Keteladanan sebagai Fondasi Kepemimpinan: Menelusuri Nilai Aswaja di Balik Keberlanjutan Institusi
MALANG — Narasi tentang kepemimpinan sering kali terjebak pada persoalan hierarki, jabatan struktural, dan otoritas formal. Namun, dalam perspektif Islam, khususnya kerangka pemikiran Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja), kepemimpinan adalah keniscayaan ontologis yang melekat pada setiap individu sejak ia dilahirkan.
Diskursus mendalam mengenai hal ini mengemuka dalam kajian “Mutiara Hikmah” yang digelar di Masjid Ainul Yaqin pada Sabtu (18/4/2026). Hadir sebagai penceramah, Dr. Afifudin, S.Ag., M.Si., yang mengurai benang merah antara kepemimpinan spiritual dan keberlangsungan sebuah lembaga.
Menurut Dr. Afifudin, kesadaran bahwa manusia adalah khalifah fil ardhi (pemimpin di muka bumi) merupakan fondasi utama. Konsep kepemimpinan ini memiliki spektrum makna yang kaya, mulai dari Imam (sosok di depan/tempat yang dituju), Sulthon (penguasa bidang tertentu), Amir (pemberi instruksi), hingga Khalifah (penerus tongkat estafet perjuangan).
“Setiap manusia itu adalah pemimpin, minimal memimpin terhadap dirinya sendiri, dan itu akan dipertanggungjawabkan,” tegas Dr. Afifudin.
Beliau mengilustrasikan kepemimpinan pada tataran paling elementer melalui kacamata psikoanalisis Sigmund Freud. Di dalam diri manusia senantiasa terjadi pertarungan antara Id, Ego, dan Superego. Keberhasilan seseorang melangkahkan kaki ke masjid, alih-alih bersantai di kantin, adalah bukti sahih dari kemenangan memimpin jiwa dan raganya sendiri menuju kebaikan.
Uswatun Hasanah: Melampaui Instruksi Birokratis
Dalam konteks mewujudkan keberlangsungan lembaga, institusi sebesar apa pun tidak akan bertahan hanya dengan mengandalkan instruksi birokratis. Tata kelola kepemimpinan Aswaja memang mensyaratkan sifat-sifat profetik seperti Siddiq (jujur), Amanah (dapat dipercaya), Tabligh (komunikatif), dan Fathonah (cerdas). Namun, ada satu instrumen pamungkas yang menjadi penentu keberhasilan, yakni Uswatun Hasanah (suri teladan).
Dr. Afifudin menyoroti ironi kepemimpinan modern di mana atasan sering kali memberi instruksi tanpa memberikan contoh nyata. “Bagaimana kita akan menyuruh anak buah, kalau kita sendiri tidak mencontohkan? Bagaimana orang tua melarang anaknya merokok, sementara ia perokok aktif?” tanyanya retoris.
Keteladanan memiliki daya magis yang melampaui aturan tertulis. Fakta sosiologis ini sangat kental terasa di lingkungan pesantren. Dr. Afifudin mencontohkan bagaimana santri secara organik meniru kiainya, bahkan hingga pada hal-hal yang tidak diinstruksikan. Perbedaan gaya berpakaian antara alumni Pondok Pesantren Lirboyo (dengan peci bulat) dan Ploso (dengan peci tinggi/lincing) adalah bukti betapa kuatnya pengaruh figur seorang pemimpin.
Pada akhirnya, keberlangsungan dan kejayaan sebuah lembaga—termasuk penyebaran Islam oleh Wali Songo di Nusantara—sangat bergantung pada kekuatan teladan. Institusi tidak dibesarkan oleh komando yang kaku, melainkan oleh pemimpin yang bersedia menjadi contoh pertama dalam setiap kebaikan.



