Menyempurnakan Ibadah Ramadan: Evaluasi Rutinitas, Ilmu, dan Amal
MALANG – Memasuki hari ke-17 di bulan suci Ramadan, umat Islam kembali diingatkan untuk melakukan introspeksi mendalam terhadap kualitas ibadah yang dijalankan. Pesan reflektif ini menggema dalam Kultum Mutiara Hikmah yang disampaikan oleh Ir. Kh. Taqijuddin Alawy, MT. di Masjid Ainul Yaqin, Universitas Islam Malang (UNISMA) pada Sabtu, 7 Maret 2026. Beliau yang hadir mewakili Prof. Maskuri menyoroti fenomena ibadah yang kerap kali terjebak dalam sekadar rutinitas tanpa pemaknaan spiritual yang esensial.
Dalam ceramahnya, Ir. Kh. Taqijuddin Alawy menekankan pentingnya muhasabah atau evaluasi diri. Beliau mengajak jamaah untuk mempertanyakan apakah ibadah puasa dan salat yang dilakukan sudah mengalami peningkatan kualitas dibandingkan hari-hari sebelumnya, atau sekadar menahan lapar dan dahaga. Sering kali, ibadah dirasakan sebagai beban karena tidak dilandasi dengan ilmu dan pemahaman yang memadai.
Salah satu contoh nyata yang disoroti adalah kecenderungan umat untuk mengabaikan salat sunnah rawatib, seperti ba’diyah Isya, karena terburu-buru mengejar salat Tarawih. Padahal, salat sunnah tersebut berfungsi sebagai penambal atas ketidaksempurnaan salat wajib. Fenomena salat Tarawih yang dilakukan secara tergesa-gesa tanpa tuma’ninah demi mengejar waktu penyelesaian juga menjadi kritik tajam dalam kultum ini. Begitu pula dengan kegiatan tadarus Al-Qur’an yang kerap kali hanya berfokus pada kecepatan membaca tanpa memperhatikan kebenaran tajwid atau pemahaman maknanya.
Lebih lanjut, penceramah mengingatkan jamaah akan keseimbangan pemenuhan kebutuhan jasmani dan rohani. Jika jasmani membutuhkan asupan makanan dan minuman, maka rohani juga membutuhkan “makanan” berupa dzikrullah atau mengingat Allah. Kesibukan memikirkan kebutuhan duniawi sering kali membuat manusia melupakan asupan bagi jiwa mereka.
Sebagai penutup, Ir. Kh. Taqijuddin Alawy memberikan pesan menohok mengenai pengelolaan harta. Beliau mengingatkan bahwa harta yang dikumpulkan dengan susah payah tidak akan dibawa mati. Oleh karena itu, cara terbaik untuk mengamankan harta adalah dengan “mendepositokannya” di jalan Allah melalui sedekah dan infak, yang akan menjadi bekal abadi di akhirat kelak.




