Menjadikan Kampus Sebagai ‘Sajadah’ Pengabdian: Membumikan Visi Global Melalui Integritas Aswaja
MALANG — Sebuah visi institusi, sebesar apa pun skala dan ambisinya, akan lumpuh tanpa adanya mesin penggerak bertenaga dedikasi dari sumber daya manusianya. Menghadapi era kompetisi pendidikan tinggi global, Universitas Islam Malang (UNISMA) menajamkan kembali orientasi geraknya. Mimbar Mutiara Hikmah di Masjid Kampus UNISMA pada Kamis (2/4/2026), menjadi ruang refleksi strategis bagi civitas akademika untuk merekonstruksi makna bekerja, dari sekadar rutinitas administratif menjadi sebuah orkestrasi ibadah yang profesional.
Prof. Dr. Ir. H. Badat Muwakhit, MP., IPM., yang bertindak sebagai penceramah, mengurai peta jalan menuju World Class University. Beliau memberikan penekanan bahwa cita-cita menjadi universitas bertaraf internasional tidak boleh menggerus akar identitas kampus. Sebaliknya, keunggulan di tingkat global justru harus ditopang oleh fondasi moral Islam Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja).
Untuk menerjemahkan visi makro pimpinan universitas ke dalam operasional sehari-hari, Prof. Badat membedahnya ke dalam dua variabel utama: niat dan etos kerja. Beliau menyoroti bahaya jebakan rutinitas, di mana bekerja kerap direduksi hanya sebatas presensi dan menunggu hak finansial di akhir bulan. Melalui pendekatan spiritual, civitas akademika didorong untuk menjadikan ruang kuliah, meja kantor, dan biro layanan administrasi sebagai “sajadah” pelengkap ibadah. Jika mindset melayani umat dan menyebarkan ilmu (nasyrul ilmi) telah tertanam kokoh, beban operasional seberat apa pun akan bertransformasi menjadi ladang amal jariyah.
Lebih dari sekadar niat, etos kerja harus diwujudkan secara konkret melalui trisula profesionalisme: kerja keras (ikhtiar maksimal), kerja cerdas (inovasi dan optimalisasi teknologi), dan kerja ikhlas (dedikasi bernilai ibadah). Dalam tataran institusional, Prof. Badat juga mengingatkan penyakit kronis birokrasi, yakni ego sektoral. Ia mendesak seluruh elemen—antar-fakultas, biro, maupun unit—untuk membongkar sekat-sekat pembatas dan membangun sinergi yang solid.
POIN PENTING PEMBAHASAN
Sinergi dan Kolaborasi: Kemajuan universitas tidak bisa dicapai secara individual. Diperlukan sinergi, hilangkan ego sektoral antar fakultas atau unit, dan bangun kerja sama yang solid demi tujuan bersama membesarkan UNISMA.
Pelurusan Niat (Kerja sebagai Ibadah): Setiap civitas akademika UNISMA, baik dosen maupun tenaga kependidikan, harus menanamkan niat bahwa bekerja di institusi pendidikan Islam bukan sekadar mencari nafkah duniawi, melainkan bentuk amal saleh dan ibadah.
Penyelarasan Sikap dengan Visi Misi: Visi UNISMA untuk menjadi World Class University (Universitas Bertaraf Internasional) yang berlandaskan Islam Ahlussunnah wal Jamaah harus didukung dengan sikap mental yang tangguh, disiplin, dan profesional dari seluruh komponen kampus.
Implementasi Etos Kerja (Kerja Keras, Cerdas, dan Ikhlas): Penceramah menekankan pentingnya tiga pilar etos kerja. Kerja keras sebagai bentuk ikhtiar maksimal, kerja cerdas melalui inovasi dan pemanfaatan teknologi, serta kerja ikhlas agar setiap dedikasi bernilai pahala.
Kemajuan UNISMA adalah akumulasi dari langkah-langkah progresif dan terpadu seluruh karyawannya. Pada akhirnya, kualitas pelayanan mahasiswa, target publikasi riset, dan pencapaian akreditasi tidak bisa dipandang sebatas indikator kinerja semata, melainkan amanah moral dan jalan dakwah yang harus dieksekusi dengan standar tertinggi.


