Menembus Dusun Terpencil, Mahasiswa UNISMA yang Tergabung dalam Tim Safari Dakwah Bina Desa Aswaja LDNU Jatim Hidupkan Syiar Islam di Dusun Suru

Nganjuk – Mahasiswa Universitas Islam Malang yang Ditugaskan untuk mengikuti Program Safari Dakwah Ramadhan Bina Desa Aswaja Lembaga Dakwah PWNU Jawa Timur yang dilaksanakan di Kecamatan Ngluyu Kabupaten Nganjuk tidak hanya menyasar wilayah yang mudah dijangkau. Salah satu lokasi yang menjadi perhatian khusus adalah Dusun Suruh, Desa Lengkonglor, Kecamatan Ngluyu, Kabupaten Nganjuk, sebuah dusun terpencil yang berada di kawasan lembah di antara perbukitan dan masih cukup jarang tersentuh kegiatan dakwah secara intensif.
Sejak awal program ini diumumkan, Dusun Suruh memang menjadi salah satu wilayah yang diusulkan untuk mendapatkan perhatian khusus dari para dai.
Wakil Ketua MWCNU Ngluyu, Mujiadi, menyampaikan bahwa dirinya sejak awal memang berharap ada dai yang bersedia ditempatkan di wilayah tersebut.
“Sejak awal ketika ada pemberitahuan akan ada program Safari Ramadhan, saya langsung meminta agar ada dai yang ditempatkan di Dusun Suruh. Sebab di sana memang sangat jarang tersentuh kegiatan keagamaan dan masyarakatnya masih cukup awam dalam pemahaman agama,” ujarnya.
Dusun Suruh sendiri dikenal sebagai salah satu wilayah yang cukup terpencil di Kecamatan Ngluyu. Akses menuju dusun tersebut terbilang tidak mudah karena kondisi jalan yang rusak parah serta letak geografis yang berada di daerah lembah di antara perbukitan.

(Foto Jalan Desa Lengkong Lor – Dusun Suru)
Ketua Ranting NU Lengkonglor, Purnomo, menjelaskan bahwa kondisi geografis inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa wilayah tersebut jarang dijangkau oleh kegiatan dakwah.
“Memang akses ke sana cukup sulit. Jalan yang rusak dan lokasi dusun yang berada di lembah di antara bukit-bukit membuat Dusun Suruh jarang tersentuh kegiatan dakwah. Membutuhkan Waktu Hampir 1 Jam Ketika Ingin Keluar Dari Dusun Tersebut dan Sampai di Jalan Raya, Oleh Karena itu para dai yang bertugas di sana harus benar-benar kuat dan siap menghadapi kondisi lapangan,” ungkapnya.
Meski demikian, masyarakat setempat dikenal memiliki sikap yang ramah dan terbuka terhadap para pendatang, khususnya terhadap para dai yang datang untuk berdakwah dan mengajar agama.
Ketua Ta’mir Musholla di Dusun Suruh, Lasno, mengatakan bahwa masyarakat setempat pada dasarnya beragama Islam, namun sebagian besar masih membutuhkan bimbingan dalam memahami ajaran agama secara lebih mendalam.
“Di sini itu orangnya ya Islam, tetapi banyak yang belum mengetahui ilmunya secara mendalam, bisa dikatakan masih awam. Namun masyarakat di sini sangat senang apabila ada tamu, apalagi seperti para dai yang mau datang untuk berdakwah dan mengajar agama. Warga di sini sangat terbuka,” tuturnya.
Kondisi geografis yang terpencil juga menjadi tantangan tersendiri bagi para dai yang ditugaskan di wilayah tersebut. Selain akses jalan yang cukup sulit, jaringan komunikasi juga sangat terbatas dan suasana dusun yang jauh dari keramaian membuat aktivitas dakwah membutuhkan kesabaran dan ketekunan yang lebih.
Mayoritas masyarakat Dusun Suruh menggantungkan hidupnya dari sektor pertanian, khususnya sebagai petani jagung. Setiap keluarga di wilayah tersebut rata-rata memiliki lahan pertanian jagung dengan luas minimal antara satu hingga dua hektar, bahkan tidak sedikit yang memiliki lahan hingga puluhan hektar.
Pada masa panen seperti saat ini, para petani biasanya menghabiskan hampir seluruh waktunya di ladang, mulai dari pagi hingga sore hari. Kondisi ini membuat sebagian warga sering kali merasa sangat lelah ketika malam hari sehingga tidak selalu dapat mengikuti kegiatan keagamaan secara rutin di musholla.
Mahasiswa Universitas Islam Malang yang juga termasuk Salah satu dai yang bertugas di Dusun Suruh. Luqman, menjelaskan bahwa kondisi tersebut menjadi pertimbangan dalam menentukan pendekatan dakwah yang dilakukan oleh para dai.
“Mayoritas warga di sini adalah petani jagung, dan saat ini memang sedang memasuki masa panen. Banyak warga yang sejak pagi hingga sore berada di ladang sehingga ketika malam hari mereka sudah sangat lelah. Karena itu kami lebih memfokuskan pembinaan kepada anak-anak, terutama dalam pengajaran dasar-dasar agama seperti fiqih dan bacaan sholat,” ujarnya.

(Foto Bersama Anak-anak Setelah Mengaji)
Selain pembinaan kepada anak-anak melalui kegiatan mengajar Al-Qur’an dan penguatan pemahaman fiqih dasar, para dai juga tetap memberikan kajian keagamaan kepada masyarakat yang hadir di musholla pada malam hari Ketika Setelah Sholat Tarawih.
Kajian tersebut lebih menekankan pada pentingnya menjaga ibadah di tengah kesibukan bekerja serta memberikan pemahaman dasar tentang amaliyah dan tradisi keagamaan dalam lingkungan Nahdlatul Ulama.

(Foto Ketika Kultum Setelah Sholat Tarawih)
Selain melakukan kegiatan dakwah dan pembinaan keagamaan, para dai juga turut melakukan kegiatan sosial berupa perbaikan fasilitas musholla yang sudah lama tidak terawat.
Mahasiswa Universitas Islam Malang yang menjadi Salah satu dai yang bertugas di Dusun Suru. Muflih, menyampaikan bahwa mereka bersama masyarakat setempat melakukan kerja bakti membersihkan dan menata kembali lingkungan musholla agar lebih nyaman digunakan untuk beribadah.
“Kami juga melakukan perbaikan pada kamar mandi musholla yang sebelumnya sudah lama tidak digunakan. Tempat wudhu yang cukup kotor kami bersihkan, begitu juga dengan area dalam musholla yang kami tata ulang agar lebih nyaman dan menenangkan ketika digunakan untuk beribadah,” jelasnya.

(Foto Ketika Membersihkan Tempat Wudhu)
Melalui berbagai kegiatan tersebut, para dai berharap keberadaan mereka di Dusun Suruh dapat memberikan manfaat bagi masyarakat, khususnya dalam meningkatkan pemahaman agama serta menumbuhkan semangat beribadah di tengah kehidupan masyarakat pedesaan.




