Membangun Harmoni Kehidupan Lewat Ibadah, Dr. Hasan Busri Ingatkan Empati Sosial dan Kesalahan Berburu Lailatul Qadar
MALANG – Memasuki hari kesepuluh bulan suci Ramadan 1447 H, Universitas Islam Malang (UNISMA) kembali menyelenggarakan kajian rutin Mutiara Hikmah di Masjid Ainul Yaqin, Sabtu (28/02/2026). Dalam kesempatan tersebut, Dr. Hasan Busri, M.Pd., menyampaikan ceramah komprehensif mengenai bagaimana ibadah-ibadah mahdhah dalam Islam sejatinya dirancang untuk membangun harmoni kehidupan yang berdampak nyata pada perilaku sosial.
Dr. Hasan membuka kajian dengan sebuah premis kuat bahwa seluruh perintah ibadah dari Allah SWT—mulai dari salat, puasa, zakat, hingga haji—bertujuan untuk menyeimbangkan dan mengharmoniskan kehidupan manusia. Menurutnya, jika sebuah ibadah dilakukan secara sukses dan selamat, maka perilaku kehidupan pelakunya juga dipastikan akan baik.
“Salat itu merupakan barometer, ukuran baik tidaknya seseorang. Kalau salat itu sukses, insya Allah semua perilaku kehidupannya akan baik-baik saja,” ujar Dr. Hasan, mengutip ayat bahwa salat mencegah perbuatan keji dan mungkar. Hal senada juga berlaku pada ibadah haji. Haji yang mabrur diindikasikan dengan berhentinya perilaku rafats (berkata kotor), fusuq (berbuat fasik), dan jidal (berdebat kusir) selama sisa hidupnya.
Membedah esensi puasa Ramadan, Dr. Hasan menyoroti fenomena kesalehan yang meningkat drastis. Ia mengapresiasi pemandangan di masjid-masjid di mana masyarakat berlomba-lomba menghatamkan Al-Qur’an, mendirikan salat malam, dan bersedekah. Namun, ia menekankan bahwa hasil akhir puasa (la’allakum tattaqun) harus melahirkan empati.
“Orang puasa itu pasti lapar dan pasti haus. Ternyata orang lapar itu tidak enak… Sehingga nanti kalau ada saudara-saudara yang masih kelaparan, kita punya rasa empati, solidaritas,” tegasnya. Beliau mengingatkan jamaah agar tidak tertipu oleh harta benda yang melalaikan dari mengingat Allah. Mengutip Surah Al-Munafiqun ayat 10, beliau memperingatkan penyesalan orang yang sedang menghadapi sakaratul maut (nazak), yang memohon agar umurnya ditangguhkan walau sejenak hanya untuk bisa bersedekah.
Di akhir kultumnya, Dr. Hasan memberikan kritik konstruktif terhadap tradisi sebagian masyarakat dalam memburu Lailatul Qadar. Beliau menyoroti kebiasaan beribadah secara acak dan pilih-pilih hari. “Mencari Lailatul Qadar itu jangan dicari di akhir atau di ganjilnya saja… 21 digenjot, 22 tidur. 23 digenjot, 24 tidur. Kita ini yang bagus adalah istiqomah (konsisten),” pesannya. Kajian ditutup dengan doa agar jamaah meraih kemenangan sejati yang ditandai dengan peningkatan ketakwaan, bukan sekadar baju baru di hari raya.




