Mengkalibrasi Ulang “Filter” Jiwa: Menjadikan Sholat sebagai Perisai Integritas di Tengah Turbulensi Modernitas
MALANG — Di tengah pusaran era modern yang dibanjiri oleh polusi informasi, dekadensi moral, hingga materialisme ekstrem, manusia rentan mengalami disorientasi nilai. Berbagai patologi sosial—mulai dari korupsi, penyebaran hoaks, hingga konflik horizontal—terus bermunculan. Merespons krisis tersebut, mimbar “Mutiara Hikmah” Universitas Islam Malang (UNISMA) menghadirkan refleksi mendalam dari Ir. KH. Taqijuddin Alawy, ST., MT., yang mendiagnosis bahwa kekacauan perilaku di masyarakat sering kali bermuara pada satu hal: “rusaknya filter” spiritual.
Dalam kajiannya di hadapan jamaah kampus, KH. Taqijuddin menganalogikan ibadah sholat layaknya sistem filtrasi berteknologi tinggi bagi jiwa manusia. Merujuk pada fondasi teologis dalam Al-Qur’an Surah Al-Ankabut ayat 45, disebutkan bahwa sholat memiliki daya cegah (tan-ha) terhadap perbuatan keji (fahsya’) dan mungkar.
“Bayangkan jika kita memiliki filter air. Air yang keruh dimasukkan, keluar menjadi jernih karena kotorannya tertahan,” papar KH. Taqijuddin memberikan perumpamaan teknis yang presisi.
Setiap harinya, manusia modern tak henti-hentinya dihantam oleh “air keruh” berupa ajakan maksiat, godaan harta tak halal, dan penyakit hati. Apabila sholat yang didirikan memiliki kualitas yang paripurna, maka ibadah tersebut akan menyaring segala residu negatif tersebut sebelum mengontaminasi “tangki” hati dan pikiran.

Namun, muncul sebuah paradoks sosiologis: mengapa ada individu yang rutin menunaikan sholat, namun tetap gemar memanipulasi, melakukan korupsi, atau menyakiti sesama?
Menjawab ironi ini, KH. Taqijuddin menegaskan bahwa kesalahan tidak terletak pada ayat Allah, melainkan pada kualitas instrumen filternya. “Mungkin filternya bocor, atau sholatnya hanya sekadar rutinitas jasmani tanpa melibatkan ruh,” tegasnya. Sholat yang kehilangan esensinya tidak akan mampu mereduksi kesombongan ego manusia. Sebaliknya, ketika gerakan rukuk dan sujud benar-benar dihayati sebagai penyerahan diri total, saat itulah mesin filter spiritual bekerja maksimal membersihkan noda kesombongan.
Pesan ini menjadi pengingat strategis bagi institusi pendidikan tinggi. Keunggulan peradaban dan integritas moral tidak bisa dicapai hanya bermodalkan kecerdasan intelektual. Ia membutuhkan individu-individu yang senantiasa menjaga kualitas sholatnya. Sholat bukan sekadar kewajiban ritual, melainkan sebuah kebutuhan eksistensial untuk memproduksi manusia-manusia yang bersih, berintegritas, dan berakhlakul karimah.




