Menggugat Kemurnian Niat: Ketika Ibadah Suci Tereduksi Menjadi Rekreasi dan Gengsi Sosial
MALANG — Ibadah haji, sebagai rukun Islam kelima, merupakan puncak penyerahan diri seorang hamba kepada Sang Pencipta. Namun, di tengah pusaran modernitas dan kemudahan akses material, esensi sakral ibadah ini menghadapi tantangan serius berupa pergeseran niat. Menyoroti fenomena krisis integritas spiritual tersebut, Dr. H. Ali Ashari, M.Pd. menyampaikan otokritik tajam dalam mimbar “Mutiara Hikmah” di Masjid Ainul Yaqin, Universitas Islam Malang (UNISMA).
Mengutip landasan Al-Qur’an Surah Ali ‘Imran ayat 97 dan merujuk pada penafsiran KH Abdul Jalil Al-Kharomain, Dr. Ali Ashari menegaskan bahwa parameter mutlak diterimanya ibadah haji adalah Lillah—semata-mata karena Allah. “Jika orang berhaji karena Allah, la lighoiri wajhillah, dialah yang berhak mendapatkan surga-Nya. Haji mabrur balasannya tiada lain adalah surga,” paparnya.
Sayangnya, realitas di lapangan kerap bertolak belakang. Dr. Ali mengonfirmasi sebuah peringatan profetik bahwa akan tiba masa di mana motivasi manusia menuju Tanah Suci tak lagi murni. Pertama, munculnya fenomena Linnuzhah atau haji untuk rekreasi. Penyakit ini kerap menjangkiti kelompok umara (pejabat) dan kaum elite. Dalam sebuah kesaksiannya saat membimbing jamaah haji pada 2006, Dr. Ali menceritakan sosok mantan pejabat yang lebih sibuk memburu destinasi wisata seperti Jabal Magnet dan berbelanja oleh-oleh, alih-alih menyempurnakan rukun dan ibadah Arba’in di Masjid Nabawi.
Kedua, fenomena Lissum’ah atau ibadah demi reputasi dan kebanggaan (riya). Ironisnya, krisis moral ini justru kerap menimpa golongan ulama (pemuka agama) atau tokoh masyarakat. Gelar ‘Haji’ bertransformasi menjadi komoditas sosial yang mendongkrak prestise. “Terkadang menjadi dambaan gelar yang bisa melupakan esensi haji. Ada yang diundang (acara) lalu gelarnya tidak disebut, dia langsung marah,” kritik Dr. Ali, menggambarkan betapa tipisnya batas antara kesalehan dan kesombongan spiritual.
Apa yang dipaparkan dalam kultum ini sejatinya melampaui konteks ibadah fisik semata. Pesan esensialnya adalah tentang integritas moral dan kelurusan niat yang menjadi napas Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja). Baik dalam beribadah di Tanah Suci maupun dalam membangun keunggulan di institusi profesional, segala sesuatu yang dibangun di atas fondasi motif duniawi (pamer, jabatan, rekreasi) tidak akan menghasilkan legacy yang berkah dan abadi. Integritas sejati—di mana niat batin selaras dengan amal lahiriah—adalah kunci keunggulan hakiki seorang muslim.


