Menyepi di Sepertiga Malam: Mengukuhkan Dimensi Spiritual untuk Tatanan Sosial yang Harmonis
MALANG — Dalam membangun peradaban dan kehidupan sosial yang ideal, manusia sering kali terjebak pada fokus pencapaian yang bersifat horizontal semata—yakni memperbaiki hubungan antarmanusia (Hablum Minannas). Namun, bangunan sosial yang humanis dan harmonis sejatinya akan rapuh jika tidak ditopang oleh fondasi spiritualitas individual yang kokoh.
Konsep keseimbangan fundamental ini dikupas tuntas oleh Dr. Afifullah Hasyim, M.Pd. dalam mimbar “Mutiara Hikmah” Universitas Islam Malang (UNISMA) pada Kamis (16/4/2026). Di hadapan civitas akademika, beliau mengingatkan kembali sebuah dimensi krusial yang kerap terlupakan di tengah hiruk-pikuk kesibukan modern: keintiman komunikasi dengan Sang Pencipta di keheningan malam.
Merujuk pada pesan profetik, “Wa shollu bil-laili wan-nasu niyam” (Dan sholatlah di malam hari saat manusia tidur), Dr. Afifullah membedah urgensi Sholat Tahajud bukan sekadar sebagai ibadah sunah, melainkan sebagai instrumen vital untuk merawat keseimbangan hidup. Menurutnya, ketiga dimensi sosial (seperti menebar salam, menyambung silaturahmi, dan berbagi) harus diparipurnakan dengan dimensi spiritual yang bersifat vertikal dan sangat personal.
“Komunikasi yang paling baik adalah ketika orang-orang pada umumnya tidur. Waktu itu urusan dunia praktis tidak ada. Mulai dari jam 12 malam hingga jam 3 pagi, kepentingan duniawi kita terputus,” jelas Dr. Afifullah.
Dalam ruang waktu yang eksklusif tersebut, distraksi gawai, target pekerjaan, hingga urusan birokrasi kampus sejenak terhenti. Kekosongan dari intervensi duniawi inilah yang memberikan ruang bagi seorang hamba untuk membangun kedekatan yang murni dengan Dzat Penguasa Semesta. Kesalehan individu yang ditempa di sepertiga malam inilah yang kelak akan memancar menjadi kesalehan sosial di siang hari. Seseorang yang telah menundukkan egonya di hadapan Allah pada malam hari, niscaya akan tampil sebagai individu yang humanis, empatik, dan berintegritas saat berinteraksi dengan masyarakat.
Pesan spiritual ini ditutup dengan sebuah janji ilahiah. Institusi maupun individu yang ingin meraih keunggulan dan kedudukan mulia (Maqam Mahmuda), mutlak harus memperbaiki hubungannya dengan Allah. Istikamah dalam mendirikan tahajud adalah kunci pembuka pintu kemuliaan tersebut, menjadikannya bukan sekadar ritual malam, melainkan strategi spiritual untuk memenangkan kehidupan sosial secara elegan.
Poin-Poin Utama:
Janji Kemuliaan: Istikamah dalam tahajud adalah syarat untuk meraih kedudukan yang mulia di hadapan Allah.
Keseimbangan Hidup: Harmoni sosial harus sejalan dengan kedalaman spiritual. Hablum Minannas wajib diiringi dengan Hablum Minallah.
Waktu Komunikasi Terbaik: Keheningan malam (pukul 00.00 – 03.00) membebaskan manusia dari distraksi urusan duniawi, menjadikannya waktu paling berkualitas untuk beribadah.
Menghidupkan Malam: Mengamalkan anjuran “Wa shollu bil-laili wan-nasu niyam” melalui Sholat Tahajud.
Kedekatan Murni: Momentum sepertiga malam didedikasikan secara eksklusif untuk membangun keintiman yang tulus dengan Pencipta alam semesta.



