Menyemai An-Najah: Membangun Peradaban Lewat Cinta Tanah Air dan Ketajaman Visi Sejarah

MALANG — Di era pascamodernisme yang ditandai oleh arus globalisasi dan lunturnya batas-batas geografis, kesadaran akan urgensi tanah air (hubbul wathan) kerap kali mengalami pendangkalan makna. Padahal, dalam kosmologi Islam, akar identitas spiritual dan sosial seseorang bermula dari pijakannya terhadap tanah kelahirannya.

Mengurai benang merah antara nasionalisme, sejarah, dan kesuksesan, Dr. Kukuh Santoso, M.Pd.I., dalam mimbar “Mutiara Hikmah” di Masjid Ainul Yaqin Universitas Islam Malang (Unisma) pada Senin (27/4/2026), membedah secara komprehensif maqolah mashur dari Prof. Dr. Said Al-Insyirot.

“Man laisa lahu ardhun, laisa lahu tarikh. Wa man laisa lahu tarikh, laisa lahu dzakirah,” kutip Dr. Kukuh. (Barangsiapa tidak memiliki tanah air, maka ia tidak memiliki sejarah. Barangsiapa tidak memiliki sejarah, maka ia akan dilupakan).

Menurut Dr. Kukuh, tanah air bukanlah sekadar entitas teritorial atau batas geografis di atas peta. Tanah air adalah rahim peradaban—tempat di mana manusia berpijak, memupuk patriotisme, dan mengartikulasikan penghambaannya kepada Allah (secara vertikal) sekaligus menebar maslahat (secara horizontal). Tanpa fondasi kecintaan terhadap tanah air ini, mustahil seorang anak manusia mampu menorehkan tinta emas sejarah.

“Sejarah adalah jejak abadi, baik berupa prasasti maupun prestasi. Namun, prestasi tersebut hanya akan dikenang abadi jika ia bermuara pada satu titik: kesuksesan yang hakiki,” papar beliau di hadapan civitas akademika Unisma.

Untuk membumikan gagasan tersebut, Dr. Kukuh memperkenalkan terminologi kesuksesan dalam kerangka Islam, yakni An-Najah. Kata ini tidak sekadar bermakna pencapaian material, melainkan mengandung filosofi mendalam yang tersusun dari tiga huruf penyusunnya: Nun, Jim, dan Ha.

Pilar pertama adalah Nun (Nadhar). Sebuah kesuksesan mensyaratkan adanya pengamatan, ketajaman visi, serta perencanaan strategis yang presisi sebelum bertindak. Pilar kedua adalah Jim (Jadd), yang merepresentasikan perjuangan gigih. Sesuai dengan janji Allah dalam QS. Al-Ankabut, Jadd menuntut implementasi kerja keras, kerja cerdas, dan kerja tuntas untuk mencari rida-Nya.

Pilar ketiga sekaligus pamungkas adalah Ha (Khauf). Di balik keberanian dan kerja keras, seorang muslim harus memiliki khauf—kewaspadaan dan kehati-hatian. Dr. Kukuh menarik relevansinya dengan falsafah Jawa, “eling lan waspada”, sebagai self-control agar ambisi tidak menggelincirkan manusia pada kesombongan atau kecerobohan taktis.

Lebih jauh, Dr. Kukuh mengontekstualisasikan wacana makro ini ke dalam ranah institusional. Beliau mengajak seluruh audiens untuk memperlakukan kampus Unisma layaknya “tanah air” perjuangan. Mengenang dedikasi para pendiri kampus seperti K.H. Tholchah Hasan dan K.H. Oesman Mansoer, beliau menegaskan bahwa amanah terbesar generasi hari ini adalah memastikan estafet kesuksesan tersebut tidak terputus.

“Tugas kita adalah melanjutkan tonggak sejarah agar masa ke masa kampus ini terus berkembang. Pertanyaannya, selepas kita nanti, catatan sejarah seperti apa yang akan mengenang diri kita?” gugatnya menutup kajian, memberikan refleksi tajam bagi setiap insan yang mengabdi di institusi tersebut.