Mengukur Kedalaman Iman: Tiga Syarat Menjadi Mukmin Sejati Menurut Kitab Nashaihul Ibad

MALANG — Berpredikat sebagai seorang Muslim secara identitas formal belumlah cukup untuk menggaransi kualitas spiritual seseorang di hadapan Allah SWT. Terkadang, keislaman seseorang tidak selalu berbanding lurus dengan keimanannya, terutama ketika dihadapkan pada realitas kehidupan yang penuh dengan dinamika dan ujian.

Menyoroti problematika spiritual tersebut, Dr. Nur Hasan, M.Ed., dalam mimbar “Mutiara Hikmah” di Masjid Kampus Universitas Islam Malang (UNISMA) pada Rabu (22/4/2026), mengajak civitas akademika untuk melakukan introspeksi diri. Melalui telaah mendalam dari Kitab Nashaihul Ibad, beliau membedah sebuah riwayat dialog bersejarah antara Rasulullah Muhammad SAW dengan para sahabatnya mengenai parameter keimanan yang sesungguhnya.

“Kanjeng Nabi suatu saat pernah bertanya kepada sahabat, ‘Kaifa asbahtum?’ (Bagaimana keadaan kalian saat ini?). Para sahabat menjawab dengan mantap bahwa mereka berada dalam keadaan beriman. Namun, Rasulullah tidak berhenti di situ, beliau menguji klaim tersebut dengan bertanya tentang apa tanda pasti dari keimanan mereka,” papar Dr. Nur Hasan mengawali kisahnya.

Dari dialog tersebut, terungkaplah tiga fondasi psikologis dan spiritual yang menjadi indikator sahnya iman seseorang. Pertama, para sahabat menjawab “Nasbiru ‘alal bala'” (Kami bersabar atas cobaan). Seorang mukmin sejati tidak akan mudah mengeluh (ngeresulo) ketika ditimpa musibah, rasa sakit, atau kesulitan ekonomi, melainkan menghadapinya dengan ketabahan.

Kedua, “Wa nasykuru bir rakha'” (Kami bersyukur atas nikmat). Dimensi ini menuntut kepekaan hati untuk menyadari dan mengapresiasi setiap karunia Allah, sekecil apa pun bentuknya. Mulai dari kesehatan, kesempatan hidup, hingga rezeki yang cukup, semuanya dibalas dengan puji syukur tanpa henti.

Ketiga, “Wa nardha bil qadha'” (Kami ridha terhadap takdir/ketentuan). Puncak dari keimanan adalah penerimaan total terhadap skenario Allah SWT. Kelapangan dada dalam menerima ketetapan Ilahi menghindarkan manusia dari rasa frustrasi dan keputusasaan.

Mendengar ketiga jawaban tersebut, Rasulullah SAW pun memberikan validasinya: “Fa inna imanukum haqqon” (Maka sesungguhnya iman kalian adalah iman yang sebenar-benarnya).

Di akhir pemaparannya, Dr. Nur Hasan memberikan otokritik bagi masyarakat modern. “Jika tiga hal ini melekat pada kita, insyaallah iman Islam kita selamat. Namun, jangan-jangan kita tidak memiliki ketiganya; kena cobaan sedikit langsung mengeluh, diberi nikmat sedikit masih merasa kurang,” tegasnya.

Kajian ini menjadi pengingat yang tajam bahwa keistiqomahan dalam ibadah (seperti rutinitas salat berjamaah) harus bermuara pada terbentuknya mentalitas spiritual yang sabar, bersyukur, dan rida, demi menggapai akhir hayat yang husnul khatimah.