berharga untuk menjaga moralitas, kualitas, dan keberkahan dari setiap peluh yang menetes di ruang kerja.