Kritik Tradisi “Hitungan Weton”, KH Ikhsan Nur Serukan Kemurnian Syariat di Haul Akbar UNISMA 2026

MALANG – Suasana khidmat Haul Akbar Universitas Islam Malang (UNISMA) di Masjid Ainul Yaqin, Selasa (10/02/2026), menjadi momentum refleksi keagamaan yang mendalam. Di hadapan ribuan jamaah yang memadati masjid, KH. Ikhsan Nur, Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Hikmah as Salafiyah, menyampaikan pesan tegas mengenai pentingnya menjaga kemurnian ajaran Islam di tengah gempuran budaya dan tradisi yang tidak sejalan dengan syariat.

Dalam mauidhoh hasanah-nya, Kiai Ikhsan menyoroti fenomena sosial di mana sebagian masyarakat Muslim masih mencampuradukkan ajaran Islam dengan tradisi mistis atau klenik. Beliau secara spesifik mengkritik kebiasaan menghitung hari baik atau “weton” dalam penentuan pernikahan yang justru kerap menghalangi niat ibadah.

“Ayo memegang agama Islam itu yang murni, sesuai syariat, jangan dicampuradukkan. Kadang ada yang Islam tapi itikadnya ghairu Islam (bukan Islam),” tegas Kiai Ikhsan.

Beliau menceritakan pengalaman pribadinya saat menikahkan santri yang sempat terhalang restu orang tua hanya karena hitungan weton yang dianggap tidak cocok atau “burung” (batal). Padahal, menurut syariat Islam, jika kedua calon mempelai sudah setuju dan memenuhi syarat, maka pernikahan harus disegerakan.

“Hitungan berapa, lahirnya kapan, setelah dihitung tidak cocok, akhirnya batal. Padahal anak laki-laki setuju, perempuan setuju. Itu ghairu Islam. Pusat agama itu di sini (pesantren/masjid), jangan dipalingkan ke hal-hal seperti itu,” ujar beliau dengan logat Jawa Timuran yang khas.

Kiai Ikhsan juga mengutip hadis Nabi Muhammad SAW tentang Islam yang bermula dalam keadaan asing dan akan kembali menjadi asing. Beliau memperingatkan agar umat Islam tidak membiarkan Islam hanya tinggal nama dan Al-Qur’an hanya tinggal tulisan (La yabqol Islamu illa ismuhu, wala yabqol Quran illa rosmuhu).

Sebagai penutup, beliau berwasiat kepada seluruh sivitas akademika UNISMA untuk menghidupkan waktu antara Maghrib dan Isya dengan ibadah khusus, seperti salat berjamaah dan membaca Al-Qur’an, sebagai benteng pertahanan spiritual keluarga dan institusi.