Titik Balik Integritas: Menyelaraskan Niat, Keikhlasan, dan Etos Kerja Melalui Kisah Habib Al-Ajami
MALANG — Dinamika kehidupan profesional sering kali membawa manusia pada persimpangan antara ambisi duniawi dan panggilan nurani. Di tengah hiruk-pikuk aktivitas akademik dan administratif, kemurnian niat menjadi fondasi yang paling rentan terkikis. Merespons tantangan moral tersebut, mimbar “Mutiara Hikmah” di Masjid Ainul Yaqin Universitas Islam Malang (UNISMA) pada Senin (13/4/2026), menghadirkan refleksi spiritual yang menggugah dari Bahroin Budiya, M.Pd.
Mengawali paparannya, Bahroin mengingatkan kembali kaidah dasar ushul fikih, mahalluha fil qalbi—bahwa niat itu tempatnya bersemayam di dalam hati. Niat bukan sekadar formalitas lisan, melainkan motor penggerak bagi kualitas ibadah maupun pengajaran. Untuk memberikan gambaran konkret mengenai kekuatan niat dan keikhlasan, beliau menukil sebuah riwayat masyhur dari kitab Tadzkiratul Auliya’ tentang perjalanan spiritual Habib Al-Ajami.
Kisah Habib Al-Ajami adalah potret nyata tentang transformasi integritas moral. Di masa lalunya, ia dikenal sebagai sosok lintah darat (rentenir) yang kejam. Hidupnya bergelimang harta dari hasil riba, sementara lisan dan perilakunya sarat dengan cacian terhadap kaum fakir miskin. Reputasinya begitu kelam hingga anak-anak kecil pun mencemooh dan menjauhinya.
Titik balik kehidupan Habib Al-Ajami justru datang dari arah yang tak terduga: teguran sang istri. “Siapa tahu teguran dari keluarga, sahabat, atau istri kita sebetulnya bukan dari mereka, melainkan teguran langsung dari Allah SWT,” papar Bahroin memberikan penekanan.
Habib Al-Ajami tidak merespons teguran itu dengan arogansi, melainkan dengan perenungan mendalam. Momentum tersebut memicu ikrar tobat yang monumental. Ia mengumumkan tobatnya kepada khalayak, menyedekahkan seluruh hartanya, dan mengembalikan uang-uang hasil praktik riba kepada yang berhak hingga ia tak menyisakan apa pun untuk dirinya sendiri.
Transformasi ini menghasilkan feedback sosial yang luar biasa. Anak-anak kecil yang dahulu menghinanya, berbalik memberikan penghormatan dan menyebutnya sebagai kekasih Allah.
Kisah ini merupakan teguran keras sekaligus motivasi bagi ekosistem profesional modern. Pemulihan nama baik dan martabat sosial tidak diraih lewat pencitraan, melainkan melalui pembersihan niat dan pertobatan yang tuntas. Dalam konteks institusi pendidikan, hal ini menegaskan bahwa kebiasaan buruk yang merugikan pihak lain—baik berupa korupsi waktu, ketidakjujuran, maupun manipulasi—hanya bisa dihentikan jika ada kesadaran internal untuk kembali pada nilai-nilai keikhlasan. Ketika integritas moral telah memandu langkah, niscaya penghormatan dan keberkahan akan mengikuti secara otomatis.





