Menggugat Hegemoni Akademik Barat: Menempatkan Tauhid dan Pembiasaan Akhlak sebagai Fondasi Universitas Berkelas Dunia

MALANG — Ambisi membangun institusi pendidikan tinggi berkaliber internasional (World Class University) acap kali menjebak akademisi negara berkembang pada satu kekeliruan fatal: mengekor secara buta pada epistemologi dan filsafat pendidikan Barat. Padahal, kemajuan peradaban tidak diukur semata-mata dari supremasi rasionalitas, melainkan dari kukuhnya fondasi tauhid dan keluhuran akhlak.

Kritik tajam dan bernas ini disampaikan oleh Prof. Drs. H. Junaidi, M.Pd., Ph.D. dalam mimbar kajian “Mutiara Hikmah” di Masjid Ainul Yaqin, Universitas Islam Malang (UNISMA). Di hadapan civitas akademika, beliau membongkar konstruksi teori pendidikan Barat yang menempatkan aspek kognitif (knowing) di puncak hierarki, dan menawarkan antitesis yang berakar kuat pada tradisi Islam Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) serta kearifan lokal Nusantara.

Mengambil keteladanan dari firman Allah SWT dalam Surah Luqman, Prof. Junaidi menegaskan bahwa hakikat pendidikan paling mendasar adalah keimanan. “Ya bunayya la tusyrik billah” (Wahai anakku, janganlah memperserikatkan Allah) adalah manifesto bahwa sebelum manusia diajarkan tentang sains dan teknologi, mereka harus dipenuhi dengan pengenalan terhadap Sang Pencipta. Dari tauhid inilah lahir akhlak, baik kepada Allah maupun sesama manusia.

“Akhlak itu di atas ilmu. Ilmu itu posisinya di bawah akhlak. Namun yang sering terjadi, kita lebih banyak berkiblat pada teori Barat yang menempatkan rasionalitas di atas segalanya,” tegas Prof. Junaidi.

Beliau mencontohkan teori pendidikan moral Barat yang mensyaratkan tiga tahapan kaku: moral knowing (mengetahui), moral feeling (merasakan), lalu moral acting (melakukan). Perspektif Islam justru membalik hierarki ini. Pembiasaan amal (aksi) harus didahulukan. Anak-anak diajarkan bersedekah atau salat melalui tindakan langsung, tanpa harus dipaksa memahami rumitnya dalil filosofis di baliknya. Pemahaman rasional akan menyusul seiring kematangan usia.

Paradoks Kearifan Lokal yang “Dicuri” Barat

Lebih jauh, Guru Besar UNISMA ini menyoroti sebuah ironi akademik. Banyak teori Barat yang diadopsi di ruang-ruang kelas saat ini sejatinya adalah modifikasi dari filosofi lokal yang sudah mendarah daging di masyarakat Indonesia.

Teori Behaviorism (pembentukan kebiasaan) yang didengungkan oleh Pavlov dan Skinner melalui eksperimen stimulus-respons, sejatinya telah lama dipraktikkan oleh leluhur kita melalui pepatah Jawa “Bisa jalaran soko kulino” (Bisa karena terbiasa). Demikian pula dengan metode Cooperative Learning (pembelajaran kooperatif) yang diagungkan sebagai temuan pedagogi modern. Padahal, masyarakat Barat berakar pada kultur individualistik, sementara bangsa Indonesia telah lama hidup dengan filosofi “ringan sama dijinjing, berat sama dipikul” atau asas gotong royong.

Lantas, mengapa hegemoni Barat seolah tak terbantahkan? “Karena kita kalah duluan dalam menuliskannya. Kita kedahuluan dalam memberikan penalaran secara ilmiah,” papar Prof. Junaidi memberikan diagnosis yang presisi.

Di sinilah letak urgensi etos kerja profesional bagi para pendidik dan peneliti. Menuju World Class University, civitas akademika UNISMA tidak boleh sekadar menjadi konsumen teori. Terdapat kewajiban moral dan akademis untuk merumuskan ulang gagasan orisinal, praktik baik, dan kearifan lokal ke dalam bahasa sains universal, untuk kemudian dipublikasikan di jurnal-jurnal ilmiah bertaraf internasional.

Pesan ini bukan sekadar imbauan administratif demi mengejar akreditasi, melainkan sebuah gerakan pembebasan epistemologis. Jika akademisi muslim enggan menulis dan mendokumentasikan tradisi keilmuannya, maka jangan salahkan jika kelak filosofi luhur bangsa ini diklaim dan dipatenkan oleh peradaban lain yang lebih rajin merawat literasinya.