Mengembalikan Marwah Pendidik: Ketika Integritas Moral Menjadi Fondasi Keunggulan Institusi

MALANG — Di tengah disrupsi teknologi dan melesatnya kecerdasan buatan (AI), dunia pendidikan menghadapi tantangan eksistensial. Apakah peran guru dan dosen sekadar sebagai mesin penyalur informasi? Menjawab kegelisahan tersebut, mimbar “Mutiara Hikmah” di Masjid Kampus Universitas Islam Malang (UNISMA) menghadirkan refleksi tajam dari akademisi Hirshi Anadza, S.Hub. Int., M.Hub. Int., yang menegaskan kembali muruah profesi pendidik.

Merujuk pada firman Allah dalam Al-Qur’an tentang misi kenabian, Hirshi membedah tiga tugas utama seorang utusan: membacakan ayat (kebenaran), menyucikan jiwa umat, dan mengajarkan Al-Kitab serta Al-Hikmah. “Al-Hikmah di sini adalah as-sunnah, baik secara perbuatan (af’aliyah), perkataan (qauliyah), maupun kesepakatan (taqririyah),” paparnya di hadapan para jamaah dan civitas akademika.

Paradigma ini memberikan beban tanggung jawab yang luar biasa bagi siapa pun yang menyandang gelar mu’allim (pendidik). Di era di mana mahasiswa dapat mengakses ribuan jurnal ilmiah dalam hitungan detik melalui gawai, peran transfer of knowledge perlahan mulai tergantikan. Namun, ada satu dimensi yang mustahil diambil alih oleh teknologi: transfer of hikmah atau keteladanan moral.

“Dulu ada pepatah, guru kencing berdiri, murid kencing berlari. Mahasiswa pasti akan meniru apa yang dilakukan gurunya. Oleh karena itu, di tengah gempuran media sosial dan AI, kita harus menjadi role model,” tegas Hirshi. Ia bahkan mengingatkan sebuah peringatan eskatologis yang kerap dikaji dalam kitab-kitab klasik: para pengajar akan dihisab (diadili) lebih dulu pada hari kiamat lantaran beratnya amanah yang mereka pikul.

Untuk menjaga komitmen tersebut, Hirshi mengajak seluruh civitas akademika untuk terus memperbarui niat. Mengutip Imam Syafi’i, ia menekankan bahwa niat adalah separuh dari amal. Niat yang lurus akan menuntun pada etos kerja yang profesional, di mana interaksi antara dosen dan mahasiswa tidak berhenti pada urusan nilai akademik, melainkan menjadi ladang amal jariah dan transformasi karakter.

Pesan ini menggarisbawahi sebuah prinsip fundamental dalam manajemen pendidikan tinggi Islam: keunggulan sebuah institusi tidak hanya diukur dari akreditasi atau kemegahan infrastruktur. Institusi akan mencapai puncak peradabannya manakala setiap individu di dalamnya mampu memadukan etos kerja yang profesional dengan integritas moral yang berakar kuat pada nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah. Pendidik sejati adalah mereka yang mewarisi semangat para nabi—unggul secara saintifik, tangguh secara etik.