DIKLAT DASAR VOL.8 UKM KPM UNISMA 2026: “READY TO REPRESENT, READY TO GROW”

MALANG — Unit Kreativitas Mahasiswa (UKM) Korps Protokoler Mahasiswa (KPM) Universitas Islam Malang (UNISMA) kembali menegaskan komitmennya dalam mencetak generasi unggul dengan menyelenggarakan kegiatan Diklat Dasar Vol.8 Tahun 2026.

Mengusung tema besar “Ready to Represent, Ready to Grow”, kegiatan ini menjadi gerbang utama kaderisasi anggota baru untuk membentuk pribadi yang profesional, disiplin, dan berintegritas tinggi di bidang keprotokoleran.

Rangkaian acara diawali dengan opening ceremony yang berlangsung khidmat. Kegiatan ini secara resmi dibuka oleh Ketua Umum UKM KPM UNISMA, Duta Ahmad Ardiansah, yang dalam sambutannya menekankan pentingnya kesiapan diri setiap kader untuk menjadi representasi wajah kampus.

Guna membekali para peserta dengan fondasi pengetahuan yang kuat, panitia menghadirkan sesi pemaparan materi dari narasumber-narasumber kompeten di bidangnya. Rangkaian materi tersebut meliputi:

  • Keprotokoleran: Disampaikan oleh Duta Ike Zhiana Huzaini (Kepala Divisi Protokoler KPM 2025). Materi ini memberikan pemahaman mendalam mengenai tugas pokok, fungsi strategis, serta etika yang harus dijunjung tinggi dalam dunia keprotokoleran.
  • AD/ART Organisasi: Disampaikan oleh Duta Gusti Ayu Monica (Ketua Umum UKM KPM 2025). Sesi ini mengupas tuntas dasar organisasi, aturan yang mengikat, serta pedoman kerja dalam menjalankan roda organisasi UKM KPM.
  • Public Speaking: Disampaikan oleh Duta Alya Nabila (Pemenang Duta Kampus UNISMA 2024). Sesi interaktif ini secara khusus membekali peserta dengan kemampuan komunikasi yang efektif, cara membangun kepercayaan diri, serta teknik berbicara di depan umum yang persuasif.

Setelah menyerap berbagai materi, daya kritis peserta diuji melalui Focus Group Discussion (FGD). Forum ini menjadi sarana interaktif untuk mendiskusikan studi kasus dan memperdalam materi yang telah didapatkan.

Dinamika kegiatan kemudian berlanjut pada persiapan inagurasi. Fase ini dirancang secara khusus untuk membentuk karakter, melatih kekompakan, serta memupuk rasa kebersamaan antarpeserta. Puncak acara inagurasi berlangsung meriah dan penuh antusiasme, menjadi panggung kreativitas bagi peserta untuk menampilkan potensi diri sekaligus mempererat ikatan kekeluargaan angkatan baru.

Sebagai penutup, dilaksanakan prosesi pengukuhan peserta Diklat Dasar Vol.8. Prosesi sakral ini menjadi tanda resmi bahwa para peserta telah menyelesaikan seluruh rangkaian pendidikan dan pelatihan, sekaligus menjadi titik awal perjalanan pengabdian mereka di UKM KPM UNISMA.

Melalui Diklat Dasar ini, seluruh kader baru diharapkan tidak hanya menyerap teori, tetapi juga mampu mengimplementasikan ilmu dan pengalaman yang diperoleh dalam setiap denyut nadi kegiatan organisasi ke depannya.

*** Pewarta: Sandadin Akmalyaturrohmah (Ketua Humas Diklat UKM KPM UNISMA 2026)

UKM PANORAMA PHOTOGRAPHY UNISMA GELAR PELATIHAN PRA HUNTING: BEKALI ANGGOTA BARU DENGAN TEKNIK DASAR DAN PRAKTIK LAPANG

MALANG, Minggu, 19 April 2026 — Dalam upaya meningkatkan kompetensi visual anggota barunya, Unit Kreativitas Mahasiswa (UKM) Panorama Photography Universitas Islam Malang (UNISMA) sukses menggelar kegiatan Pelatihan Fotografi Pra Hunting. Mengusung tema “Unspoken in Lens”, acara yang berlangsung pada Minggu (19/4) ini bertempat di Ruang Kelas F1.13 Gedung Asy’ari UNISMA.

Kegiatan yang dirancang sebagai program pengembangan fundamental fotografi ini dimulai sejak pukul 07.00 WIB untuk registrasi peserta dan resmi dibuka pada pukul 08.00 WIB. Acara diawali secara khidmat dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya disusul Hymne Panorama, dan dilanjutkan dengan sambutan pembuka dari Ketua Pelaksana serta Ketua Umum UKM Panorama Photography.

Penguatan Materi Fundamental Fotografi

Inti dari pelatihan ini dibagi ke dalam empat sesi materi utama yang disampaikan oleh para pakar internal organisasi.

Sesi pertama, materi Komposisi Fotografi dibawakan oleh Alamul Huda. Pada sesi ini, peserta diajak untuk memahami dasar-dasar penataan elemen visual guna menghasilkan karya foto yang menarik dan seimbang. Dilanjutkan dengan materi kedua, Teknik Dasar Fotografi (TDF) oleh Ahmad Riza Ubaidillah. Materi ini berfokus pada pemahaman exposure triangle (ISO, aperture, shutter speed), pengenalan fungsi kamera, serta teknik pengambilan gambar yang presisi.

Materi ketiga bergeser pada pengenalan organisasi melalui sesi Kepanoramaan yang dibawakan oleh Romo Pambudi. Sesi ini memaparkan gambaran umum, peran, serta visi-misi UKM Panorama Photography. Sebagai penutup rangkaian teori, Gagak Permadi menyampaikan materi Peralatan Fotografi, yang mengenalkan peserta pada berbagai varian alat fotografi, mulai dari level pemula hingga standar profesional industri.

Praktik Lapang di Lingkungan Kampus UNISMA

Setelah pembekalan teori selesai, kegiatan dilanjutkan dengan agenda praktik lapang atau hunting foto di area lingkungan kampus Universitas Islam Malang. Sesi ini menjadi momen krusial bagi peserta untuk mengaplikasikan ilmu yang baru saja didapat, meliputi penyesuaian pengaturan kamera, observasi arah cahaya alami (natural light), dan penerapan komposisi visual.

Dengan kebebasan mengeksplorasi sudut-sudut kampus, suasana praktik berlangsung dinamis dan penuh antusiasme. Peserta ditantang untuk menangkap objek dan momen bernilai estetika tinggi yang mampu bercerita secara visual, selaras dengan tema “Unspoken in Lens”. Selama proses hunting, para pemateri turut terjun ke lapangan untuk mendampingi, memberikan evaluasi langsung, serta memandu peserta memecahkan kendala teknis di lapangan.

Seluruh rangkaian acara yang berakhir pada pukul 15.00 WIB ini berjalan dengan tertib, interaktif, dan lancar. Antusiasme peserta terlihat jelas dari keaktifan mereka berdiskusi dan berkreasi sepanjang sesi praktik.

Pelatihan Fotografi Pra Hunting ini kemudian resmi ditutup dengan doa bersama dan sesi foto dokumentasi. Melalui pelatihan terpadu ini, para anggota baru diharapkan tidak sekadar menguasai fotografi pada tataran teori, namun juga mahir mengeksekusinya secara langsung di lapangan, serta memiliki kesiapan penuh untuk agenda hunting fotografi UKM Panorama berikutnya.

Pewarta: Navisa Nur Rohmah

Dinamika Fiqh Kontemporer: Bukti Paripurnanya Hukum Islam Melintasi Perubahan Zaman

MALANG — Di tengah pusaran arus modernisasi dan kompleksitas peradaban, relevansi hukum Islam kerap kali dipertanyakan oleh sebagian kalangan yang menganggapnya kaku dan usang. Menepis stigma tersebut, Dr. H. Moh. Muhibbin, SH., MH., pakar hukum dari Universitas Islam Malang (UNISMA), membedah secara komprehensif anatomi hukum syariat dalam mimbar “Mutiara Hikmah” di Masjid Kampus Ainul Yaqin pada Selasa (21/4/2026).

Melalui kajian bertajuk Hukum dan Fiqh Islam Kontemporer dalam Menyikapi Problematika Zaman, Dr. Muhibbin menegaskan bahwa sistem hukum Islam sejatinya sangat paripurna. Konstitusi ilahiah ini didesain sedemikian rupa agar tidak lekang oleh waktu, melainkan senantiasa berdampingan secara harmonis dengan evolusi kebudayaan manusia.

“Isi kandungan hukum Islam tidak lekang oleh zaman. Ia selaras dengan perkembangan manusia. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah melakukan regulasi yang presisi di dalam Al-Qur’an dan hadis dengan membaginya ke dalam dua kategori besar: Qath’iy ad-dalalah dan Dzanniy ad-dalalah,” papar Dr. Muhibbin di hadapan jamaah.

Beliau menguraikan bahwa domain Qath’iy merupakan dalil absolut yang tidak memberikan ruang bagi penafsiran. Aturan-aturan ini mencakup rukun Islam seperti kewajiban salat, puasa, zakat, hingga ketetapan hukum pidana (hudud) seperti hukuman cambuk bagi pezina. Keberadaan hukum mutlak ini berfungsi sebagai fondasi penjaga orisinalitas dan ketegasan syariat.

Namun, keindahan dan fleksibilitas Islam justru terpancar kuat pada domain Dzanniy ad-dalalah. Ruang inilah yang sengaja dibiarkan terbuka oleh Allah SWT sebagai lapangan ijtihad bagi para mujtahid dan ahli fikih. Melalui perangkat ilmu ushul fiqh, ayat-ayat yang bersifat umum ditafsirkan agar relevan dengan kondisi kiwari.

“Di sinilah letak kaidah emas itu berlaku: Taghayyurul ahkam bitaghayyuriz zaman wal makan wal ahwal wal ‘awaid. Perubahan hukum ditentukan oleh perubahan waktu, tempat, keadaan, dan adat istiadat, selama tidak bertentangan dengan esensi syariat,” tegasnya. Kaidah inilah yang melahirkan fiqh kontemporer, menjadikan Islam mampu merespons ragam persoalan modern, mulai dari transaksi ekonomi digital hingga bioetika medis.

Lebih jauh, Dr. Muhibbin memberikan perspektif yang mencerahkan mengenai fenomena perbedaan pendapat (ikhtilaf) di kalangan ulama mazhab, seperti antara Imam Syafi’i dan Imam Hanafi. Perbedaan tersebut bukanlah sebuah kecacatan hukum, melainkan keniscayaan ilmiah yang dipicu oleh perbedaan metodologi pemahaman teks (antara yang umum dan khusus), penerapan metode ijtihad (istihsan, mashalihul mursalah), hingga pengaruh iklim sosiologis tempat ulama tersebut berada.

“Filsuf Barat mengatakan bahwa iklim mempengaruhi hukum. Di dalam Islam, hal ini selaras dengan kaidah perubahan tempat dan keadaan. Fleksibilitas inilah yang memastikan tidak ada satu pun persoalan umat manusia yang tidak bisa dijawab oleh Islam,” pungkasnya.

PROGRAM KSM-E SEMESTER GENAP 2025/2026

KSM-E TOP LEADER

Dalam rangka memberikan apresiasi kepada mahasiswa yang menjadi Top Leader Ormawa atas keberhasilannya dalam mencapai kompetensi kepemimpinan, manajerial, serta kontribusi dalam pengembangan organisasi mahasiswa, maka dengan ini kami beritahukan Mahasiswa yang memenuhi persyaratan akan diproses kelulusannya melalui Jalur KSM-E Top Leader Ormawa tanpa mengikuti tahapan KSM-E reguler.

Pengumuman dan Persyaratan

Formulir Isian Online: https://bit.ly/KSME-LEADER25262

Surat Rekomendasi KSM-E Top Leader

KSM-E REGULER

Dalam rangka memberikan pelayanan kepada fungsionaris mahasiswa sesuai dengan SK. Rektor UNISMA No. 125/G161/U.KAK/R//L.16/II/2020, tentang Pedoman Ekuivalensi Kegiatan Kemahasiswaan dengan Kegiatan Akademik di Universitas Islam Malang, maka diberitahukan kepada mahasiswa UNISMA, bahwa Pendaftaran Program Kandidat Sarjana Mengabdi Ekuivalensi (KSM-E) untuk Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026 diatur sesuai dengan ketentuan sebagai berikut.

Pengumuman dan Kredit Poin KSM-E

Formulir Isian Online: https://bit.ly/KSM-EUNISMA25262

Template Permohonan KSM-E

Catatan: Untuk Bukti KRS yang memuat Matakuliah KKN/KSM, dapat diganti Surat Keterangan dari Program Studi/Fakultas.

Pengumpulan Luaran KSM-E

Menggali Jaminan Akhirat: Tiga Pengajaran Kehidupan daripada Kisah Syahid Abdullah Al-Anshori

MALANG — Dalam lipatan sejarah Islam, banyak peristiwa luar biasa yang merungkai hakikat kehidupan dan kematian. Salah satu naratif yang paling menyentuh hati telah dikongsikan dalam siri Mutiara Hikmah di Masjid Kampus Ainul Yaqin. Menerusi kupasan Ust. Thoriq Al-Asnhari, LC., M.Pd., kisah syahidnya Abdullah Al-Anshori di medan Uhud diangkat sebagai manifestasi nyata tentang jaminan dan keadilan mutlak di akhirat.

Kisah ini bermula apabila Rasulullah SAW menziarahi Jabir, anak kepada Abdullah Al-Anshori yang sedang bersedih. Bapanya bukan sahaja gugur syahid, malah meninggalkan hutang dan tanggungan keluarga. Namun, duka Jabir terubat apabila Baginda SAW mendedahkan sebuah dialog rahsia antara Allah SWT dan roh bapanya. Allah SWT telah menawarkan apa sahaja permintaan kepada Abdullah. Menariknya, beliau tidak meminta syurga yang lebih tinggi, sebaliknya memohon untuk dihidupkan semula ke dunia agar dapat mati syahid buat kali kedua.

Tawaran tersebut tidak dapat dipenuhi kerana ketetapan ilahi bahawa manusia yang telah wafat tidak akan kembali ke dunia. Rentetan daripada peristiwa agung ini, turunlah ayat 169 Surah Ali ‘Imran yang menegaskan bahawa golongan yang syahid sebenarnya tidak mati, bahkan mereka hidup dan dikurniakan rezeki di sisi Tuhan.

Daripada penceritaan ini, Ust. Thoriq menggariskan tiga landasan utama sebagai pedoman buat umat Islam pada hari ini. Pertama, keadilan akhirat adalah sebuah realiti yang pasti. Di dunia moden yang penuh dengan kepincangan, banyak rintihan yang tidak didengari dan keadilan yang gagal ditegakkan. Namun, setiap titisan air mata dan kesabaran menempuh kezaliman itu akan dihitung dengan adil di mahkamah Allah kelak.

Kedua, setiap urusan duniawi perlu disandarkan kepada Yang Maha Pencipta. Sekecil mana pun pekerjaan atau tugasan harian kita, apabila ia dilakukan atas paksi mencari keredaan-Nya, ia secara automatik berubah menjadi ibadah yang bernilai tinggi.

Ketiga, ketenangan hati yang abadi hanya akan diraih apabila segalanya diserahkan kepada Allah. Hal-hal yang bersandarkan kepada manusia atau material semata-mata pasti akan terputus dan lenyap ditelan zaman. Hanya ikatan yang dibina kerana Allah (Ma kana lillahi) akan kekal utuh. Kisah ini bukan sekadar lipur lara sejarah, tetapi sebuah sauh yang mengukuhkan keimanan kita mendepani cabaran dunia.

UKM KOMUNITAS TEATER UNISMA MEMPERINGATI HARI TEATER SEDUNIA

MEMPERINGATI HARI TEATER SEDUNIA

Pada hari Sabtu, 18 April 2026 telah diselenggarakan peringatan Hari Teater Sedunia. Acara ini berlangsung di Belakang Gedung “B” Universitas Islam Malang dan dihadiri oleh berbagai komunitas teater se-Malang raya, mahasiswa, serta penikmat seni.

Acara peringatan Hari Teater Sedunia ini menjadi wadah bagi berbagai komunitas teater di Malang untuk berkumpul, berbagi pengalaman, dan menampilkan karya setiap sanggar sanggar teater unisma dan perorangan . Dengan mengusung tema “Gersang”, acara ini menyoroti pentingnya kebebasan dalam seni pertunjukan, di mana setiap individu dapat menyampaikan gagasan, kritik sosial, dan emosi mereka melalui panggung teater. Selain sebagai bentuk apresiasi terhadap seni peran, kegiatan ini juga menjadi momen untuk mempererat hubungan sillaturahmi antar komunitas teater  dan membangun jaringan yang lebih luas di antara para pelaku seni di Malang.

Acara dimulai pada pukul 14.00 WIB dengan Doa Bersama sebagai bentuk rasa syukur dan harapan agar kegiatan berjalan dengan lancar. Dimana seluruh peserta turut serta dalam doa bersama untuk kelancaran peringatan Hari Teater Sedunia ini. Setelah rangkaian selesai, peserta diberikan waktu untuk beristirahat sejenak sebelum memasuki acara inti.

Pada pukul 15.00 WIB, acara inti resmi dimulai dengan sambutan dari Ketua Umum UKM Komunitas Teater Unisma, Abdul Malik Sirojuddin. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya teater sebagai media ekspresi dan refleksi sosial yang tidak hanya memberikan hiburan, tetapi juga menjadi sarana untuk menyampaikan pesan-pesan penting kepada masyarakat. Ia juga mengajak para peserta untuk terus mendukung dan mengembangkan dunia teater agar tetap relevan di tengah perkembangan zaman.

Setiap sanggar menampilkan karya yang berbeda beda antara lain; perform art, monolog, puisi, tari, dan musik. Adapun kelompok yang turut serta dalam pertunjukan adalah sebagai berikut:

  1. BSO Paguyuban Semi
  2. BSO Teater Bangkit
  3. Teater Kandang
  4. Perform by Terpal
  5. Perform by Artchif
  6. BSO Paguyuban Paseban
  7. Panggung Bebas

Setiap penampilan menghadirkan suasana dan efektifitas baru dengan memberikan pengalaman yang baru bagi para penikmat seni dan khlayak umum. Acara berjalan dengan lancar, penuh antusias, serta mendapat apresiasi positif dari seluruh peserta dan umum.

Acara ini ditutup dengan sesi panggung bebas yang memberikan kesempatan bagi siapa saja untuk tampil dan mengekspresikan kreativitas mereka. Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan semakin banyak generasi muda yang tertarik dan terlibat dalam dunia teater.

Demikian berita acara ini dibuat sebagai dokumentasi kegiatan peringatan Hari Teater Sedunia di Universitas Islam Malang













Tingkatkan Keterampilan Bisnis Mahasiswa, UKM KOPMA Ilham Ramadhan UNISMA Sukses Gelar Workshop Digital Marketing dan Pelatihan Usaha

MALANG — Guna meningkatkan wawasan pemasaran di era modern, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Koperasi Mahasiswa (KOPMA) Ilham Ramadhan Universitas Islam Malang (UNISMA) sukses menyelenggarakan “Workshop Digital Marketing dan Pelatihan Pembinaan Usaha”. Kegiatan yang berlangsung antusias ini digelar pada Sabtu (18/4/2026) bertempat di Ruang F1.16 Gedung Al-Asy’ari UNISMA.

Acara yang berlangsung sejak pukul 07.00 hingga 16.00 WIB ini dirancang khusus untuk membekali para anggota KOPMA dan pelaku UKM dengan strategi promosi digital dan pengembangan kreativitas produk, salah satunya melalui peluang bisnis bouquet (buket).

Pembina UKM KOPMA UNISMA, Ibu Lia Rohmatul Maula, S.P., M.P., yang turut hadir dan membuka acara, menyampaikan apresiasi tingginya terhadap inisiatif mahasiswa. Dalam sambutannya, ia mengaku sangat bangga melihat program kerja UKM KOPMA ini dapat direalisasikan dengan persiapan yang matang dan eksekusi yang baik.

Memasuki sesi materi utama, Bapak M. Khoirul Anwaruddin BS., S.E., M.M., selaku pakar sekaligus pemateri, mengupas tuntas urgensi pemasaran digital bagi wirausahawan muda. Ia menegaskan bahwa digital marketing bukan lagi sekadar pilihan, melainkan keharusan.

Digital marketing merupakan strategi pemasaran esensial melalui internet dan media digital. Ini adalah kunci untuk meningkatkan penjualan, memperluas jangkauan pasar, serta membangun reputasi brand secara cepat, efektif, dan tentunya terukur,” papar Bapak Khoirul di hadapan para peserta.

Selain strategi digital, peserta juga dibekali keterampilan teknis dan mentalitas berbisnis melalui Pelatihan Pembinaan Usaha yang diisi oleh Saudari Lidia Sandy Kartika, S.H., M.H. Sebagai praktisi bisnis sekaligus founder “Buqiet Bell”, Lidia membagikan kisah inspiratif perjalanan usahanya yang dirintis sejak tahun 2022.

Ia menceritakan bahwa usahanya bermula dari coba-coba merangkai buket untuk teman tanpa modal besar maupun niat berjualan. Usahanya pun tak luput dari tantangan, termasuk saat ia gagal berjualan di sebuah event wisuda karena sepi pembeli. Namun, dari kegagalan tersebut lahir proses evaluasi, konsistensi, dan semangat belajar yang membuat usahanya bertahan dan berkembang hingga hari ini.

“Intinya, memulai usaha tidak harus menunggu semuanya sempurna atau merasa siap seutuhnya. Keberanian untuk memulai dari hal-hal kecil justru bisa menjadi pijakan awal menuju kesuksesan yang besar,” pesan Lidia yang disambut tepuk tangan peserta.

Secara keseluruhan, rangkaian acara dari pembukaan hingga sesi diskusi dan tanya jawab berjalan dengan lancar dan tertib. Antusiasme peserta terlihat jelas dari keaktifan mereka saat sesi interaktif, menunjukkan minat yang besar untuk segera mengaplikasikan inovasi produk buket dan memasarkannya melalui media digital.

Pewarta: Selvi Dwi Anita Sari

Keteladanan sebagai Fondasi Kepemimpinan: Menelusuri Nilai Aswaja di Balik Keberlanjutan Institusi

MALANG — Narasi tentang kepemimpinan sering kali terjebak pada persoalan hierarki, jabatan struktural, dan otoritas formal. Namun, dalam perspektif Islam, khususnya kerangka pemikiran Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja), kepemimpinan adalah keniscayaan ontologis yang melekat pada setiap individu sejak ia dilahirkan.

Diskursus mendalam mengenai hal ini mengemuka dalam kajian “Mutiara Hikmah” yang digelar di Masjid Ainul Yaqin pada Sabtu (18/4/2026). Hadir sebagai penceramah, Dr. Afifudin, S.Ag., M.Si., yang mengurai benang merah antara kepemimpinan spiritual dan keberlangsungan sebuah lembaga.

Menurut Dr. Afifudin, kesadaran bahwa manusia adalah khalifah fil ardhi (pemimpin di muka bumi) merupakan fondasi utama. Konsep kepemimpinan ini memiliki spektrum makna yang kaya, mulai dari Imam (sosok di depan/tempat yang dituju), Sulthon (penguasa bidang tertentu), Amir (pemberi instruksi), hingga Khalifah (penerus tongkat estafet perjuangan).

“Setiap manusia itu adalah pemimpin, minimal memimpin terhadap dirinya sendiri, dan itu akan dipertanggungjawabkan,” tegas Dr. Afifudin.

Beliau mengilustrasikan kepemimpinan pada tataran paling elementer melalui kacamata psikoanalisis Sigmund Freud. Di dalam diri manusia senantiasa terjadi pertarungan antara Id, Ego, dan Superego. Keberhasilan seseorang melangkahkan kaki ke masjid, alih-alih bersantai di kantin, adalah bukti sahih dari kemenangan memimpin jiwa dan raganya sendiri menuju kebaikan.

Uswatun Hasanah: Melampaui Instruksi Birokratis

Dalam konteks mewujudkan keberlangsungan lembaga, institusi sebesar apa pun tidak akan bertahan hanya dengan mengandalkan instruksi birokratis. Tata kelola kepemimpinan Aswaja memang mensyaratkan sifat-sifat profetik seperti Siddiq (jujur), Amanah (dapat dipercaya), Tabligh (komunikatif), dan Fathonah (cerdas). Namun, ada satu instrumen pamungkas yang menjadi penentu keberhasilan, yakni Uswatun Hasanah (suri teladan).

Dr. Afifudin menyoroti ironi kepemimpinan modern di mana atasan sering kali memberi instruksi tanpa memberikan contoh nyata. “Bagaimana kita akan menyuruh anak buah, kalau kita sendiri tidak mencontohkan? Bagaimana orang tua melarang anaknya merokok, sementara ia perokok aktif?” tanyanya retoris.

Keteladanan memiliki daya magis yang melampaui aturan tertulis. Fakta sosiologis ini sangat kental terasa di lingkungan pesantren. Dr. Afifudin mencontohkan bagaimana santri secara organik meniru kiainya, bahkan hingga pada hal-hal yang tidak diinstruksikan. Perbedaan gaya berpakaian antara alumni Pondok Pesantren Lirboyo (dengan peci bulat) dan Ploso (dengan peci tinggi/lincing) adalah bukti betapa kuatnya pengaruh figur seorang pemimpin.

Pada akhirnya, keberlangsungan dan kejayaan sebuah lembaga—termasuk penyebaran Islam oleh Wali Songo di Nusantara—sangat bergantung pada kekuatan teladan. Institusi tidak dibesarkan oleh komando yang kaku, melainkan oleh pemimpin yang bersedia menjadi contoh pertama dalam setiap kebaikan.

Menyepi di Sepertiga Malam: Mengukuhkan Dimensi Spiritual untuk Tatanan Sosial yang Harmonis

MALANG — Dalam membangun peradaban dan kehidupan sosial yang ideal, manusia sering kali terjebak pada fokus pencapaian yang bersifat horizontal semata—yakni memperbaiki hubungan antarmanusia (Hablum Minannas). Namun, bangunan sosial yang humanis dan harmonis sejatinya akan rapuh jika tidak ditopang oleh fondasi spiritualitas individual yang kokoh.

Konsep keseimbangan fundamental ini dikupas tuntas oleh Dr. Afifullah Hasyim, M.Pd. dalam mimbar “Mutiara Hikmah” Universitas Islam Malang (UNISMA) pada Kamis (16/4/2026). Di hadapan civitas akademika, beliau mengingatkan kembali sebuah dimensi krusial yang kerap terlupakan di tengah hiruk-pikuk kesibukan modern: keintiman komunikasi dengan Sang Pencipta di keheningan malam.

Merujuk pada pesan profetik, “Wa shollu bil-laili wan-nasu niyam” (Dan sholatlah di malam hari saat manusia tidur), Dr. Afifullah membedah urgensi Sholat Tahajud bukan sekadar sebagai ibadah sunah, melainkan sebagai instrumen vital untuk merawat keseimbangan hidup. Menurutnya, ketiga dimensi sosial (seperti menebar salam, menyambung silaturahmi, dan berbagi) harus diparipurnakan dengan dimensi spiritual yang bersifat vertikal dan sangat personal.

“Komunikasi yang paling baik adalah ketika orang-orang pada umumnya tidur. Waktu itu urusan dunia praktis tidak ada. Mulai dari jam 12 malam hingga jam 3 pagi, kepentingan duniawi kita terputus,” jelas Dr. Afifullah.

Dalam ruang waktu yang eksklusif tersebut, distraksi gawai, target pekerjaan, hingga urusan birokrasi kampus sejenak terhenti. Kekosongan dari intervensi duniawi inilah yang memberikan ruang bagi seorang hamba untuk membangun kedekatan yang murni dengan Dzat Penguasa Semesta. Kesalehan individu yang ditempa di sepertiga malam inilah yang kelak akan memancar menjadi kesalehan sosial di siang hari. Seseorang yang telah menundukkan egonya di hadapan Allah pada malam hari, niscaya akan tampil sebagai individu yang humanis, empatik, dan berintegritas saat berinteraksi dengan masyarakat.

Pesan spiritual ini ditutup dengan sebuah janji ilahiah. Institusi maupun individu yang ingin meraih keunggulan dan kedudukan mulia (Maqam Mahmuda), mutlak harus memperbaiki hubungannya dengan Allah. Istikamah dalam mendirikan tahajud adalah kunci pembuka pintu kemuliaan tersebut, menjadikannya bukan sekadar ritual malam, melainkan strategi spiritual untuk memenangkan kehidupan sosial secara elegan.

Poin-Poin Utama:

Janji Kemuliaan: Istikamah dalam tahajud adalah syarat untuk meraih kedudukan yang mulia di hadapan Allah.

Keseimbangan Hidup: Harmoni sosial harus sejalan dengan kedalaman spiritual. Hablum Minannas wajib diiringi dengan Hablum Minallah.

Waktu Komunikasi Terbaik: Keheningan malam (pukul 00.00 – 03.00) membebaskan manusia dari distraksi urusan duniawi, menjadikannya waktu paling berkualitas untuk beribadah.

Menghidupkan Malam: Mengamalkan anjuran “Wa shollu bil-laili wan-nasu niyam” melalui Sholat Tahajud.

Kedekatan Murni: Momentum sepertiga malam didedikasikan secara eksklusif untuk membangun keintiman yang tulus dengan Pencipta alam semesta.

Mengkalibrasi Ulang “Filter” Jiwa: Menjadikan Sholat sebagai Perisai Integritas di Tengah Turbulensi Modernitas

MALANG — Di tengah pusaran era modern yang dibanjiri oleh polusi informasi, dekadensi moral, hingga materialisme ekstrem, manusia rentan mengalami disorientasi nilai. Berbagai patologi sosial—mulai dari korupsi, penyebaran hoaks, hingga konflik horizontal—terus bermunculan. Merespons krisis tersebut, mimbar “Mutiara Hikmah” Universitas Islam Malang (UNISMA) menghadirkan refleksi mendalam dari Ir. KH. Taqijuddin Alawy, ST., MT., yang mendiagnosis bahwa kekacauan perilaku di masyarakat sering kali bermuara pada satu hal: “rusaknya filter” spiritual.

Dalam kajiannya di hadapan jamaah kampus, KH. Taqijuddin menganalogikan ibadah sholat layaknya sistem filtrasi berteknologi tinggi bagi jiwa manusia. Merujuk pada fondasi teologis dalam Al-Qur’an Surah Al-Ankabut ayat 45, disebutkan bahwa sholat memiliki daya cegah (tan-ha) terhadap perbuatan keji (fahsya’) dan mungkar.

“Bayangkan jika kita memiliki filter air. Air yang keruh dimasukkan, keluar menjadi jernih karena kotorannya tertahan,” papar KH. Taqijuddin memberikan perumpamaan teknis yang presisi.

Setiap harinya, manusia modern tak henti-hentinya dihantam oleh “air keruh” berupa ajakan maksiat, godaan harta tak halal, dan penyakit hati. Apabila sholat yang didirikan memiliki kualitas yang paripurna, maka ibadah tersebut akan menyaring segala residu negatif tersebut sebelum mengontaminasi “tangki” hati dan pikiran.

Namun, muncul sebuah paradoks sosiologis: mengapa ada individu yang rutin menunaikan sholat, namun tetap gemar memanipulasi, melakukan korupsi, atau menyakiti sesama?

Menjawab ironi ini, KH. Taqijuddin menegaskan bahwa kesalahan tidak terletak pada ayat Allah, melainkan pada kualitas instrumen filternya. “Mungkin filternya bocor, atau sholatnya hanya sekadar rutinitas jasmani tanpa melibatkan ruh,” tegasnya. Sholat yang kehilangan esensinya tidak akan mampu mereduksi kesombongan ego manusia. Sebaliknya, ketika gerakan rukuk dan sujud benar-benar dihayati sebagai penyerahan diri total, saat itulah mesin filter spiritual bekerja maksimal membersihkan noda kesombongan.

Pesan ini menjadi pengingat strategis bagi institusi pendidikan tinggi. Keunggulan peradaban dan integritas moral tidak bisa dicapai hanya bermodalkan kecerdasan intelektual. Ia membutuhkan individu-individu yang senantiasa menjaga kualitas sholatnya. Sholat bukan sekadar kewajiban ritual, melainkan sebuah kebutuhan eksistensial untuk memproduksi manusia-manusia yang bersih, berintegritas, dan berakhlakul karimah.