Kala Iblis Terjebak “Prank” Manusia: Refleksi Etos Kerja dan Bahaya Meremehkan Sumpah Profesi

MALANG — Terdapat sebuah anekdot klasik nan sarat makna dalam literatur Islam mengenai Iblis yang berhasil ditipu oleh kelincahan akal manusia. Kisah ini bukan sekadar humor teologis, melainkan sebuah teguran keras bagi manusia modern—khususnya kaum profesional—yang kerap menggadaikan integritasnya. Pemaparan ini menjadi sorotan tajam dalam kajian “Mutiara Hikmah” yang disampaikan oleh drh. H. M. Zainul Fadli, M.Kes. di hadapan jamaah Universitas Islam Malang (UNISMA).

Mengutip literatur dari Syeikh Nasharuddin Muhammad, drh. Zainul Fadli menceritakan sebuah peristiwa di masa lampau ketika Iblis masih kerap menampakkan wujudnya. Suatu ketika, seorang pria mendatangi Iblis dan melontarkan pertanyaan tak lazim: “Bagaimana caranya agar aku bisa menjadi sepertimu?”

Iblis yang terkejut lantaran belum pernah ada manusia yang bercita-cita menirunya, akhirnya membeberkan dua rahasia utama. Pertama, fatahawan bish-sholah (remehkanlah salat). Kedua, la tubali minal khalf (jangan pedulikan sumpah-sumpahmu alias mudah berbohong dan ingkar janji). Mendengar bocoran strategi tersebut, pria itu justru membalikkan keadaan. Ia bersumpah kepada Allah untuk tidak akan pernah meninggalkan salat dan tidak akan sembarangan mengobral sumpah. Iblis pun tersadar bahwa dirinya telah dijebak.

Ujian Integritas di Dunia Profesional

Kisah “prank” Iblis ini ditarik oleh drh. Zainul Fadli ke dalam realitas dunia kerja modern. Menurutnya, dua godaan utama Iblis tersebut adalah akar dari hancurnya etos kerja dan profesionalisme. Mengabaikan sumpah, dalam konteks kekinian, adalah pengkhianatan terhadap “Sumpah Profesi” dan pakta integritas yang diikrarkan oleh para pekerja, pejabat, maupun tenaga kesehatan.

“Hati-hati dengan profesimu. Kamu diawasi dalam melaksanakan sumpah profesi. Jangan sekali-kali dilanggar,” tegas drh. Zainul Fadli.

Lebih lanjut, godaan meremehkan salat dikontekstualisasikan dengan jebakan kesibukan duniawi. Iblis merancang sistem interupsi yang sistematis bagi kaum pekerja. Menjelang waktu azan, Iblis akan mendatangkan berbagai kesibukan instan: tumpukan berkas dari pimpinan, jadwal rapat mendadak, hingga kedatangan pelanggan di toko.

Jika manusia berhasil lolos dan tetap mendatangi masjid, Iblis beralih ke strategi kedua: memunculkan rasa terburu-buru agar salat cepat selesai. Jika manusia tetap berusaha tuma’ninah (tenang), Iblis meluncurkan strategi pamungkas berupa taswis (bisikan), yakni mengingatkan urusan-urusan duniawi—seperti pekerjaan yang belum tuntas atau barang belanjaan—tepat saat seseorang sedang takbiratul ihram.

Untuk menangkal serangan psikologis dan spiritual tersebut, drh. Zainul Fadli mengingatkan jamaah untuk mengamalkan sunah Nabi Muhammad SAW, yakni membaca Surah An-Nas sebelum memulai salat, demi melindungi hati dari bisikan yang merusak fokus ibadah dan integritas batin.