Syawal sebagai Titik Tolak: Mengkalibrasi Ulang Profesionalisme Melalui Tiga Parameter Takwa

MALANG — Gegap gempita perayaan Idulfitri kerap kali menyisakan euforia sesaat yang mengaburkan esensi sesungguhnya dari bulan Syawal. Secara etimologis, Syawal bermakna al-irtifa’ atau az-ziyadah, yang bermuara pada satu kata kunci: peningkatan. Dalam konteks ini, usainya tempaan spiritual di “Madrasah Ramadan” seharusnya melahirkan lompatan kualitas, baik dalam ranah ibadah vertikal maupun etos kerja horizontal.

Hal ini menjadi sorotan utama dalam kajian “Mutiara Hikmah” yang disampaikan oleh Dr. Kukuh Santoso, M.Pd.I. untuk keluarga besar Universitas Islam Malang (UNISMA). Melalui mimbarnya, Dr. Kukuh mengajak civitas akademika untuk melakukan refleksi kritis terhadap muara dari ibadah puasa, yakni pencapaian derajat takwa (la’allakum tattaquun).

Untuk mengukur keberhasilan tersebut, Dr. Kukuh merujuk pada rumusan cemerlang dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah mengenai tiga parameter utama orang yang bertakwa. Parameter ini tidak hanya relevan sebagai ukuran teologis, tetapi juga sangat aplikatif sebagai pedoman profesionalitas di lingkungan kerja.

Parameter pertama adalah Al-Khaufu minal Jalil, yakni rasa takut kepada Allah Yang Maha Agung. “Rasa takut di sini bukan berarti menjauh, melainkan merasa muraqabah (selalu diawasi oleh Allah),” terang Dr. Kukuh. Dalam dunia profesional, kesadaran ini adalah fondasi tertinggi dari integritas. Ketika seorang pekerja merasa diawasi oleh Sang Pencipta, kedisiplinan dan kejujuran akan tetap terjaga tanpa memerlukan pengawasan ketat dari atasan.

Parameter kedua, Al-Amalu bit-Tanzil, menuntut implementasi nilai-nilai Al-Qur’an dalam praktik nyata. Jika selama Ramadan umat Islam berlomba-lomba mengkhatamkan bacaan, tantangan di bulan Syawal adalah mengejawantahkan ayat-ayat tersebut ke dalam profesi dan interaksi sosial. Integritas moral yang diajarkan Al-Qur’an harus mewarnai setiap keputusan dan kebijakan di tempat kerja.

Parameter ketiga sekaligus pamungkas adalah Al-Istidadu li Yaumir-Rahil, yakni mempersiapkan bekal untuk hari kepulangan. Kesadaran eskatologis bahwa dunia bersifat fana akan mencegah seseorang dari praktik koruptif atau menghalalkan segala cara demi ambisi duniawi. Sebaliknya, kesadaran ini memacu semangat untuk mengonversi setiap jam kerja menjadi amal saleh dan pengabdian yang berdampak luas bagi masyarakat.

Bulan Syawal bukanlah garis akhir, melainkan garis awal bagi sebuah pembuktian. Momen ini menjadi krusial untuk memastikan bahwa ketakwaan yang diraih tidak hanya berdimensi ritual, tetapi juga mampu mencetak individu-individu berintegritas yang siap membawa keunggulan bagi institusinya.