Mengurai Benang Kusut Era Modern: Menjadikan Hadis Sosial sebagai Instrumen Manajemen Konflik
MALANG — Arus deras modernisasi dan digitalisasi sering kali membawa efek samping yang tak terhindarkan: tingginya friksi dan konflik sosial. Mulai dari perdebatan nirujung di media sosial, persaingan tidak sehat di lingkungan kerja, hingga keretakan dalam rumah tangga. Menjawab problematika sosiologis ini, mimbar “Mutiara Hikmah” Universitas Islam Malang (UNISMA) menghadirkan kajian bernas dari Ir. H. Zainul Arifin, MP., yang menawarkan paradigma penyelesaian konflik berbasis sunnah.
Dalam paparannya di Masjid Ainul Yaqin, Ir. Zainul Arifin menegaskan bahwa literatur hadis—khususnya yang bertema sosial (muamalah)—bukanlah sekadar artefak sejarah yang dibaca untuk menggugurkan kewajiban. Lebih dari itu, hadis sosial adalah instrumen “manajemen konflik” paripurna yang daya relevansinya justru semakin kuat di era kiwari.
“Agama Islam bukan hanya tentang sujud di atas sajadah, tapi tentang bagaimana kehadiran kita mampu menjadi solusi dan membawa rasa damai bagi masyarakat di sekitar kita,” tegas Ir. Zainul Arifin, menggeser fokus jamaah dari kesalehan ritual menuju kesalehan sosial.

Beliau membedah salah satu hadis populer mengenai anjuran menebarkan salam (“Sebarkanlah salam di antara kalian”). Dalam konteks manajemen konflik, “salam” bermakna filosofis yang jauh lebih dalam dari sekadar sapaan verbal. Salam adalah garansi keamanan. Konflik di era modern nyaris selalu bermula dari rasa terancam—baik ancaman terhadap hak, eksistensi, maupun perasaan. Apabila setiap muslim berkomitmen memberikan garansi keselamatan (dari tajamnya lisan, jemari di media sosial, dan tindakan), eskalasi konflik akan mereda dengan sendirinya.
Di samping garansi keamanan, Ir. Zainul Arifin juga menyoroti ironi era digital: manusia secara sinyal “terkoneksi” kuat, namun secara emosional dan batiniah “terputus”. Solusi Islam untuk krisis ini adalah mengembalikan muruah silaturahmi sebagai forum tabayyun (klarifikasi) dan pelebur ketegangan.
Terakhir, gesekan kepentingan di tempat kerja maupun institusi akademis dapat diredam melalui prinsip itsaar (altruisme/mendahulukan kepentingan orang lain) dan tasamuh (toleransi). Nilai-nilai profetik inilah yang harus menjadi kompas bagi civitas akademika. Mengejar target-target duniawi dan indikator kinerja adalah keniscayaan profesional, namun hal tersebut tidak boleh dibayar dengan hancurnya kualitas hubungan sosial antar-kolega.





